Kisah Toleransi Beragama Keluarga Muhammadiyah di Sumatera Utara

0
2176
Fajar Nusantara

Oleh: Dr Hasrat Efendi Samosir MA

(Dosen UIN Sumatera Utara dan Sekretaris PDM Medan)

 

KLIKMU.CO

Adik ayah paling kecil tinggal di Bogor beragama Katolik, namanya Asli Samosir. Saya memanggilnya Pak Uda dan istrinya saya panggil Naguda boru Sihotang salah seorang pengurus gereja yang aktif. Sedang adik ayah yang lain Protestan tinggal di Sibolga (sudah wafat). Keluarga kami sudah lama menerapkan sikap toleransi, masalah agama kami anggap itu domain masing-masing, lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Lalu, adik ayah juga tak pernah menuntut diucapkan selamat hari raya mereka dan tak sedikitpun rasa kasih sayang saya sebagai anak dan beliau sebagai ayah berubah jika bertemu….

Saya memang kalau masalah aqidah agak lebih ketat dan berhati-hati. Mohon maafkan jika saya dianggap kaku dan fanatik. Keluarga kami sangat beragam dalam agama dan kami saling menghormati dan mencintai.

Bagi kami, toleransi itu dilaksanakan sehari-hari dengan tidak mencampuri ibadah, apalagi ikut ritualnya. Kalaupun pesta atau ada acara, maka budaya “tor tor” biasa saja diikuti bersama tanpa membedakan. Hanya saat makan kalangan keluarga yang Nasrani sudah paham makan yang dihidangkan yang dimasak juru masak muslim.

Bahkan, dalam kematian kami juga saling mendatangi untuk memberi support dan kesabaran, sedang sesi ritualnya tidak pernah kami campuradukkan. Intinya, kami punya prinsip ukhuwah terjalin, aqidah terjamin, tidak mencampuradukkan, tidak saling berimpitan karena itu bermakna sinkritisme, yakni perpaduan berbagai agama dan itu tidak toleransi lagi.

Mengutip pernyataan Sidi Ghazalba bahwa toleransi adalah kemampuan untuk bersikap agree in disagrement “setuju dalam perbedaan”. Jadi, bukan pencampuradukan. Toleransi lebih kepada kehidupan sosial bermasyarakat, bukan agamanya yang ditoleransikan, apalagi berpandangan semua agama sama dan benar.

Tentu masing-masing pemeluk agama yakin dengan agamanya, menyatakan agamanya benar itu hal yang dapat dipahami. Tapi, seorang muslim harus berkeyakinan Islam adalah agama yang benar, bahkan diterima di sisi Allah, sebagaimana QS Ali Imran 19, innddina indallahil Islam.

“Agama yang benar di sisi Allah adalah agama Islam”. Sebenarnya jika masing-masing agama mengamalkan agamanya dengan benar, jika kita muslim mengamalkan Islam, maka di sana sudah otomatis melaksanakan toleransi. Sebab, semua agama mengajarkan kebaikan dan kasih sayang.

Sekali lagi, cukup jadi muslim yang baik dan membiarkan serta tidak menggangu orang yang berbeda agama menjalankan keyakinannya. Maka, saudara sudah bertoleransi. Jadi, tidak perlulah ikut kegiatan ritual yang berbeda agama. Saya yakin Islam itu bermakna selamat, sejahtera, aman, berserah diri, sehingga kita pasti bisa memberi aman bagi agama lain dan tidak malah ikut-ikutan kegiatan ritual, kebaktian, bahkan rasa aman itu akan otomatis terwujud.

Karena itu, masyarakat Batak dikenal sangat toleran dan tidak pernah ada masalah SARA. Karena keluarga berbeda agama itu sudah biasa, ditambah ada budaya Dalihan Natolu yang mengajarkan untuk tahu bertutur dan berkeluarga dalam bingkai budaya saling menghormati.

Kearifan lokal (local wisdom) di negeri ini tentang toleransi sudah lama tumbuh subur. Hanya tidak digali dan sering dipolitisasi, termasuk dalam tradisi budaya Batak toleransi sangat dijunjung tinggi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here