Komunitas Padhang Makhsyar #103: Konspirasi Membuat Hari Raya Iedain Sepi

0
181
Foto anak anak takbiran membawa obor diambil dari dokumen pribadi Panti Pesantren Muhammadiyah Wiyung

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Rasulullah menyebut hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum. Di hari itu kita diharamkan puasa. Hari bergembira dan bersuka cita. Bukan pesta pora. Tapi juga bukan seperti hari-hari biasa. Ini hari raya sebagai tanda syukur. Allah berikan dua hari raya kepada kita.

Konon Ibrahim as menyembelih 1000 ekor unta. Rasulullah pada haji wada’ berkurban 65 atau 90 ekor unta yang disembelih dengan tangan beliau sendiri kemudian dimasak dan diminum bersama kuahnya.

Bukan berlebihan apalagi disebut mubazir dengan 1000 onta dan 65 ekor onta. Karena tidak dilakukan setiap hari. Saya menyebutnya rehat setelah bekerja setahun penuh. Apa salahnya sehari dan tiga hari tasyrik kita berlibur. Kita sembelih kurban kambing atau sapi kemudian makan dan minum.

***
Belum bisa dipahami jika kemudian ada yang mencoba untuk mengingatkan agar tidak merayakan berlebihan dan takut mubazir. Belum lagi dicap bid’ah hanya karena tak adanya dalil dan uswah dari Nabi saw.

Takbir bersama disebut bid’ah apalagi keliling sambil bawa obor. Makan dan minum daging kurban juga tak boleh karena itu panitia harus urunan beli kue dan nasi bungkus. Beli baju baru dibilang mubazir. Tidak boleh membakar kembang api karena mirip kebiasaan majusi. Bakar mercon dibilang kafir karena menyerupai kebiasaan orang pagan. Menabuh bedhug dan kentongan sudah tak mungkin sebab dibilang bid’ah mirip orang kejawen. Halal bi halal juga tak boleh. Galak gampil apalagi. Bahkan mudikpun dianggap sesat, karena menyusahkan. Lalu apa yang tersisa.

Lalu apa ? Ya jelas sepi. Tak ada beda dengan hari-hari biasa. Hari raya baik iedul fitri dan iedul Adha sepi alias ‘nyenyet”. Kehilangan marwah. Tidak punya greget karena kehilangan keistimewaan. Jangan salahkan bila sebagian kita mencari hari raya lain yang lebih familier: valentine, tahun baru dan hallowen menjadi alternatif. Ini hari raya orang tua, jangan salahkan kalau anak anak dan remaja mulai tak suka dengan Ied.

Hari raya iedain menjadi penuh pantangan. Banyak larangan dengan berbagai alasan. Memang berlebihan(ghuluw) itu tak baik. Termasuk berlebihan melarang ini-itu. Jangan begini-jangan begitu ..

 

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here