Kompleksnya Peran PR saat Masa Krisis: Dari Kemampuan Storytelling hingga Jadi Agen Perubahan Sosial

0
391
Suasana webinar dengan 110 peserta dari Jawa, Kalimantan, Lombok, Malang, Sumatera, NTB, dan lain-lain. (Nikmatus Sholikah/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Dalam rangka membahas masa depan profesi public relations yang mengalami perubahan di tengah pendemi Covid-19, Program Magister Ilmu Komunikasi, Jurusan Public Relations Angkatan 2019-2020, Universitas Brawijaya (UB) Malang, mengadakan web seminar atau webinar, Minggu (10/5/2020).

Webinar dengan tema “Masa Depan Public Relations di Tengah Perubahan Dunia Akibat Pendemi Covid-19” itu menghadirkan tiga pembicara, yaitu pakar ilmu komunikasi Dr Antoni, pakar ilmu komunikasi dan public relations Maulina Pia Wulandari PhD, serta praktisi corporate social responsibility (CSR) PT Adaro Indonesia Aan Nurhadi SKM MKes. Webinar tersebut diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang ada di berbagai daerah di Indonesia.

Pakar Ilmu Public Relations (PR) UB Maulina Pia Wulandari menyatakan, sejak kemunculan pendemi Covid-19 akhir November 2019, hingga saat ini banyak perubahan tatanan kehidupan. Diprediksi, setelah pandemi Covid-19, kondisi ekonomi menjadi sulit, banyak perusahaan gulung tikar, dan banyak pekerjaan di sektor informal yang hilang.

”Indeks saham juga akan jatuh, perubahan dalam dunia bisnis menjadi tidak terprediksi, dan kondisi psikologis masyarakat menjadi depresi,” ujarnya.

Pia menuturkan, belum ada kejelasan terkait kapan pandemi virus ini berakhir hingga vaksin ditemukan. Dalam ranah dunia komunikasi, akan terjadi penggabungan yang terpadu. ”Penggabungan dalam bidang manajemen reputasi dan komunikasi pemasaran terpadu. Dunia komunikasi akan melebur kepada bidang-bidang industri kreatif dan public relations akan menjadi tools utama,’’ tandas dosen Ilmu Komunikasi UB tersebut.

Peran Profesi PR saat Pandemi

Pia menambahkan, profesi PR dan marketing akan menjadi alat utama di dunia bisnis. Dunia komunikasi akan lebih banyak digunakan untuk mempercepat laju dunia bisnis dan mengantisipasi krisis di dunia pascapandemi Covid-19. Selama pendemi virus ini berlangsung, kata dia, akan terjadi perubahan besar dalam pola komunikasi pada manusia yang mengandalkan teknologi. Dalam dunia bisnis, perusahaan dan organisasi akan mengalami tantangan baru dalam berkomunikasi dengan publik dan stakeholder-nya, khususnya kendala distorsi informasi karena penggunaan teknologi komunikasi.

”Ada hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk para praktisi humas atau PR, yaitu kemampuan marketing yang melebur dengan kemampuan komunikasi, kemampuan analisis kritis untuk peka dalam memprediksi apa yang terjadi, khususnya dalam mengatasi masa krisis,” katanya.

”Kemampuan membangun pembicaraan dengan cara storytelling atau bercerita serta sikap mental yang proaktif serta familier dengan komunikasi digital,” pungkas wanita yang menempuh program doktoral di University of Newcastle, Australia, itu.

Selanjutnya, menurut Aan Nurhadi, dengan perubahaan situasi saat ini, sejatinya sektor kesehatan memang harus menjadi prioritas utama dalam program CSR seluruh perusahaan di dunia. Pagebluk Covid-19 telah menelan puluhan ribu korban jiwa. Tercatat hingga Senin (9 Mei 2020), jumlah kasus positif Covid-19 terkonfirmasi di Indonesia ada 13.645, 959 meninggal dunia, terdapat 199 negara dan wilayah di hampir seluruh dunia telah melaporkan kasus Covid-19. ”Pada tahun 2010, isu kesehatan belum menjadi prioritas menurut  data GlobeScan terkait prioritas CSR pemangku kepentingan global.

”Karena pada saat itu masalah kesehatan belum terjadi signifikan, namun kini kondisi berbeda. Karena sejatinya yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat menurut Henrik L. Blum adalah pelayanan kesehatan, lingkungan, keturunan, dan perilaku. Pada masa pendemi Covid-19, pengaruh perilaku masyarakat menjadi dominan dan perlu diperhatikan,” kata pria yang bekerja di divisi CSR PT Adaro Indonesia itu.

Aan Nurhadi menjelaskan, salah satu peran profesi PR saat pendemi Covid-19 adalah menjadi agen perubahan sosial yang dapat menggerakkan perusahaan untuk bertindak lebih sebagai modal sosial masyarakat. ”Seperti dapat menjadi tenaga kesehatan dalam penanggulangan Covid-19 dan mengubah perilaku masyarakat untuk aware dengan coronavirus,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan PR dalam memengaruhi perilaku masyarakat, yaitu public policy, komunitas, organisasi, individual, dan pendekatan interpersonal (keluarga, teman, dan media). ”Salah satu pendekatan yang efektif adalah dengan pendekatan interpersonal. Seperti melibatkan tokoh masyarakat dalam memberikan informasi terkait virus dan menggerakkan komunitas-komunitas yang ada di masyarakat,” papar pria asal Pelaihari, Kalimantan, tersebut.

Di sisi lain, dari sektor kajian ilmu komunikasi, selama pandemi banyak penyebaran informasi hoaks. Penilaian masyarakat terkait kelambanan para pemangku kebijakan di banyak negara untuk mengambil keputusan dalam menyikapi pendemi ini juga menambah permasalahan. Untuk itu, peran ilmu komunikasi sangat dibutuhkan, terutama penyampaian informasi yang jelas melalui pers.

”Peran profesi PR harus bisa memberi informasi yang tepat dengan beberapa pendekatan seperti biologi komunikasi, human communicartion, family coomunication, instructional communication, interpersonal communication, political communication, health communication, dan new media. Dari semua pendekatan, pendekatan komunikasi interpersonal perlu dimaksimalkan untuk menginformasikan hal terkait Covid-19 dan pendekatan biologi komunikasi serta komunikasi kesehatan dengan fakta-fakta ilmiah,” ujar pria yang juga menjadi ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UB itu.

 

Setelah Masa Pemulihan

Sementara itu, Antoni berpesan agar kita tak hanya fokus pada komunikasi saat terjadi pandemi Covid-19, namun juga masa recovery atau pemulihan nantinya. Sehingga masyarakat bisa benar-benar memahami tentang informasi Covid-19 secara utuh.

Menurutnya, informasi media dengan model investigasi lebih dalam juga masih diperlukan, meskipun pergerakan wartawan dibatasi untuk memenuhi peraturan physical distancing di tengah pandemi virus korona. ”Mari kita bersama dengan semangat solidaritas masyarakat dalam konteks lingkungan untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Kecermatan dalam memilah informasi juga sangat diperlukan agar tidak terjadi disinformasi pemahaman terkait pandemi Covid-19,” tutur pakar ilmu komunikasi kelahiran Bukit Tinggi tersebut. (Nimatus Sholikah/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here