Khutbah Idul Fitri di Rumahaja #12: Reorientasi Kehidupan yang Berilmu

0
216
Foto diambil dari dongeng geologi

KLIKMU.CO

Oleh: Abdul Haris M.Pdi*

Ayah, Bunda, Istri, anak-anakku dan saudaraku sekalian. Jama’ah shalat ‘Id al-Fitri yang di rahmati Allah SWT. Alangkah indah, lantunan syukur yang selalu terucap di bibir dan perbuatan terpuji yang selalu terukir dalam meluapkan rasa terima kasih kita kepada Allah yang tetap mengiringi hamba-Nya disetiap detik, menit, dan setiap jam hingga akhir puncak hidup untuk kembali kepada-Nya. Begitu juga, shalawat yang selalu terucap atas Muhammad saw, Rasulullah yang telah membangkitkan daya pikir manusia, untuk selalu bertaqwa kepada pencipta-Nya dan kehidupan yang tetap istiqamah di jalan yang lurus atau shirat al-Mustaqim.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Indahnya suasana pagi dengan hembusan angin yang menciptakan suasana sejuk, pancaran cahaya yang menandakan kehidupan baru, akan selalu mengingatkan kita terhadap kebesaran Allah.

Ayah, Bunda, Istri, anak-anakku dan saudaraku sekalian. Perkenankanlah saya akan menyampaikan khutbah yang singkat ini dengan tema “‘Id al-Fitri: Reorientasi Kehidupan yang Berilmu”

Ayah, Bunda, Istri, anak-anakku dan saudaraku sekalian. yang dirahmati Allah SWT Saat inilah kiranya, kesempatan yang berharga dirasakan oleh setiap individu muslim seantero dunia, dalam memanifestasikan kemenangannya setelah menjalani berbagai pendidikan di bulan Ramadhan yang dikenal dengan sebutan syahru al-Tarbiyah. Dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, aktifitas makan-minum, rasa marah, keluhkesah, berhubungan suami-istri, dan segala perbuatan maksiat dihentikan secara serentak oleh individu-individu muslim. Begitu juga, alQuran yang selalu dilantunkan, Qiyam alRamadhan yang selalu ditegakan, ringan tangan yang selalu dikedepankan. Begitulah, seterusnya selama 30 hari penuh yang kita lakukan demi mengharapkan rahmat, ampunan, dijauhkan dari siksa neraka dan mendapat nikmat surga dengan penuh ridha dari Allah SWT.

Tibalah saatnya, kita sampai kepada hari yang penuh dengan luapan kegembiraan dan saling memaafkan sesama manusia, yang ditandai dengan hari dimana manusia kembali berbuka yang dikenal dengan istilah ‘id alFitri, sebagaimana yang termaktub dalam hadis alTurmudzi no 509: َ al-Fitru adalah hari dimana manusia berbuka ”  Analog dengan hadis tersebut, dapat ditarik kesimpulan sederhana bahwa ‘id alFitri dimaknai “suatu hari dimana manusia berbuka kembali (yaitu makan dan minum).

Pada titik inilah kiranya, al-Sayid sabiq mengatakan bahwa “disunahkan makan (baca: sarapan) sebelum shalat ‘id al-Fitri. 4 Dengan berdasar kepada hadis no. 511 yang diriwayatkan oleh Bukhari : Ibn Hajar al-‘Asqalani, Bulug al-Maraa min Adilati alAhkam, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2004), 97. 4 Al-Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunah, Jilid I, (Beirut: Dar alFikr, 1983), 267. – 2 – “ Anas r.a berkata bahwa Rasulullah tidak keluar pada hari fitri sebelum beliau memakan kurma” 4 Selanjutnya al-Kahlani menjelaskan bahwa kata غدو ال berarti beliau keluar diwaktu pagi dan kata فطر ال و ال berarti untuk menunaikan shalat.5 Berdasarkan dari penjelasan di atas, tidaklah salah jika ‘id al-Fitri dimaknai sebagai suatu hari dimana manusia (baca: muslim) berbuka kembali dari hal-hal yang dilarang pada bulan ramadhan (seperti makanminum dan berhubungan suami-istri di siang hari).

Ayah, Bunda, Istri, anak-anakku dan saudaraku sekalian.yang dirahmati Allah SWT Posisi inilah, yang dapat disimpulkan dari makna ‘id al-Fitri yang berdasar kepada beberapa teks hadis di atas. Namun demikian, terdapat makna yang berkembang di tengahtengah masyarakat dewasa ini dengan memaknai ‘id al-Fitri yaitu kembali kepada fitrah (kesucian)- tentunya setelah ditempa selama bulan ramadhan- dengan mendasarkan pendapatnya kepada hadis “bahwa setiap bayi yang dilahirkan itu dalam keadaan suci”ِ

Pada titik inilah, kami mengajak kaum muslimin sekalian untuk memaknai bahwa hal seperti ini sebagai keluasan pemahaman dalam menghiasi khazanah Islam. Oleh karena itu, marilah kita membuka kembali orientasi kehidupan dengan keilmuan atau pengetahuan, baik individu, keluarga, dan kehidupan social-kemasyarakatan yang include dalam atmosfir Islam.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillah alHamd. Sebagai individu, manusia merupakan sosok pertama yang tidak mengetahui apa-apa walau hanya sedikit. Disadari atau tidak, manusia adalah makhluk yang harus mengakui akan kekuranganya sebagai seorang hamba, sebagaimana yang tersirat dalam surat al-Nahl ayat 78: 4 Ibn Hajar al-‘Asqalani, Bulug al-Maram min Adilati al-Ahkam, 98. 5 Muhammad bin Isma’il al-Kahlani, Subul al-Salam, Juz II, (Surabaya: al-Hidayah, 1182), 64. 6 Terjemahan ayat dalam khutbah ini disesuaikan dengan Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahannya

