Khofifah Apresiasi Model Vaksinasi Lantatur UMSurabaya, Cepat dan Tidak Berkerumun

0
163
Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat melihat vaksinasi lantatur UMSurabaya. (Humas UMSurabaya/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) melakukan kegiatan vaksinasi dengan model Layanan Tanpa Turun (Lantatur) atau popular di sebut Drive Thru. Acara ini dilaksanakan pada Rabu-Kamis, 14-15 September 2021 dengan sasaran mahasiswa, alumni dan masyarakat umum.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa yang ikut memantau vaksinasi itu mengapresiasi model yang digagas UM Surabaya ini. Menurutnya, vaksinasi komunitas berbasis Lantatur ini bisa dijadikan role model oleh komunitas lain dengan memanfaatkan transformasi digital. Segala macam keperluan administratif vaksinasi ditopang dengan teknologi. Sehingga lebih cepat, tidak berkerumun dan efesien.

“Apa yang dilakukan UMSurabaya ini bisa menjadi contoh komunitas lain. Pemprov akan selalu mendukung model-model inovasi tersebut. Pentahelix approach antara government dan kampus sangat penting. Peran dari kampus menjadi sangat penting untuk percepatan agar Covid-19 melandai. Data terbaru menyebutkan bahwa di Jawa Timur Positif rate di angka 1,85,” ujarnya saat meninjau vaksinasi di halaman kampus UM Surabaya pada Rabu (15/09/2021).

Sementara itu, Rektor UMSurabaya Sukadiono menyampaikan bahwa kegiatan vaksinasi ini merupakan komitmen kampus membantu upaya pemerintah dalam percepatan program cakupan vaksinasi sehingga kekebalan komunitas segera tercapai.

“Secara institusi, kami telah mewajibkan semua civitas kampus untuk vaksin. Karena setiap orang yang masuk kampus, wajib menunjukkan kartu vaksin mereka,” ujarnya.

Sukadiono menambahkan bahwa target vaksinasi pada tahap pertama yang dilaksanakan pada 15-26 September sebanyak 2000 dosis jenis vaksin AstraZeneca. Sedangkan tahap kedua yang dilaksanakan tanggal 20-24 September targetnya sebanyak 5.000 dosis dengan jenis vaksin Sinovac.

Ketua Pelaksana Acara Vaksinasi Massal Yuanita Wulandari menjelaskan secara detail bahwa proses vaksinasi yang dilakukan beberapa hari ke depan ini disiapkan dengan analis resiko dan protokol kesehatan yang detal dan ketat.

“Sebisa mungkin pelaksanaan vaksinasi menerapkan managemen resiko yang terukur dan protokol kesehatan yang ketat. Sehingga tidak ada kluster Covid-19 vaksinasi atau resiko berbahaya lain,” ujar Yuanita.

Yuanita juga menambahkan bahwa peserta vaksinasi harus mendaftar di e vaksin yang tersedia di website, isi biodata dan mengisi skrining online, mendownload persetujuan vaksin, dan peserta diwajibkan mendaftarkan diri di aplikasi peduli lindungi. Peserta yang sudah terdaftar akan mendapatkan barcode.

“Jadi, di lapangan petugas hanya mengecek kelengkapan pendaftaran peserta dengan cara cek barcode peserta. Lalu dilakukan pemeriksaan suhu dan tekanan darah, jika sudah memenuhi maka vaksin dapat berikan. Proses ini cepat tidak perlu antri sehingga meminimalisir kerumunan,” pungkasnya. (RF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here