Ketua Muhammadiyah Surabaya: SKTM Palsu, Ada Gejalah Penyakit Mental Miskin di Masyarakat Kita

0
463
Foto: Dari kanan, Drs. Ezif M. Fahmi Wasi'an, Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag, H. M. Arif An, SH. dan Dr. Muhammad Ridlwan, M. Pd di Pusat Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Surabaya

KLIKMU.CO – Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sejatinya hanya teruntuk mereka yang dianggap tidak mampu atau tergolong miskin. Namun akhir-akhir ini ada sejumlah oknum masyarakat tertentu menyalahgunakan yang sebenarnya awal niat peraturan itu baik. SKTM dipalsukan, hanya semata-mata demi mengejar slot sekolah di negeri, kemudian memiskinkan diri.

Menurut Dr. H. Mahsun Jayadi, M.Ag Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, fenomena semacam itu setidaknya menandakan ada gejala (penyakit) mental miskin di masyarakat kita.

Dia menjelaskan, salah satu faktor gejala mental ‘tempe’ itu dipengaruhi lamanya imperialisme, penjajahan di negeri kita. Sehingga, mental peminta secara berkelanjutan dan terus menerus tanpa disadari masih ada sisa sikap seperti itu.

“Mental miskin ini menjadi endemik tersendiri, sehingga perlu didekontruksi maindset, pola pikir seperti itu,” ungkpanya padahal fakta dilapangan dia tidak seperti itu, tidak begitu misikin.

Kata Kyai Mahsun, menganggap dirinya tidak mampu, berarti menujukkan sifat ketidaknerdayaan dirinya, ada sifat inlander, sehingga daya juang orang seperti itu sangat rendah.

“Ketidaknerdayaan ini mengakibatkan tidak mau berkompetisi dalam hidup, sehingga lebih suka diberi, meminta,” imbuh Wakil Rektor UMSurabaya bahwa sesungguhnya hal demikian bukan mental juara. Bagaimana menjadi superioritas, kalau mentalnya saja inlander.

Karena itu, dia menghimbau kepada masyarakat supaya mengubah maindset, pola pikir, dari mental miskin ke mental kaya. Lebih jauh, mental juara.

“Segala sesuatu kan harus diperoleh dengan kerja keras, jadi harus siap berkompetisi sehingga mental peminta dengan sendirinya pupus,” tandas Kyai Mahsun kepada KLIKMU-CO, Jumat (13/7).

Dia menambahkan, dalam perspektif ideologi Muhammadiyah, gerakan yang didasarkan pada filantropis ini mendoktrinasi kepada warganya bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Juga teologi al-Maun yang jadi awal landasan berdirinya persyarikatan inilah yang ditanamkan dalam pendidikan Muhammadiyah.

“Doktrinasi seperti itulah kiranya diberikan di Pendidikan Muhammadiyah, maka secara alamiah sudah merasuk di alam sadar peserta didik, bahwa dalam dirinya sudah tertanam mental kaya,” pungkasnya. (abd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here