Ketika Tangan Telah Berbicara

0
113
Foto dari Liputan6.com

Oleh: Fajrul Islam Ats-Tsauri *)

KLIKMU.CO

Dalam sebuah obrolan grup WhatsApp yang penulis ikuti, salah satu rekan sejawat melontarkan sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik. Entah apa motif si penanya. Apa betul memang tak tahu jawabannya. Rasa-rasanya kok tak mungkin, dia sarjana dari fakultas dakwah. Cuma iseng, atau sekadar memancing agar grup tak seperti kuburan.

Kalau itu tujuannya, setidaknya usahanya berhasil memancing penghuni grup ramai berkomentar. Tanggapan yang ia peroleh pun bermacam-macam. Ada yang serius memberikan jawaban, ada yang sekadar guyonan. Penulis sendiri lebih suka menjadi mustami’ (pendengar) pada saat itu.

Seperti ini pertanyaanya: “Ghibah atau gosip itu membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya, tapi bagaimana kalau yang dibicarakan itu Fir’aun, kaum Quraisy dll, tokoh-tokoh yang telah menjadi sejarah? Apa ini termasuk ghibah? Apa orang yang belajar sejarah itu sama dengan ghibah?” Cukup lucu kan pertanyaannya.

Tulisan ini sedang tidak mencoba menjawab pertanyaan teman di atas, namun lebih sebagai sebuah refleksi. Harus kita akui kebiasaan membicarakan kebaikan ataupun keburukan orang sudah menjadi aktivitas keseharian. Bila diibaratkan bergosip itu seperti kebutuhan primer makan nasi bagi orang Indonesia. Sehari makan apa pun tanpa makan nasi terasa ada yang kurang?

Begitu pun dalam interaksi sosial. Dilakukan oleh dua orang atau lebih. Disengaja atau tidak disengaja tiba-tiba ghibah masuk dalam topik pembicaraan. Dalam situasi nonformal seperti nongkrong, di atas mobil, mancing, atau ibu-ibu waktu belanja sayur, kurang nikmat rasanya tanpa dibumbui menghibah. Acara formal seperti diskusi aktivis mahasiswa kemungkinan besar menghibah penguasa, atau sidang anggota DPR yang tak luput menghibah satu sama lain demi memuluskan undang-undang.

Dalam sebuah jurnal psikologi, peneliti mengemukakan bahwasanya rata-rata manusia menghabiskan waktunya selama kurang lebih 52 menit per hari guna membicarakan orang lain atau ghibah. Mereka pun melakukan itu guna berbagi tentang informasi orang-orang yang berada di sekitar mereka. (lassaswin/mojok.co/2019).

Mengapa manusia doyan berghibah? Semua karena insting dasar manusia itu sendiri yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, yang pada akhirnya manusia gemar mengumpulkan informasi. Selain itu, manusia adalah makhluk sosial yang gemar berinteraksi satu sama lain. Ia tidak dapat hidup tanpa orang lain.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan bergosip atau ghibah tak hanya terfasilitasi oleh “lidah tak bertulang”. Tak hanya kapitalisme, gosip juga mengalami revolusi. Semenjak hadirnya media sosial di kehidupan manusia, pola-pola ghibah konvensional seperti “seminar” di tukang sayur dan program gosip televisi pagi-siang-petang pun beradaptasi. Ghibah mulai beralih ke platform virtual. Bergerak melalui grup WhatsApp, Telegram, dan sejenisnya. Peran lidah dalam bergosip perlahan mulai digantikan lentik jari jemari menekan layar smartphone.

**

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha’ pernah berujar: “Orang sekarang itu pada dasarnya sama dengan orang dahulu. Tak ada bedanya. Kalau orang dahulu ke mana-mana harus bawa keris. Kalau enggak bawa rasanya pasti ada yang kurang. Lah, kalau orang sekarang ke mana-mana harus bawa HP. Kalau enggak bawa HP rasanya ada yang kurang.”

