Khutbah Idul Adha 2019 #1: Kyai Mahsun Djayadi: Empat Peristiwa di Bulan Dzulhijjjah

0
1194
Foto Kyai Mahsun Jayadi diambil oleh Bintang Ramadhan

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا
أَشْــهَدُ اَنْ لاَ إِلــَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْــهَدُ اَنَّ مُحَــمَّدًا عَـبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَـعَـثَهُ بِالْحَـقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا،
وَدَاعــِيَا إِلَى الْحَـــقِّ بِإِذْنِـهِ وَسِرَاجًا مـُنــِيْـرًا. اَللَّـــهـُمَّ صَــلِّ عَلَـيْـهِ وَعَـــلَى آلــِهِ وَصَحْـبِــهِ
وَسَلّـِمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. فَيَا عِـبَادَ اللهِ ! اتَّقُوا اللهَ حَـقَّ تُـقَاتِـهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ
وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ, قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : وَلِتُكْمِلُوْا العِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلىَ
مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. الله أكـبر, الله أكـبر
وَلله الْحَــمْـــــدُ , أَمـّــا بـَــعْــــــــدُ,

الله اكـبـر, الله اكـبـر, ولله الـحـمـد

Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

Alhamdulillah di pagi hari yang cerah ini kita ditaqdirkan Allah swt bisa berkumpul di tempat yang mulia ini, menyambut datangnya Idul Adh-ha 1440 H. dengan melakukan shalat dua raka’at sunnah mu’akkadah di pagi hari ini. Mudah-mudahan amal ibadah kita senantiasa diterima oleh Allah sebagai amal yang shalih, amin.

Pemilu baru saja usai, akan tetapi kegundahan dan kegelisahan mengenai intoleransi sikap hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara di antara kita masih kita rasakan.

Untuk itu, di hari yang mulia ini, saya mengajak kepada kita semua untuk melakukan kontemplasi yang mendalam dengan uraian khutbah ‘Ied mengenai ; “Mengokohkan Sikap Ta’awun dan Ukhuwah Demi Tegaknya Kebenaran”.

Setidak-tidaknya ada empat peristiwa penting yang menghampiri kita akhir-akhir ini.

Pertama, datangnya bulan Dzul Hijjah menandai dimulainya ritual ibadah haji bagi kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci. Setelah kemarin mereka mwlakukan wuquf di Arofat, kemudian bergerak ke Muzdalifah, maka pagi hari ini mereka berada di Mina untuk mabit dan melempar jamarat.

Di tempat-tempat itu (al-Masya’ir Muqaddasah) mereka para jamaah haji melihat dan menghayati kebesara dan kemaha kuasaan Allah swt, serta merasakan diri ini sebagai makhluq kecil yang tidak ada apa-apanya. Di Arofat misalnya, jamaah haji sedang berkontemplasi bermuhasabah tentang diri masing-masing seberapa banyak dosa kesalahan yang pernah diperbuat untuk memohon ampunan Allah swt,. begitu juga seberapa banyak amalan baik yang sudah dilakukan untuk bisa ditingkatkan pada masa yang akan datang. Seluruh jamaah haji datang dari berbagai penjuru dunia, dari negara yang berlainan bahasanya, berlainan suku bangsanya, berlainan latar belakang budayanya, dan dari berbagai negara yang berlainan system politiknya. Mereka berpakaian sama, di tempat yang sama, dan mengucapkan kalimat yang sama : Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaika Laa Syariika laka Labbaik. Innal hamda Wannikmata. Laka wal Mulka. Laa Syariika Lak. Memang terjadi paradok antara situasi di tanah suci dengan di luar tanah suci.

Dalam realita kehidupan manusia saat ini, memang masih terjadi paradok antara situasi keimanan, dengan perilaku dalam kehidupan. Berapa banyak manusia yang terjerumus ke lembah kenistaan lantaran ketidak mampuannyai mengendalikan syahwat perut dan libido seksnya. Berapa banyak para kaum intelektual di negara kita ini yang rakus harta benda tanpa batas sehingga mereka melakukan korupsi, manipulasi, money laundryng, penyalah gunaan jabatan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pengebirian hukum serta penistaan norma-norma agama? Ujung dari semuanya itu adalah karena ketidak mampuannya mengendalikan gen Biogeneticnya.

