Khutbah Idul Adha 2019 #2: DR.Sukadiono: Membangun Kesadaran Sosial dan Politik di Momentum Idul Adha

0
227
DR. dr. H. Sukadiono, M.M. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur)

KLIKMU.CO

Oleh: Dr.H.Sukadiono*

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd
Jamaah yang dirahmati oleh Allah, hari ini merupakan hari yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terhingga karena kita merayakan hari raya Idul Adha 1440 H. Hari raya terbesar bagi umat Islam, setelah dua bulan sebelumnya kita merayakan hari raya Idul Fithri.

Pada hari ini sekitar tiga juta umat Islam dari beragam suku, bangsa dan ras, dari berbagai penjuru dunia, berkumpul berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah haji, sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya Surah Al-Hajj 27:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Al-Hajj: 27)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd

Jamaah salat Idul Adha rahimakumullah

Jika merujuk pada konteks sosial di Indonesia seharusnya spirit qurban bisa mengantisipasi persoalan sosial di negeri ini seperti ketimpangan sosial yang yang kian melebar. oxfam pernah merilis laporan yang menyatakan bahwa harta 4 orang terkaya di Indonesia mencapai US$ 25 miliar atau setara Rp. 333,8 triliun.

Sedangkan total kekayaan 100000000 Penduduk miskin di Indonesia sebesar US$ 24 miliar atau sekitar Rp. 320,3 triliun. itu artinya kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia sia adalah sama dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin.

Ketimpangan sosial yang terjadi sesungguhnya tak hanya tantangan nasional tapi juga. 1% manusia menguasai 99% hajat hidup manusia lainnya.

Momentum perayaan hari kurban ini seharusnya juga membangkitkan semangat jihad sosial dan jihad politik kita. Jihad selama ini masih memiliki makna negatif dengan bentuk angkat senjata ( maju ke medan perang) atau meledakkan bom, perlu dipulihkan melalui momentum Hari Raya Kurban ini.

Umat Islam yang selama ini masih memaknai ritual ibadah qurban sebagai amalan fiqih saja. Padahal ada dimensi kesalehan sosial dan kesalehan politik dibalik perayaan Idul Adha. Memperbarui kembali makna jihad ini merupakan hal yang sangat penting karena persepsi umat tentang jihad.

Ya itu jihad disandarkan pada hubungan baik dan harmonis antara umat manusia dengan mengandalkan pada keluhuran hati keleluasaan akal pikiran dan komunikasi yang baik. Manusia diajak untuk semakin peduli pada nasib fakir miskin dan pihak-pihak yang lemah.

Dr. Ali syari’ati dalam bukunya “Al-Hajj” mengatakan bahwa Ismail adalah sekedar simbol. Simbol dari segala yang kita miliki dan kita cintai dalam hidup ini. Kalau Ismail nya Nabi Ibrahim adalah putranya sendiri lantas siapa Ismail kita? Bisa jadi diri kita sendiri keluarga kita anak dan istri kita harta pangkat dan jabatan kita. Yang jelas seluruh yang kita miliki bisa menjadi Ismail yang karenanya kita akan diuji dengan itu.

Kecintaan kepada Ismail itulah yang kerap membuat iman kita goyah atau lemah untuk mendengar dan dan melaksanakan perintah Allah. kecintaan kepada Ismail yang berlebihan juga akan membuat kita menjadi egois mementingkan diri sendiri dan serakah tidak mengenal batas kemanusiaan. Allah mengingatkan kenyataan ini dalam firmannya:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

katakanlah: jika bapak-bapak anak-anak saudara-saudara istri-istri kaum keluargamu harta kekayaan yang kamu usahakan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari Allah dan rasulnya dan berjihad di jalannya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.(At-Taubah: 24)

Prof. Dr. musthafha siba ‘I pernah mengajukan pertanyaan menarik yang menggugah hati kita semua :

Akankah seseorang muslim di hari raya ini menjadi sosok egois yang mencintai dirinya sendiri dan mementingkan kepentingan dirinya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain? Ataukah ia akan menjadi pribadi yang mementingkan orang lain, dan kemudian mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri?”

