Kolaborasi Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat Kunci Sukses Pembelajaran di Era New Normal

0
160
Guru dan karyawan Mudipat mendengarkan penjelasan via daring Alpha Amirrachman, M.Phil., Ph.D. (Anang/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – “Serangan virus korona memberikan dampak yang luar biasa pada tatanan kehidupan sosial ekonomi masyarakat tingkat global, nasional, lokal, bahkan sampai tingkat sekolah,” terang Alpha Amirrachman, M.Phil., Ph.D, sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, pada sesi kedua acara The 6th ACCESS (Academic Enlightening Session) secara daring di Aula Din Syamsuddin Mudipat, Sabtu (20/6/2020).

Pria yang juga menjabat direktur Seameo Seamolec Indonesia itu mengatakan, ada sekitar 1,5 miliar siswa di dunia yang belajar di rumah. Menurut catatan Unesco, kata dia, ada sekitar 1,5 miliar siswa dari 188 negara yang tidak bisa berangkat ke sekolah. Mereka belajar di rumah karena serangan virus korona,” ujarnya.

“Hal ini memaksa kita untuk berubah dari tatanan kehidupan sebelum pandemi Covid-19 ke tatanan kehidupan baru atau new normal. Kalau Pak Abdul Mu’ti lebih suka menyebutnya new reality atau realitas baru,” tuturnya

Menurut Alpha, kondisi new normal yang mengharuskan siswa melakukan pembelajaran jarak jauh membuat guru harus menciptakan inovasi.

“Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada kehidupan masyarakat, termasuk dalam hal pembelajaran. Guru harus bisa menciptakan inovasi dalam pembelajaran agar belajar lebih menyenangkan,” ujarnya

Pemerintah, sambung dia, harus meningkatkan kolaborasi dengan masyarakat dan pihak swasta agar pembelajaran jarak jauh terjangkau semua lapisan masyarakat.

“Internet menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk keberlangsungan pembelajaran jarak jauh. Nah, untuk itulah kolaborasi pemerintah dengan masyarakat dan pihak swasta harus ditingkatkan,” katanya

Alpha menjelaskan, Muhammadiyah telah membentuk tim ad hoc yang bernama Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) untuk membantu pemerintah menangani pandemi Covid-19. Relawan-relawan MCCC telah bekerja luar biasa.

PP Muhammadiyah, menurut dia, melalui Majelis Dikdasmen juga telah melakukan survei bahwa sekolah Muhammadiyah sebagian besar telah melakukan pembelajaran jarak jauh.

“Ketika ditanya aplikasi yang digunakan, mereka menjawab WhatsApp sebanyak 73%, Google Classroom 13%, Zoom 30%,” terangnya

Dia menerangkan, pada awal pandemi sekolah Muhammadiyah gagap menjalani pembelajaran jarak jauh. Mereka menggunakan WhatsApp untuk pembelajaran jarak jauh dengan mengirim tugas-tugas ke siswa

“Akhirnya timbul persepsi dari siswa bahwa pembelajaran jarak jauh itu memberatkan dan membosankan. Ini menjadi tantangan bagi guru agar memaksimalkan media-media online lainnya agar pembelajaran menyenangkan,” katanya.

“Saya sangat yakin guru-guru di sekolah Muhammadiyah bisa melakukan inovasi pembelajaran,” katanya yakin. (Anang/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here