Komunitas Padang Mahsyar #217: Politik Warga Persyarikatan Utopis atau Realis

0
80
Foto Turba Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya ke Cabang Muhammadiyah Kenjeran diambil dari dokumen pribadi denpeyi

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Siapa dominan, Ibnu Khaldhun atau Niccolo Machiaveli. Dua suhu politik berpengaruh. Sayangnya Politik moral tak pernah menang. Bagus di proses, tapi ada di pinggiran. Apakah pembaitan Abu Bakar ra. sebagai khalifah di saat Ali ra berkabung merawat jenazah nabi saw di rumah Sayidah Aisyah ra itu politik realis atau politik moral.

Belum menemukan kalimat yang tepat atau definisi yang rigid apa politik nilai. Apakah politik nilai dipadankan dengan politik tanpa bea. Sebab bea politik selalu dikonotasikan negatif, buruk atau cacat. Bahkan dipandang haram. Lantas bagaimana dengan kang Sejo, kang Jono, kang Joko di ranting-ranting yang bekerja sebagai buruh tani di kebun-kebun milik Tionghoa atau kuli panggul di pasar atau kuli bangunan di proyek-proyek, hari itu mereka libur dan tidak mendapatkan ganti upah.

Apakah mereka salah jika lebih memilih bekerja dari pada ikutan pesta demokrasi tapi puasa. Pikiran sederhana dari kuli dan buruh yang tak sama dengan PNS dan kelas menengah lainnya yang tetap di gaji meski mbolos kerja. Atau politik yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, lantas untuk apa berpolitik kalau tidak mendapat kekuasaan. Bagaimana cara meraih kekuasaan dengan moral dan nilai yang luhur itu ?

*^^^***
Ibnu Kaldhun atau lengkapnya Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Khalid bin Usman, lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H./27 Mei 1332 M. dan wafat di Cairo pada tanggal 25 Ramadhan 808 H./19 Maret 1406 M. (al-Syaq‘ah, 1988:19).

Dari silsilahnya, keluarga Ibn Khaldun berasal dari Hadramaut (Yaman Selatan). Dari garis keturunan –kecuali ayahnya yang lebih intensif di bidang pendidikan—keluarganya dari pihak ayah merupakan ahli di bidang politik. Dari Hadramaut, keluarga Ibn Khaldun pindah ke Andalusia dan kemudian ke Tunisia pada pertengahan abad VII H.(Syarif, 1978:469).

KHALDHUN menampik stigma politik itu kotor. Baginya politik adalah jalan mulia, bukan sesuatu yang kotor yang harus ditolak, atau diterima karena terpaksa saja. Politik dan kehidupan bernegara adalah sesuatu yang hanya dimiliki manusia saja. Manusia berpolitik karena kelebihannya dengan mahluk lain dalam alam semesta ini.

Tidak ada mahluk lain yang berkehidupan politik dan berkehidupan kenegaraan, selain dari manusia. Karena itu sewajarnyalah apabila kehidupan politik itu dihadapi dengan segi- segi terbaik yang dimiliki manusia. Dan segi-segi terbaik itu biasanya diasosiasikan dengan moralitas yang tinggi dan kehidupan keagamaan yang luhur. Moralitas itu tinggi dan agung, karena dengan itulah manusia memanifestasikan ketinggiannya terhadap mahluk-mahluk yang lain.

Agama itu agung karena ia memberikan ajaran yang paling terpuji yang dapat diterima manusia, sehingga dapat memberikan keselamatan terhadap manusia bukan dalam kehidupan dunia ini saja, akan tetapi juga menjanjikan keselamatan dalam kehidupan yang lebih kekal di akhirat .

Secara esensial, perlunya sebuah negara bagi manusia, menurut Ibn Khaldun, paling tidak dilatarbelakangi dua faktor, yaitu : Pertama, menjamin rakyat untuk hidup berdampingan, tenteram, tenang, serta bersama-sama berusaha saling melengkapi dalam rangka menciptakan berbagai bentuk kebudayaan bagi mempertahankan kehidupannya. Kedua, mempertahankan diri dan komunitasnya dari serangan pihak luar (Khaldun, 1986:397).

Pendek kata, KHALDHUN menawarkan politik idealis tanpa cela. Politik adalah sesuatu yang mulia bila di tangan orang yang baik dan berubah menjadi kotor ketika politik di tangan pencoleng.

*^^****
Tujuan Menghalalkan Cara
Aforisma ini merupakan salah satu warisan Machiavelli bagi dunia politik, dan gara-gara gagasannya dalam Il Principe (Sang Penguasa/The Prince) yang blak-blakan ini, Niccolò Machiavelli dikutuk banyak orang sebagai bajingan tak bermoral. Bahkan pada tahun 1559 hirarki gereja Katolik memasukkan bukunya dalam daftar Indeks sebagai buku yang dilarang dibaca dan diedarkan dalam komunitas gereja Katolik.

Secara garis besar, menurut Machiavelli, seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman dan kekuatan. Karena itu nama Machiavelli, kemudian diasosiasikan dengan politik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, dan para pelakunya disebut Machiavelis sedangkan bukunya sendiri (Il Principe) sering dijuluki orang sebagai “buku petunjuk untuk para diktator”.

*^^*
Khaldhun dan Machiavel ibarat dua mata pisau saling berebut tajam. Entah siapa dominan. Pada akhirnya das sein dan das solen akan membuktikan. Seberapa kuat keduanya bertahan dan menang. Keduanya memberi nasehat bagaimana mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Bagaimanapun politik adalah soal pilihan termasuk hoaks yang lebih disuka ketimbang visi. Nyatanya orang lebih tergerak datang ke TPS dengan iming-iming 100 ribuan ketimbang nasehat bahwa memilih pemimpin muslim itu hukumnya sunah dan berpahala .. ..

*Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar dan Dosen di Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here