Khutbah Idul Fitri di Rumahaja #9: Idul Fitri di Era Pandemi

0
1592
Foto dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes diambil dari dokumen pribadi

KLIKMU.CO

Oleh: dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes*

Assalamu’alaikum wr wb.

Alhamdulillaahi nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu, wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusina, wa min sayiaati a’maalina, man yahdillaahu falaa mudlillalah, wa man yudl lil falaa haa diyalah, asyhadu anlaa ilaaha illallahu wah dahulaa syariikalahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluhu laa nabiyya ba’dahu. Allahummasholli wa sallim wa baarik’alaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ash haabihi ajma’iin, ammaa ba’du

Allahu Akbar 2X Walillahilhamdu

Istri dan anak-anakku yang dirahmati Allah SWT. Ramadhan dengan ibadah utamanya puasa telah kita lewati. Meskipun belum optimal apa yang kita lakukan, harapan kita dapat memperoleh apa yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya kepada siapa saja yang berpuasa Ramadhan, yakni peningkatan ketaqwaan kepada Allah swt dan memperoleh ampunan dosa.

Di era Pandemi Covid-19 ini, banyak pelajaran dan hikmah puasa kita kali ini.Allah mempersatukan kita secara lahir maupun batin. Hal ini belum tentu kita peroleh di Ramadhan lalu. Melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah saat ini, adalah pilihan yang tepat bagi wilayah darurat Covid-19 atau wilayah merah, seperti Sidaorjo, Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya.

Teriring Lantunan Takbir, Tahmid dan Tahlil yang kita gemuruhkan sejak tadi malam, hingga saat ini. Tarawih, Tadarus dan ibadah kita yang lain, tak lain dan tak bukan, agar kita mendapatkan predikat Taqwa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillah Hilhamd.

Istri dan anak-anakku yang dirahmati Allah SWT. Kita perlu paham, kenapa Sholat Ied ini dijalankan di rumah. Di era Pandemi seperti saat ini, dituntut pengetahuan komprehensif untuk menyikapinya. Sudah tidak bisa lagi hanya berdasar Kenikmatan Komunal saja, sebuah kenikmatan di saat melakukan sesuatu secara bersama-sama.

Tapi harus disinergikan dengan Ilmu Kedokteran. Sholat Idul Fitri adalah salah satu rangkaian ritual Lebaran, selain Takbiran dan Silaturrahim (Halal bihalal). Coba kita urai satu per satu.

Pertama. Takbiran: Di mulai sejak terbenam matahari (waktu Maghrib) terakhir Ramadhan sampai akan mulai Khutbah Idul Fitri dan Tidak ada tuntunan harus bersama-sama. Maka kita bisa lakukan di rumah, dengan tetap bergiliran seluruh anggota keluarga melantunkannya tanpa ada satupun syariat yang dilanggar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillah Hilhamd.

Istri dan anak-anakku yang dirahmati Allah SWT. Ritual yang kedua adalah Sholat Idul Fitri yang saat ini kita jalankan. Dari berbagai redaksional hadits, hukumnya adalah Sunnah Muakkad. Dilakukan di Lapangan, yang mengandung syiar kegembiraan. Kecuali jika ada halangan, misal Hujan, maka bisa dilakukan di Masjid. Di Era Pandemi Covid-19 ini, kita perlu melihat Al Baqarah 195:

Wa anfiqụ fii sabiilillaahi wa laa tulqụ bi`aidiikum ilat-tahlukati wa aḥsinụ, innallooha yuḥibbul-muḥsiniin:

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

Di saat kita ngotot untuk berjamaah di lapangan, ibarat kita menjatuhkan diri dalam kebinasaan, karena Virus Corona akan semakin mudah menyebar. Menyangkut penularan Covid-19 yang membahayakan diri maupun orang lain, sebaiknya Sholat di Rumah, karena di saat bertemu dengan orang lain, potensi untuk tertular dan menularkan, akan semakin besar. Selain itu, kita merasa lebih tenang, nyaman dan terhidar dari perasaan was was, cemas atau takut tertular maupun menularkan. Maka, ibadah yang Sunah Muakkad ini, tidak berdosa saat ditinggalkan. Atau boleh dilakukan berjamaah di rumah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillah Hilhamd.