Banyak orang merasa cemas jika berjauhan dengan telepon genggamnya (nomofobia). Penelitian yang dilakukan Pew Research Center mengungkapkan, hampir 50 persen orang dewasa melaporkan tidak bisa hidup tanpa smartphone. (Febriansyah/Tirto.id/2019). Smartphone selalu dibawa ke mana pun. Sebelum tidur atau bangun tidur pun orang bisa sangat tergoda untuk mengambil smartphone dan mulai mengamati media sosial atau pesan teks yang ada.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebagai makhluk sosial, manusia terpogram untuk terhubung dengan orang lain. Ponsel memungkinkan kita untuk melakukan kontak dengan orang lain melalui suara, pesan singkat, dan media sosial. Di sini, ponsel memiliki fungsi “memfasilitasi hubungan”.

Smartphone dan media sosial telah merevolusi cara-cara manusia berkomunikasi. Sekarang orang lebih gampang untuk mengungkapkan informasi pribadi dan menanggapi orang lain di jejaring maya, apalagi untuk sekadar bergosip ria. Hal ini begitu berbeda dengan yang dilakukan nenek moyang kita.

**

Siapa yang tak kenal Chrisye? Salah satu penyanyi Indonesia yang melegenda. Lagu-lagunnya tak lekang zaman. Suatu ketika Crisye di tahun 1997 meminta Taufiq Ismail menuliskan syair religi untuk salah satu lagunya. Taufiq menyanggupi. Disepakatilah deadline-nya sebulan. Sesudah seminggu tidak ada ide. Minggu kedua macet. Minggu ketiga belum ada inspirasi. Hingga menjelang hari terakhir masih juga tak ada ide. Taufiq di ambang “menyerah”.

Di malam harinya Taufiq mengaji. Ketika sampai ayat 65 surah Yasin yang berbunyi “Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim wa tukallimuna aidhim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibun”, dia berhenti. Tergugah perasaannya. Segera pesan ayat tersebut dia pindahkan dalam bentuk lirik-lirik lagu. Selesailah lagu itu dan diberi judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Pendek kata, lagu itu sudah berada di tangan Chrisye, namun terjadi hal yang tidak biasa. Setiap Chrisye menyanyikannya, baru dua baris air mata sudah membanjir. Mencoba lagi, menangis lagi, dan begitu seterusnya. Lirik lagu itu begitu merasuk kalbu. Ada kekuatan misterius yang mencekam dan menggetarkannya. Perasaan takut betapa manusia tak berdaya ketika hari itu tiba. “Syair terberat yang pernah saya nyanyikan. Butuh kekuatan untuk menyanyikan itu,” begitu kata Chrisye.

Chrisye bertanya, dari mana inspirasi lirik-lirik lagu itu. Taufiq menjawab lirik-lirik lagu itu dilhami Al-Qur’an. Setelah ditenangkan oleh Taufiq, dengan susah payah akhirnya Chrisye bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Rekaman itu sekali jadi, tak ada take ulang, karena Chrisye tak sanggup menyanyikannya lagi. “Itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik,” pengakuannya.

**

Kembali pada pembahasan tulisan ini. Kita sadar, perlahan tapi pasti sejak kemunculan smartphone dan diikuti munculnya berbagai macam media sosial, model komunikasi verbal kita mengalami pergeseran ke teks. Smartphone dan media sosial bagaikan uang koin yang selalu punya dua sisi yang melekat tak terpisahkan. Smartphone dan media sosial menjadi wasilah bagi kita untuk menebar kemaslahatan atau bahkan kemudaratan semua berpulang kepada kita. Kita tempatkan pada sisi kebaikannya atau keburukannya sepenuhya wewenang kita. Saya akui acap kali kita kalah melawan dorongan nafsu kita.

Di alam kefanaan jari jemari berbicara ternyata bukanlah suatu kemustahilan. Tak perlu menunggu di alam keabadian untuk membuktikannya, walapun “bicara” yang dimaksud tentulah berbeda. Melalui lagu Chrisye kita kembali diingatkan, seluruh yang kita ucap, dengar, lihat, tulis, gambar, rekam, semua akan kembali kepada kita pertanggungjawabannya.

Maka seyogianya kita bijaksana dalam “menutul” smartphone. Betapa banyak sarut-sengkarut dan pecah belah di negeri ini disebabkan ketidakbijaksanaan di dunia maya. Agaknya perlu kita insafi apa yang disampaikan Gus Baha’ pada salah satu majelisnya, “Di akhir zaman sesekali tidur juga bisa dijadikan tirakat untuk mengurangi maksiat.” (*)

*) Penulis adalah guru SD Muhammadiyah 18 dan peneliti di Institut Studi Islam Indonesia (InSID)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here