Kisah Dosen Penyintas yang Bangkit dari Korona: Covid-19 Jangan Diremehkan, tapi Juga Jangan Paranoid

0
234
Dr Joko Widodo MSi, dosen penyintas Covid-19. (UMM/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Setelah melewati perjuangan yang panjang, Dr Joko Widodo MSi, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjadi penyintas Covid-19, akhirnya sudah sembuh total. Selasa kemarin (9/6/2020) dia menceritakan pengalamannya dalam program UMM Talks yang dipandu Ade Candra.

”Di keluarga saya itu banyak dokter. Anak pertama dokter jantung, anak kedua dokter umum, yang ketiga dokter di rumah sakit Lawang. Jadi, dalam tanda petik, sebenarnya pengetahuan tentang korona dan macam-macam, kita sering diskusi di rumah,” kata dosen Pendidikan Bahasa Indonesia UMM itu mengawali kisah.

Joko menambahkan, suatu saat anak yang bekerja di salah satu rumah sakit mengatakan “kecolongan”. Sebab, ada pasien dirawat yang tidak jujur. “Saya diminta oleh dokter saraf untuk membantu pasien di ICU. Karena kegawatan harus, ada tindakan. Dua atau tiga hari kemudian ada yang tidak beres (dalam diri anak Joko Widodo tadi, Red). Mengalami gejala yang mirip flu. Aku harus ke rumah sakit,” tutur Joko menirukan ucapan anaknya.

Singkat cerita, anaknya dirawat di RS Syaiful Anwar. Akan tetapi, hasil tes belum keluar karena harus menunggu berhari-hari. Pada hari keempat atau kelima, Joko Wid, panggilan akrabnya, menemukan gejala yang sama. Dia merasakan seperti flu dan demam. Ada pusing. Lidah pahit dan tidak enak makan. ”Ini gejalanya seperti Mas (yang sudah positif), ayo ke rumah sakit aja,” katanya menirukan ucapan anaknya yang lain. ”Nah, meskipun belum dipastikan positif atau negatif, rumah sakit itu memperlakukan seperti positif, jadi ditangani secara serius,” jelas Joko.

Tingkatan gejala Covid-19 itu memang berbeda-beda. Joko mencontohkan dirinya dan anaknya. Si anak tingkatannya sampai hampir kesulitan bernapas karena memang bekerja di rumah sakit dan bersentuhan dengan banyak pasien. “Tapi, dia itu saya banggakan karena juga optimistis,” ujarnya. Nah, kalau Joko, gejala paling parah adalah demam sampai dua hari. Selain itu, makan tidak enak dan pahit.

Joko Wid pun merasa bersyukur atas hikmah menjadi penyintas korona. Banyak perubahan hidup dalam dirinya. Salah satunya, Joko menjadi tahu persis kinerja tenaga kesehatan (dokter dan perawat) hingga petugas cleaning service. ”Pagi-sore kayak begitu, bisa psikosomatis. Pikiran sakit, badan ikut sakit,” ucapnya.

Nah, Joko Widodo juga sempat stres berat manakala harus menyesuaikan diri dengan ruangan di rumah sakit. “Saya di tengah. Sebelah sini (kanan) pasang ring, yang sini (kiri) pasien Covid-19 sudah sepuh,” tuturnya. Lalu, 24 jam listrik menyala dan terang benderang, pintu terbuka, dan AC tidak dimatikan. ”Saya sempat mengeluh, tapi akhirnya merasa berdosa. Inilah fasilitas darurat khusus pasien Covid-19,” ujarnya.

Karena merasa tidak kuat atas kondisi rumah sakit itu, atas berbagai pertimbangan, Joko Widodo diizinkan untuk perawatan di rumah. Tentu dengan protap yang sangat ketat. ”Tolong ya, Pak, HP harus 24 jam nonstop, jangan dimatikan. Karena kami harus mengontrol Bapak,” kata pihak dinkes saat itu. “Siap, saya tidak akan lari,” katanya, lantas tersenyum. “Saya percaya pada dinkes yang membimbing kami. Tapi, dinkes juga betul-betul bisa saya percaya mengontrol kami. Sehingga jadwalnya begini-begini itu, saya manut,” terang dia.

Ada satu kata kunci soal perspektif kita terhadap Covid-19 yang timbul dari virus korona jenis baru tersebut. ”Covid-19 itu jangan diremehkan, tapi juga jangan jadi paranoid. Jika begitu, hubungan dengan teman dan tetangga jadi tidak bagus,” tegas Joko. Kalau kita terlalu takut, lanjut dia, kesempatan untuk bangkit akan susah.

Pada akhirnya, Joko Widodo juga berterima kasih kepada para pihak yang telah membantu selama ini. Mulai dokter-dokter UMM hingga jajaran kemahasiswaan. Mereka menanyakan kabar dirinya dan membuatnya tenang. “Saya harus sembuh, saya harus banyak berbagi. Ini berbagi kisah yang ketiga. Orang baru teori, saya sudah mengalami sendiri,” ungkap mantan wakil rektor III itu. (Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here