Saat ini kita bangsa Indonesia sedang membutuhkan tampilnya pemimpin yang bukan hanya sekedar cerdas otaknya, tetapi juga cerdas mata hatinya. Kita sedang membutuhkan figure pemimpin yang cerdas berkualitas luar dan dalamnya, bukan karena polesan, bukan pula karena pencitraan.

Ukurannya bukan “tampang ndeso” atau “tampang Kutho”. Itu tidak penting. Yang paling penting adalah aqidahnya mantap, cerdas, berkarakter, mandiri, dan tidak mudah terkooptasi oleh kekuatan manapun. pemimpin yang mata hatinya selalu dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Allah swt, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, serta senantiasa mengabdi dan berbakti kepada Allah swt, nusa bangsa dan kemanusiaan.

Pemimpin seperti inilah model pemimpin yang merdeka dan terbaik dalam pandangan Allah.

Sebagaimana firman Allah:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ -١١٠-
Artinya: Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun keba-nyakan mereka adalah orang-orang fasik.

الله اكـبـر, الله اكـبـر, ولله الـحـمـد

Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

Kedua, Ibadah Qurban, merupakan salah satu bentuk persembahan mendekatkan diri kepada Allah swt dengan meneladani seorang Rasul Allah Ibrahim alaihissalam. Qurban binatang ternak yang kita lakukan itu tidak akan sampai ke hadirat Allah baik dagingnya maupun darahnya, tetapi yang bisa sampai adalah kadar ketaqwaannya. jika dilakukan dengan benar, maka akan terbuka jalan untuk menjadi muslim yang baik, menjadi teladan bagi kehidupan rumah tangga, masyarakat dan Negara. Imam al-Ghazali rahimahullah pernah berkata ;
وَلاَ شَكَّ أنَّ الْوَعْظَ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَأَهْلِ اْلقُلُوْبِ ، أَشَدُّ تَأْثِـيْراً مِنْ غَيْرِهِمْ ، فَإِنَّ الْكَلاَمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْقَلْبِ وَقَعَ فيِ الْقَلْبِ ، وَإِذَا خَرَجَ مِنَ الِّلسَانِ حَدَّهُ اْلآذَان
Artinya : “tidak dapat diragukan lagi bahwa keteladanan dari orang-orang yang ikhlash dan bijak, lebih mudah diresapi oleh orang lain, maka sesungguhnya ungkapan itu jika lahir dari hati maka akan tertanam di dalam hati, dan jika keluar hanya dari lisannya maka akan mudah terlupakan.”

Secara historis, pembelajaran seperti ini juga dirasakan oleh Rasulullah Muhammad saw, bagaimana beliau menjadi asing, aneh, bahkan menjadi virus di dalam keluarganya. Ia tinggal di wilayah yang bukan saja membencinya, namun juga menciptakan aksi teror dan bahkan penindasan kepadanya.

Akan tetapi, Allah telah memberikan pelajaran berharga kepadanya yakni membangun Islam dari fondasi kesederhanaan dan tekanan sebagai minoritas. Walhasil, dengan pelajaran dan ujian tersebut, Mekah dan Madinah pada akhirnya menjadi wilayah muslim seutuhnya dan bahkan menjadi model peradaban dunia. Sesungguhnya inilah yang perlu kita lakukan saat ini, termasuk belajar merasakan menjadi minoritas, baik minoritas dari segi agama, keyakinan, praktik ibadah, pemikiran dll. Namun anehnya, di negara manapun umat Islam ketika posisinya minoritas maka perlakuan penguasa cenderung mendzolimi.

Di manapun komunitas ghoiru Islam berada di bawah kekuasaan negeri muslim maka dapat dipastikan mereka hidup aman tenteram. Hal ini terjadi karena sejatinya karakter umat Islam adalah “lemah lembut” mengutamakan kedamaian dan keharmonisan.

Perlu diingat firman Allah swt :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَ نْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ… )آل عمران : 159(
Artinya : “maka karena disebabkan rahmat dari Allah lah maka engkau (hai Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka, dan jikalau engkau bersikap kasar dan berhati keras, maka pastilah mereka akan meninggalkanmu, untuk itu maafkanlah mereka…” (QS. Ali Imran : 159).

الله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.
Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

Ketiga, Ibadah qurban mengandung nilai kepedulian social, kebersamaan, sekaligus Pendidikan. Seorang ulama Mujaddid K.H. Ahmad Dahlan satu abad yang lalu telah menegaskan, bahwa agama islam itu bukan sekadar teori dan retorika, tetapi amalan nyata. Beliau memberi teladan cara berislam dengan amalan nyata.

