Komunitas Padhang Makhsyar #100: Mudik: Cara Cerdas Beragama

0
59
Foto macet saat mudik diambil dari detik Finance

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Macet di semua perjalanan. Motor, mobil, dan bus tumpah ruah. Kendaraan pribadi atau umum sesak penumpang. Seakan lebih panjang deret mobil dibanding ruas jalan. Maka tak heran jika Presiden berkeinginan agar jalan tol segera beroperasi meski kemudian tak sesuai jadwal. Tapi tak apalah semua sudah berusaha agar mudik berjalan baik.

Mudik. Pulang kampung saat Lebaran menjadi tradisi unik. Puluhan juta orang Indoenesia kembali pulang. Bertemu sanak dan handai taulan. Konon maskapai penerbangan menambah hingga 127 ribu. Jadwal kereta api ditambah lima kali lipat. Kapal very berjubel dengan route pelayaran padat. Angkutan darat apalagi. Beberapa yang tinggal di pulau pulau harus rela naik kapal kayu untuk mencapai kapal motor. Dan tak perlu dijumlah berapa milyar liter BBM dibutuhkan. Berapa juta ton beras, minyak, gula, daging, cabai bahkan jengkol dan petai. Ini hari raya orang Indonesia.

Etape di puncak gembira. Usai puasa sebulan. Ditutup dengan hari raya sehari. Ekspresi suka cita ala Indonesia. Renyah dan humanis. Sanak famili di kampung menunggu. Rumah dibersihkan. Halaman ditata rapi. Ayam dipotong, kolam ikan dikuras. Pisang dikupas. Kacang digoreng. Tidak lupa opor ayam dan rebung Menemani Ketupat dan lontong. Indoenesia banget.

*****
Boroskah. Mubadzirkah. Tidak. Ini soal kecerdasan dan kreatifitas. Pelan-pelan saya menikmati dan berdecak kagum. Bangsaku memang cerdas. Penuh kreasi dan inovatif. Semua bisa dilakukan dengan senang. Agar beragama tak hanya bicara soal surga dan neraka. Sahih dan dhaif. Sunah dan bid’ah. Benar dan salah. Hitam putih miskin warna. Agar beragama Penuh warna seperti pelangi.

Tak ada kaitannya dengan ibadah mahdhoh. Mubadzir apalagi bidah. Jangan tergesa menghakimi kalau tak suka. Ini soal cara hidup. Cara cerdas memaknai agama atau sebuah peristiwa. Dan kita jagonya.

Indonesia memang di kenal kreatif. Suka dengan yang simbolik. Halus perasaan dan punya cita rasa tinggi. Termasuk cara beragama dan mengungkap rasa syukur kepada Allah.

Berbagai kreasi dilakukan agar hidup berasa di surga.
Sebut saja ramadhan hingga prosesi hari raya. Tak ada duanya di dunia. Kalau tak percaya silakan puasa dan berhari raya di luar negeri. Kita akan merasakan betapa Indonesia lebih memikat.

Bahkan lebih eksotik dibanding di negeri asalnya sendiri. Sikap keberagamaan yang fleksibel dan lentur dengan lingkungan menjadikan Islam Indonesia kian kaya warna. Memang tidak harus merubah yang mahdhoh tapi juga jangan terlalu alay menanggapi kreasi pada wilayah ghairu mahdhoh.

Tak patut gampang menghukumi. Apalagi kemudian membawa pada wilayah syar’i. Siapa tahu Rasulullah tersenyum dengan suka cita ramadhan yang kita tunjukkan. Dan berkenan dhahar ketupat buatan orang Jawa … insya Allah.

Selamat mudik nikmati macetnya.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here