Istri dan anak-anakku yang dirahmati Allah SWT. Yang ketiga tentang Silaturrahim yang memang bermanfaat karena memperpanjang usia dan memperbanyak rejeki, apabila memungkinkan dilakukan. Di saat itu juga ada momen bagi-bagi rejeki sebagai rasa syukur dengan memberi ‘amplop’ berisi uang pada sanak famili. Dilanjutkan dengan makan bersama.

Sekali lagi Kenikmatan Komunal ini, tidak harus dilakukan karena akan bertabrakan dengan protokoler medis, dengan akibat semakin mewabahnya virus ini. Saat Pandemi, Silaturrahim dan Halal bihalal bisa dilakukan decara Virtual dengan menggunakan teknogi yang ada. Via Zoom, Google Meeting, WA, dll, bisa menjadi pilihan. Makan di rumah bersama keluarga, tetap dalam batas wajar, tidak berlebihan, tentu menjadi kenikmatan tersendiri. Yang perlu diperhatikan adalah jangan berlebihan, seperti yang tercantum di surat Al A’raf 31 (menurut ulama salaf adalah sebagai ayat yang mendasari ilmu kedokteran):

kullu wasyrobu wala tusyrifu innahu la yuhibbul musyrifin,

makan minumlah dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan“.

Hampir semua penyakit fisik disebabkan karena terlalu berlebihannya kita mengkonsumsi makanan. Penyakit modern saat ini sebagai contoh gamblangnya. Stroke, Cholesterol, Darah Tinggi, Gagal Ginjal dll. Dengan puasa yang kita lakukan, harusnya semua penyakit yang kita derita bisa berkurang atau bahkan menghilang, bukannya malah parah.

Coba kita introspeksi diri kita masing-masing. Dan bagi2 Rejeki bisa juga dilakukan secara Virtual, melalui Isi pulsa, isi saldo uang elektronik dan uang aplikasi saudara kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillah Hilhamd.

Istri dan anak-anakku yang dirahmati Allah SWT. Selanjutnya marilah kita berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW, ketika ditinggalkan Ramadhan:

Ya Allah janganlah kau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai Ramadhan terakhir untuk kami berpuasa. Jika pun engkau menjadikannya Ramadhan terakhir, jadikanlah kami orang yang mendapat rahmat-Mu, jangan kau jadikan kami orang yang malang. Semoga kita bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun mendatang tanpa disertai Pandemi apapun. Dan Semoga Virus Corona segera diangkat oleh Allah dan disirnakan dari muka bumi ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillah Hilhamd.

Istri dan anak-anakku yang dirahmati Allah SWT.
Di akhir khutbah ini, dengan penuh khusyu’ dan tadarru, kita berdo’a kepada Allah SWT semoga perjalanan hidup kita senantiasa terhindar dari segala keburukan yang menjerumuskan umat Islam. Semoga dengan do’a ini pula, kiranya Allah SWT berkenan menyatukan kita dalam kebenaran agama-Nya dan memberi kekuatan untuk memenangkannya.

Yaa Allah yaa Robb, bantu & bimbinglah kami agar dapat berdoa kepadaMu dengan sepenuh hati & perasaan kami, memasrahkan semua masalah, beban, hambatan, pikiran, jiwa, hati & seluruh diri kami seutuhnya kepada-MU.

Yaa Allah yaa Robb, terangilah hati kami agar semua kesombongan dibersihkan, digantikan dengan cahaya & kasih sayang-Mu.

Yaa Allah yaa Robb, terangilah hati kami agar semua kemarahan dibersihkan, digantikan dengan kelembutan Mu.

Robbi inni audzubika an aslaka maalaysalibihi wailla taghfirli watarhammi akuminal khosirin.

Robbi najjinni minal qouni dzolimin.
Robbana la tudzigh qulubana ba’daidz hadaytana wahablana milla dunqarohmah innaka antal wahab.

Robbana la tua khidznaa inna siina aw akhto’na, Robbana wala tahmil ‘alaynaa isron kama hamal tahu ‘alalladzina mingqoblina, Robbana wala tuhamilna maalaa thoo qotalaanabi, wa’fuanna, waghfirlana warhamna anta maulana fangsurna ‘ala qoumil kafiriin.

Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin

Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hassanah wa qina adza bannar
Subhana rabbika rabbil ‘izzati amma yasifun wa salamun alal mursalin wal hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Semoga ada manfaatnya dan mohon maaf apabila ada sesuatu yang kurang berkenan. Nasrun minallah wa fatkhum qariib wa bashshiril mu’minin. Billahi taufiq wal hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

*Direktur RS Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan Sidoarjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here