Kisah Dua Pezina dan Kebijaksanaan Nabi Muhammad dalam Mengambil Setiap Keputusan

0
112
Faith Freedom

Oleh: R. Fauzi Fuadi *)

KLIKMU.CO

Dalam mengambil setiap keputusan, Nabi Muhammad Saw tidak gegabah dan penuh kebijaksanaan terhadap keputusan yang akan diambilnya. Seperti kisah dua pezina yang menyesal seumur hidupnya telah melakukan perbuatan di luar batas agama.

Ma’iz termasuk sahabat Nabi, usianya terbilang muda dan telah menikah di Madinah. Suatu hari, setan mencoba untuk merobohkan imannya. Ia dibuat jatuh hati pada tetangganya sendiri, istri seorang Anshar. Usahanya berhasil, lantas mereka berdua-duaan tanpa diketahui orang. Setan terus membujuk keduanya hingga terjadilah perzinaan. Melihat usahanya berhasil tanpa adanya pemberontakan, setan pergi meniggalkan mereka berdua yang terbuai dalam kenikmatan dunia.

Setelah kejadian itu, Ma’iz menangis, ia menyadari kesalahannya dan membayangkan betapa besar dosa yang telah dipikulnya. Ia semakin takut akan azab Allah. Semenjak itu, hidupnya tak tenang lantaran dikungkung dosa hingga membakar hatinya. Menyadari hudupnya yang serbakalut, akhirnya ia mendatangi Nabi. Tanpa penjelasan awal yang runtut ia langsung menuju pembahasan utama, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah melakukan zina, tolong sucikanlah diriku!” Mendengar permohonan itu, Rasulullah merasa aneh terhadapnya. Beliau pun tak mengacuhkannya.

Ia tetap berusaha mendatangi Nabi dari arah lain seraya tetap memohon kepadanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya diriku telah berzina. Maka tolong sucikan aku!” Melihat keganjilan itu, Nabi Muhammad memintanya untuk kembali, “Pulanglah, mohonlah ampun kepada Allah dan bertobatlah pada-Nya!” Mendengar titahnya, Ma’iz pun melangkah pulang. Namun beberapa langkah kemudian, ia kembali lagi kepada Nabi, dan mengulangi permohonannya. Tapi Nabi tetap menyuruhnya agar pulang dan bertobat kepada-Nya.

Ma’iz telah melakukan permohonan ini lebih dari empat kali, sampai-sampai Nabi Muhammad bertanya kepada para sahabat yang lain, “Apakah dia sakit jiwa?”

“Ya Rasulullah, setahu kami dia baik-baik saja,” salah satu menimpali. “Apakah dia meminum khamar?” Tanya Rasulullah lagi, seorang lelaki berdiri dan mengendus mulut Ma’iz. Ternyata tidak tercium bau khamr.

Lalu Nabi bertanya kepada Ma’iz, “Tahukah kamu, apa zina itu?” Ia menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah mendatangi perempuan yang haram bagiku, seperti aku mendatangi istriku sendiri.”

“Lantas apa maumu dengan mengatakan ini?” Nabi menyelidik, “Aku ingin engkau membersihkanku (menerapkan hukum Allah),” pinta Ma’iz tulus. Maka Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk merajam Ma’iz.

Usai perajaman, jazad Ma’iz disalati, lalu dibawa ke tempat peristirahatan terakhir. Saat melewati lokasi perajaman, tak disengaja beliau mendengar salah seorang dari mereka berbicara pada teman di sampingnya, “Lihatlah orang yang aibnya telah ditutup Allah, namun ia tak membiarkan dirinya kecuali dirajam layaknya anjing.” Mendengar percakapan itu, Nabi sengaja tidak langsung menasihatinya hingga pada momen yang tepat.

Para pengantar jenazah kemudian terus berjalan sampai melewati bangkai keledai yang telah membusuk. Mendapati bangkai itu Nabi memanggil kedua orang tadi, “Mana si fulan dan si fulan?”