memang manusia cenderung bersikap egois dan mementingkan diri sendiri, Iya melihat kepentingan orang lain melalui kepentingannya sendiri. Namun berkat tuntunan agama seseorang akan mampu menjadikan dirinya mencintai orang lain sehingga ia akan bersedia untuk berkorban demi kepentingan orang lain. Dengan tuntunan itulah maka agama akan mampu meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat dan berbangsa sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

َل يؤمن أحدكم حَّت حيب ألخيه ما حيب لنفسه . رواه البخاري

tidaklah beriman seseorang diantara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana Ia mencintai dirinya sendiri (HR. Buchori).

oleh karena itu dengan melihat keteladanan dan pengorbanan yang telah ditunjukkan oleh seorang Ibrahim ataupun Ismail AS, … apapun yang kita miliki dan kita cintai, maka korbankanlah manakala Allah SWT menghendaki-Nya. Janganlah kecintaan kita terhadap Ismail Ismail itu akan membuat kita lupa kepada Allah. Tentu negeri kita tercinta ini sangat membutuhkan hadirnya sesuai Ibrahim dan Ismail yang siap berbuat untuk kemaslahatan umat meski harus mengorbankan sesuatu yang dicintainya, untuk menyelamatkan rakyat dan bangsa dari kemerosotan dan keterpurukan akibat runtuhnya nilai-nilai dan semangat berkurban, yang kemudian didominasi oleh sikap egois mementingkan diri sendiri keserakahan dan kerakusan oleh sementara orang.

hadirin jamaah salat Idul Adha yang dirahmati Allah !

Ketaatan yang tidak kalah teguhnya dalam menjalankan perintah Allah adalah ketaatan yang ditunjukkan oleh Ismail AS. Untuk memenuhi tugas bapaknya Nabi Ibrahim AS pertanyaan yang timbul adalah:
Kenapa Ismail seorang anak yang masih belia Rela menyerahkan jiwanya? Bagaimanakah Ismail mampu memiliki kepatuhan yang begitu tinggi? Sesungguhnya Nabi Ibrahim AS senantiasa berdoa :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh ( Ash-Shaffat: 100).

Maka Allah mengabulkan doanya:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

maka kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar“. (Ash-Shaffat: 101).

Inilah rahasia kepatuhan Ismail yang tidak lepas dari peran orang tuanya dalam proses pembimbingan dan pendidikan. Sosok ghulamun halim dalam arti seorang yang amat sabar dan yang santun yang memiliki kemampuan kan mensinergikan antara rasio dengan akal budi tidak mungkin hadir begitu saja tanpa melalui proses pembinaan yang begitu panjang. Sehingga dengan Tegar Ismail berkata kepada ayahandanya dengan 1 kalimat yang indah:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“wahai bapakku laksanakanlah Apa yang diperintahkan Allah kepadamu niscaya kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “.(ash shaffat :102)

Ayah mana yang tidak terharu melihat sosok anaknya yang begitu lembut hati dan perilakunya. Keteladanan Ibrahim bisa dibaca dari bagaimana ia mendidik anaknya sehingga menjadi seorang yang berpredikat ‘ghulamun halim’.

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Walillahilhamd

jamaah salat Iduladha rahimakumullah

Kita sadar bahwa kita semua telah berhutang Budi kepada para pendahulu Perintis pejuang kemerdekaan. Yang kita nikmati saat ini adalah hasil perjuangan mereka. Idul Adha di bulan Agustus di hari kemerdekaan ini sepatutnyalah jika kita melanjutkan pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat menyampaikan kepada generasi berikutnya. Iduladha hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah kurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan Ukhuwah pengorbanan cerita semangat mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga keluarga Ibrahim di bumi Indonesia tercinta ini yang layak menjadi contoh tauladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat manusia.

Demikian uraian khotbah kami sampaikan Semoga dapat menjadi tadzkiroh menyadarkan diri kita masing-masing untuk mau berkorban demi memperoleh Allah SWT.., sekaligus untuk kemaslahatan masyarakat bangsa dan negara serta umat manusia pada umumnya. Marilah kita bersama memohon kehadirat Allah SWT Semoga kita senantiasa mendapatkan hidayah serta kekuatan untuk tetap Teguh mempertahankan dan menjalankan nilai-nilai keimanan dan keislaman serta ketaqwaan secara konsekuen sehingga kehidupan ini akan kita jalani bersama dengan penuh kedamaian keserasian serta keselamatan fiddini waddunya hattal akhiroh. Amin ya robbal alamin.

*Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here