Komisioner KPU Jatim Ini Tantang Kader NA Jadi Penyelenggara Pemilu

0
426
Tantangan Nasyiah: Choirul Anam, S.Pd. dan Dr. Sufyanto, M.Si. saat tampil menjadi pembicara pada acara Soaialisasi Pilgub Jatim 2018 dan Konsolidasi NA se-Jatim di Aula K.H. Mas Mansur Kantor PWM Jatim. (Foto: Rimba)

KLIKMU.CO – Kegiatan sosialisasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim kerap diadakan dalam ruang-ruang diskusi terbuka dengan peserta yang heterogen untuk menghadapi tahun politik saat ini. Namun, di Aula K.H. Mas Mansur Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim itu, agenda sosialisasi Pilgub terasa berbeda karena dipenuhi seragam merah muda dan biru dari kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) se-Jatim, Selasa (1/5).

Aini Sukriah, M.Pd. Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiah Aisyiyah (PWNA) Jatim dalam sambutannya memaparkan, bahwa NA bukanlah organisasi politik. Meski demikian, lanjut Aini, NA tetap membangun kekuatan besar dalam berperan aktif menjadi pemilih yang cerdas untuk menghasilkan pemimpin yang sesuai harapan Persyarikatan dan masyarakat.

“Mari ciptakan Tahun Politik ini dengan menjadi pemilih perempuan yang cerdas. Tujuan utama dalam kegiatan ini, selain untuk berpartisipasi aktif menjadi pemilih perempuan yang cerdas, juga untuk membangun kekuatan besar NA dalam konsolidasi organisasi bersama seluruh Pimpinan Daerah NA se-Jatim,” ungkapnya.

Hadir sebagai pembicara antara lain Dr. Syamsuddin, M.Ag. Wakil Ketua PWM Jatim, Choirul Anam, S.Pd. Komisioner KPU Jatim, dan Dr. Sufyanto, M.Si. Demisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jatim.

Menurut Dr. Syamsuddin, M.Ag. dalam sambutan pembukaan bahwa politik transaksional melahirkan demokrasi yang tidak hanya liberal, namun lebih dari itu, yakni ultra-liberal.

“Ketika yang lain berbondong-bondong memilih, tapi Anda tidak, berarti Anda tidak ikut menjaga keseimbangan alam demokrasi. Ini sebuah dinamika yang harus kita ikuti dalam tataran nilai, bukan tataran praktis,” tandas dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Sementara itu, dalam pemaparannya Choirul Anam, S.Pd. Komisioner KPU Jatim mengajak seluruh kader NA untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan pemilu.

Lebih lanjut, Anam memberikan tantangan kepada seluruh kader NA untuk berani bergabung menjadi penyelenggara pemilu.

“Daripada membaca (berita) hoax-hoax tentang KPU, lebih baik daftar jadi penyelenggara pemilu. KPU Jatim membutuhkan 600.000 petugas TPS (Tempat Pemungutan Suara, red.). Tunjukkan bahwa aktivis Muhammadiyah adalah orang-orang terbaik untuk memilih pemimpin terbaik,” kata Anam memberi tantangan.

Dia menegaskan, terlepas penting atau tidaknya pemilu, halal atau haramnya pemilu, yang harus dipahami ialah tujuan pemilu.

Kata Anam, pemilu adalah menentukan pemimpin dengan jalan damai dan sebagai alat evaluasi pemimpin 5 tahun sebelumnya.

“Jadi mengoreksi pemimpin ya pada saat proses demokrasi itu. Kalau pemimpin tidak menyapa rakyatnya, juga tidak memperhatikan suara rakyat, bisa dikoreksi dalam pemilihan itu. Ini adalah bentuk evaluasi rakyat kepada pemimpin. Silakan menilai dan menentukan pilihan menurut anda terbaik,” pungkasnya. (Rimba/Kholiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here