“Kami di sini, wahai Rasulullah.” keduanya menjawab bersamaan.

“Turunlah, lalu makanlah bangkai keledai ini!” pinta Rasulullah. Ekspresi mereka tampak heran atas perintah itu, “Siapakah yang bisa memakan bangkai ini wahai Rasul?” tanya salah satu dari mereka.

“Apa yang kalian pergunjingkan tadi itu lebih busuk daripada bangkai itu. Demi zat yang nyawaku berada di genggaman-Nya, bahwa sesungguhnya dia (Ma’iz) kini sedang berada di sungai-sungai surga, menyelam di dalamnya.” Sabda Rasulullah Saw.

***

Di lain hari, seorang perempuan dari daerah Ghamid mendatangi Nabi Muhammad, ia mengakui perzinaannya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, sungguh saya telah berzina, maka kumohon sucikanlah diri ini,” mendengar pengakuannya, Nabi tak serta-merta menjatuhi hukuman. Beliau menyuruhnya pulang, sebagaimana Ma’iz yang beberapa kali disuruh kembali oleh Nabi.

Hingga perempuan itu kembali lagi menghadap Nabi, ia meminta penjelasan atas penolakannya saat itu, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menolak pengakuanku? Mungkin engkau akan menolak pengakuanku yang kedua kali ini sebagaimana yang telah engkau lakukan terhadap Ma’iz,” perempuan itu berhenti sejenak sembari menundukan kepala, “Demi Allah saya hamil!” Perempuan itu menangis terisak, kembali terbayang akan perlakuannya yang diluar batas.

“Boleh jadi kau tak hamil. Pergilah hingga kau melahirkan,” beliau memintanya pulang kembali hingga melahirkan. Perempuan itu pun pulang dengan masih meneteskan air mata penyesalan.

Tak dinyana, perempuan itu benar-benar hamil dan beberapa bulan kemudian ia melahirkan seorang anak. Ia pun kembali menghadap Nabi dengan membawa anak itu. Sesampainya menghadap Nabi, beliau kembali menyuruhnya untuk pulang dan menyusui anak itu hingga tumbuh besar.

Waktu terus bergulir bagai roda pedati, bayi itu telah menjadi seorang anak yang sudah bisa makan sendiri. Dan kini waktunya mendatangi Nabi Muhammad lagi, “Ya Rasulullah, inilah anak saya. Saya telah menyapihnya hingga ia tumbuh besar dan sudah bisa makan sendiri seperti yang engkau lihat saat ini.” Anak itu terlihat sedang asyik memakan sepotong roti.

Mengetahui hal itu, Nabi menyerahkan anak tersebut kepada salah seorang kaum muslimin. Lalu beliau memerintahkan untuk menghukum perempuan itu. Maka digalilah lubang sedalam batas dada perempuan tersebut dan beliau memerintahkan para sahabat untuk merajamnya.

Salah satu sahabat, Khalid bin Walid, membawa batu yang kemudian dilemparkannya ke kepala perempuan tersebut sembari mencerca perempuan tersebut. Mendengar hinaannya, Nabi langsung memperingatkannya, “Janganlah begitu wahai Khalid! Demi Allah yang diriku dalam kekuasaan-Nya, sungguh perempuan itu telah bertobat yang seandainya tobat ini dilakukan oleh pemungut harta yang zalim, tentu dia akan diampuni dosa-dosanya.”

Usai perajaman, Nabi beserta para sahabat mengurus jenazah perempuan itu, mulai dari menyalatinya lalu mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Dalam kedua kisah ini, sesungguhnya Nabi enggan menerapkan hukum zina, meskipun terdapat perintahnya langsung dalam Al-Qur’an.

Oleh karenanya, Nabi Muhammad berulang kali menolak dan meyakinkannya, serta memutuskan sebijak mungkin atas hukuman yang akan diterimanya.

Dinukil dari riwayat-riwayat shahih dan mutawatir

________________________

*) Penulis adalah jurnalis media daring dan pembina khusus jurnalistik di Ponpes Karangasem Paciran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here