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun”  Melalui Kesadaran ini, kita akan mulai membuka jati diri kita sebagai seorang hamba yang sangat membutuhkah uluran tangan Sang Pencipta, karena memang Allah telah memberikan beberapa alat indra sebagai alat pengetahuan agar hamba-Nya menjadi orang yang bersyukur. Sebagaimana lanjutan dari ayat di atas:

“dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” Menurut ar-Rifa’I, pada saat itulah Allah menerangkan berbagai karunia yang dianugerahi kepada hamba-hamba-Nya yang tidak memiliki kemampuan sedikit pun.

Bahkan, dalam ungkapannya yang sangat terkenal, Aristoteles mengatakan sebagaimana yang dikutip oleh Muthahhari, bahwa

“Barang siapa yang kehilangan satu indra, maka ia telah kehilangan satu ilmu” (man faqada hissan faqad faqada ‘ilman). 8 Sehingga, pantaslah, manusia menjadi hamba yang harus selalu bersyukur kepada Allah disetiap situasi dan kondisi apapun. Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT Jelaslah kiranya, mengapa Allah memintakan pertanggungjawaban atas apa yang telah diberikatannya itu, sebagaimana yang disiratkan dalam surat al-Isra ayat 36,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”

Namun, pada ayat di atas,  menurut hemat kami, kalimat inilah yang bisa dijadikan pegangan untuk mengatakan bahwa pentingnya sebuah ilmu atau pengetahuan dalam membaca berbagai orientasi kehidupan. Terutama kehidupan dewasa ini yang sarat akan disintegrasi moral yang disebabkan oleh hilangnya akal sehat dari kebanyakan manusia di dalam menentukan orientasi hidupnya yang tidak mampu lagi membedakan mana perbuatan yang halal dan haram. Seolah-olah membuktikan sabda Rasulullah pada 14 abad yang lalu telah mengatakan bahwa “akan datang suatu zaman dimana manusia tidak mampu menbedakan lagi perbuatannya mana yang halal dan haram”. Tentunya, dengan semangat ilmu-lah kita akan mampu menbaca rahasia-rahasia yang Allah firmankan dan Rasulullah sabdakan. Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT Dalam al-Quran, Kata “ilmu” dengan kata derivasinya disebutkan sebanyak 95 kali dan diterangkan sebanyak 843 ayat. 9 Inilah bukti, bahwa Islam benar-benar menganjurkan ilmu atau pengetahuan bagi pemeluknya. Bahkan dengan jelas Allah mengungkapkan kalimat tanya di dalam surat al-Zumar ayat 9,

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama  orang orang yang mengetahui dengan orangorang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”

Mungkin, dengan mata terbuka, kita bisa memperhatikan, betapa bedanya kehidupan seseorang yang dihiasi ilmu dengan kehidupan seseorang yang tidak berilmuhidup tidak teratur, gelisah, keluh-kesah, membuat kerusakan, pertumpahan darah- baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, mapun bermasyarakat. Oleh karena itu, alangkah berharganya sabda Rasulullah yang menggariskan betapa pentingnya sebuah ilmu dalam mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat

“dan siapa yang menginginkan dunia maka dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan akhirat maka dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya (dunia-akhirat) maka dengan ilmu”ِ Bahkan melalui hadis yang lain Rusulullah pun menjelaskan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan alTurmudzi dalam hadis nomor 1388:

“Siapa yang melalui jalan mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.10 Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillah alHamd. Akhirnya, marilah bersama-sama kita bekali kehidupan dunia yang fana ini dengan hiasan ilmu atau pengetahuan yang konferehensif dan utuh. Karena dengan bekal itulah, kaum muslim dewasa ini, akan lebih mengenal  dirinya sebagai hamba Allah dan mengenal Allah sebagai Khaliq-nya (Sang Pencipta).

Pada saat inilah, waktu yang tepat bagi kitasetelah satu bulan penuh dibina melalui ibadah puasa- untuk membuka kembali orientasi hidup kita dengan kehidupan yang selalu dihiasi dengan ilmu. Oleh karena itu, marilah dengan penuh kesegeraan kita mengharap maghfirah atau ampunan Allah dan Surganya yang disiapkan bagi hambanya yang ber-taqwa

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orangorang yang bertakwa”(Q.S. Ali Imran: 133) Begitu pula, dengan bekal taqwa jua lah, Allah akan memberikan solusi dari setiap urusan yang kita lalui di dalam kehidupan,

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (Q.S. al-Thalaq: 2)

Ayah, Bunda, Istri, anak-anakku dan saudaraku sekalian.Demikianlah khutbah yang singkat ini, mudah-mudahan dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin. Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT Marilah bersama-sama kita saling memberi dan menerima maaf sesama manusia, serta menundukan dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT, Mudah-mudahan Allah selalu menghiasi diri kita dengan ilmu, ketaqwaan, menerima ampunan dan membalas amalan yang kita lakukan.

*Praktisi Hukum Islam, Dosen, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah  Jawa Timr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here