Kiai Saad Ibrahim: Memadukan Online dan Offline Itu Perlu, Lebih Bagus jika Masjid Memiliki Radio dan TV

0
253
Dr. H. M. Saad Ibrahim, MA saat sedang menyampaikan materi pada kajian live streaming dirumahnya. (Fajrin Fadlillah/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Tim Fastco Production yang dikelola takmir Masjid At Taqwa Kota Batu menyambangi Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Dr. H. M. Saad Ibrahim, MA di kediamannya, Perumahan Villa Bukit Sengkaling, Malang, untuk melakukan kajian live streaming pada Rabu (29/4/2020).

Kajian live streaming tersebut dilakukan dengan dua sesi sekaligus, dan tiap sesi dilakukan selama 30  menit. Ada dua tema yang dibawakan oleh Saad Ibrahim. Sesi pertama dengan tema “Ramadhan dan Covid-19” dan sesi kedua dengan tema “Puasa dan Mengatasi Covid-19”.

“Rutinitas kegiatan Ramadhan di masjid selalu melibatkan banyak orang, sedangkan sekarang kita sedang menghadapi pandemi Covid-19, yang mengharuskan kita menjaga jarak fisik (physical distancing) untuk memutuskan persebaran virus. Sehingga peran dakwah digital sangatlah penting di kondisi sekarang ini. Dengan dakwah digital seperti kajian live streaming ini, kajian dapat dilihat oleh para jamaah dan masyarakat luas dari rumah masing-masing,” terang Zakki Fitroni, koordinator Produksi Tim Fastco Production.

Kegiatan live streaming yang dilakukan oleh tim Fastco Production milik Muhmmadiyah Kota Batu tersebut mendapat apresiasi dan dukungan dari Kiai Sa’ad Ibrahim. “Saya sangat salut dan mengapresiasi pada Masjid At Taqwa Kota Batu, juga beberapa masjid yang melakukan kegiatan seperti ini, dan yang jauh lebih penting adalah bagaimana membangun mental dan mindset kita agar bisa menyambungkan rohani kita,”ujarnya.

”Tetapi tetap, khotbah dan ceramah harus ada di masjid-masjid yang disaksikan secara langsung dengan tatap muka, karena hal itu bisa menyambungkan rohani kita dengan lebih mantap. Artinya memadukan antara online dan offline itu perlu. Ke depan akan lebih bagus jika masjid ini bisa memiliki radio, TV, minimal bisa disiarkan di wilayah Batu,” tandasnya.

Digitalisasi dakwah juga dijelaskan secara syariat oleh dosen UIN Malang tersebut. “Kalau zaman dulu untuk melakukan syiar Islam, nabi harus mengutus shabat-sahabat seperti Mu’adz bin Jabal, Abu Musa Al Ashari, dan Ali bin Abi Thalib tersebut ke Yaman. Saat ini syiar islam bisa dilakukan dengan digital dan cepat. Makna utusan pada zaman nabi dalam konteks sekarang adalah digital itu sendiri sebagai utusan kita, dan ini jauh lebih efektif, jauh lebih menjangkau keseluruhan pelosok bumi ini, dan kita diajarkan untuk konteks seperti itu,” jelasnya. (Fajrin Fadlillah/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here