Komunitas Padhang Makhsyar #105: Tentang Cicilan Hutang Negara

0
128
Foto orang bayar bank titil diambil dari Yudibatang.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Kang Sejo cemberut. Mukanya kusam. Hatinya gundah. Sudah seminggu nafsu makan-nya berkurang kecuali rokok dan kopinya yang mengalami peningkatan siginifikan. Sulit tidur dan gelisah semalaman. Ia berpikir keras sebab negara punya utang ribuan triliun. Meski Kang Sejo juga tak tahu pasti seberapa banyak uang se-triliunan.

Ia hanya seorang tukang ojek dan kuli serabutan. Dengan upah 20 hingga 50 ribu sehari. Hidup di rumah kontrak bersama seorang isteri dan dua orang anak yang masih sekolah. Yang membedakan dengan kuli serabutan lainnya, Kang Sejo sangat aktif di dunia maya meski hanya mampu beli paketan harian, tapi sudah cukup baginya bisa membully Presiden dan media untuk mendapat banyak informasi tentang utang negara yang katanya luar biasa besar.

Ikut di beberapa grup wa, telegram dan Fb. Aktif posting dan komentari tentang ekonomi dan kondisi sosial politik terkini. Bahkan beberapa kali mengkritik Presiden yang katanya tidak pecus mengelola negara. Fasih bicara tentang rupiah yang terpuruk, kenaikan harga bahan pokok termasuk serbuan tenaga asing yang katanya membahayakan stabilitas.

*^^*
Untuk apa negara harus utang, katanya dalam hati, apalagi ribuan triliunan. Belum lagi bagaimana harus mengembalikan. Tak urung Kang Sejo menjadi sensi ,uring-uringan dan gampang marah. Banyak informasi di dapat bahwa negara nya juga bakal bangkrut. Sejo pun jadi gelisah dan sulit tidur. Kemana ia bakal tinggal kalau negaranya bangkrut dan dikuasai asing.

Tiap hari Kang Sejo keras berpikir tentang teknis nyaur utang negara. Termasuk darimana ia bakal dapatkan uangnya. Setiap hari, ber-jam-jam berdiskusi di grup wa dan rajin buat status tentang kondisi negara yang katanya tak lurus dari haluan, tak jarang iapun mencaci dan mencela para ulama yang tak sehaluan atau Presiden yang di bilang lelet, dengan teman sesama kuli termasuk kemungkinan kekacauan dan perang yang harus ia hadapi. Meski tak jelas siapa musuh yang bakal ia perangi.

Para khatib di masjid tempat ia biasa shalat Jumat sudah mengingatkan tentang pentingnya jihad melawan orang munafiq dan kaum kufar. Musuh umat Islam adalah sekumpulan mata sipit alias aseng yang menguasai ekonomi termasuk hegemoni Yahudi dan barat. Sejo juga mendukung boikot Starbucks meski upahnya tak cukup untuk beli, ia juga penganjur boikot dolar meski tak punya rekening di salah satu bank.

*^^*
The Death Expertise buku apik terbit th 2017 tentang matinya kepakaran ditulis oleh Thon Nichols. Menggambarkan tentang masyarakat yang hidup dalam kedunguan (ignorance). Semua mendadak menjadi pakar. Pola baca berubah. Orang lebih suka baca status dan meme ketimbang buku.

Tak ada yang luput dari kritik kang Sejo, mulai kebijakan reklamasi hingga jalan tol. Bahkan Kang Sejo pun pusing tujuh keliling karena ikutan berpikir tentang cara nyaur utang kepada negara-negara kreditur. Hidup memang unik, termasuk Kang Sejo yang kerap mendapat marah dari sang isteri yang ternyata juga pusing melihat pola pikir suaminya. Pungguk rindukan bulan kata isterinya kethus.

Rasulullah saw mengingatkan tentang kawanan Ruwaibidhah. Orang jahil yang suka nimbrung bahas soal negara. Atau masyarakat khawarij yang menjadikan agama sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Kawanan pembully atau pemakan bangkai saudaranya. Karena rajin mencari-cari kesalahan sebagai bahan ghiba dan sebar hoax. Wallahu a’lam

 

 

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here