Gerakannya ini kemudian dikenal dengan nama Muhammadiyah, sebagai Gerakan islam, dan praksis social dengan semangat Altruisme dan Filantropisme.

Allah swt selalu memanggil hamba-hamba-Nya yang beriman agar mau membuka diri dan toleran seperti firman-Nya dalam surat An-nur ayat 22:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ) النور : 22(
Artinya : “Dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur : 22).

Kita diingatkan oleh Allah:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ -١٠- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ -١١-

Artinya: Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

الله اكـبـر, الله اكـبـر, ولله الـحـمـد
Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

Keempat, sepanjang tahun 2018-2019 ini kita mendengar dan melihat melalui media social dan elektronik mengenai aksi kekejaman dan kebrutalan social, mulai dari penjambretan, penyalah gunaan narkoba, kekerasan seksual, dan gaya hidup berkelamin tidak jelas atau yang dikenal LGBT akhir-akhir ini.

Rancangan perda MIHOL (minuman beralkohol) yang tempo hari menjadi heboh di kalangan DPRD Kota Surabaya, kami dari persyarikatan Muhammadiyah telah memberi masukan yang konstruktif di atas nilai-nilai ajaran Islam, dan Alhamdulillah mereka mau mendengar. Kita umat islam termasuk Muhammadiyah melakukan show of force menuntut agar pemerintah menutup semua situs atau youtube pornografi, karena salah satu media yang banyak mempengaruhi perilaku anak-anak kita sekarang adalah situs dan atau youtube porno.

Mudah-mudahan mata mereka melihat, telinga mereka mendengar, hati mereka peka terhadap fenomena ini.

Yang terakhir, yang masih menjadi persoalan umat dan bangsa ini adalah dicabutnya ribuan perda oleh pemerintah karena dianggap menghambat pemasukan devisa Negara atau menghambat masuknya investor asing ke negeri ini. Sayangnya banyak di antara perda yang dicabut itu berkaitan dengan penerapan ajaran agama Islam di masyarakat atau daerah yang memang mayoritas muslim.

Di samping itu, berbagai persoalan global seperti kerusuhan politik yang bernuansa “sara” antara Sunni dan Syi’ah di Yaman saat ini, konflik Suria, juga telah menimbulkan korban yang tidak sedikit bagi masyarakat sipil di negara-negara tersebut. Peristiwa-peristiwa semacam ini semakin menyadarkan kita bahwa sesungguhnya ummat Islam dan negara-negara Islam sedunia “belum cukup kuat” menghentikan berbagai aksi kebrutalan dan anarkhisme di berbagai tempat. Ummat Islam di seluruh dunia harus saling menolong, merapatkan barisan menghadapi kezhaliman. Di samping itu marilah kita terus menerus mengumandangkan Ukhuwah Islamiyah. Karena hanya dengan persatuan dan kesatuanlah semua bisa diatasi secara bersama-sama.

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya menyeru kepada seluruh ummat Islam, dan pemerintah, mari kita hormati ajaran agama Islam termasuk agama lainnya, dan hindari kesombongan dan arogansi. Mari kita selalu waspada jangan sampai terkena murka Allah gara-gara bermaksiat kepada Allah.
فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ أَنجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُواْ بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُواْ يَفْسُقُونَ -١٦٥-
Artinya: Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami Selamatkan orang-orang yang konsisten mencegah tidak kejahatan, dan Kami akan ambil tindakan terhadap orang-orang yang zalim berupa siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik”.

Ada faktor penentu yang sering kita lupakan untuk membangun suatu kekuatan, yakni persatuan dan kesatuan. Kita faham bahwa keberagamaan kita sangat memungkinkan terjadi perbedaan-perbedaan. Tetapi janganlah perbedaan-perbedaan itu menjadi alasan untuk berpecah belah, apalagi bermusuh-musuhan. Sekali lagi mari kita bangun kehidupan yang aman damai, ramah dan menyejukkan. Mari kita tumbuh kembangkan sikap Ta’awun (saling menolong dan membantu sesama).

Mari kita bangun semangat ukhuwah islamiyah di antara sesama umat Islam. Semoga Allah mengijabainya, amin.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here