Komunitas Padhang Makhsyar #106: Nikita Khurschev

0
163
Foto nikita kurschev ketika berpidato diambil dari time

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Di Rusia, pada negeri paling komunis itu Piala Dunia berlangsung seru. Demokrasi tidak menjanjikan kesejahteraan. Tetapi kebebasan. Kebebasan bila diberikan kepada rakyat dengan status ekonomi rendah akan ditukar dengan harga murah.

*^^*
Perdana Menteri Rusia itu berkuasa di negeri paling angker dengan ideologi komunis paling ortodox. “Politisi itu di mana-mana sama, berjanji membangun jembatan dimana tak ada sungai” , katanya ringkas dengan mimik sinis.

KHURSCHEV memang tak sepongah pemimpin komunis pendahulunya yang menjadi guru sekaligus mentornya yang kejam tapi dirindukan banyak orang: Yoseph Stalin, seorang Ideolog yang paling cerdas. Suka tersenyum sekaligus hobi menculik
dan menyekap lawan politik sebelum dibui di Prisson Castle sebuah penjara yang dikenal kejam.

Politisi memang tak segampang yang digambarkan dan dipersepsi kebanyakan orang. Menabalkan dirinya sebagai kepanjangan rakyat jelata dengan banyak mau dan aspirasi. Penguasa hanyalah pelayan dari ribuan kehendak yang disusun dalam daftar aspirasi atau janji politik saat kampanye. Tak tahu siapa mulai bohong duluan.

*^*
Politik hanyalah seni untuk berdusta yang disetujui ramai-ramai. Kemudian diaminkan pada berbagai mimbar podium. Janji tentang syariat Islam bakal tegak, Kesejahteraan dan keadilan merata, menguasai hajad hidup orang banyak bahkan sembako murah, hanya janji klise semua politisi, seperti mau bangun jembatan dimana tak ada sungai.

KHURSCHEV tak sepenuhnya salah meski ia juga bagian dari politisi yang berjanji membangun jembatan dimana tak ada sungai, sebab rakyat juga tak terlalu antusias saat janji hanya sebatas ongkos angkutan pulang pergi. Rakyat butuh sesuatu yang ‘wah’, janji besar yang tak biasa. Janji yang tak mungkin bisa dipenuhi. Rakyat suka dengan janji bohong yang di ulang-ulang.

Demokrasi tak menjanjikan apapun selain kebebasan yang ditukar dengan kertas suara dan paku dibilik suara dan tinta di jari kelingking. Mungkin Socrates akan terpingkal tertawa dengan demokrasi di jaman yang katanya modern. Jauh lebih pagan dibanding masa Romawi dimana para penggagas demokrasi hidup dan tinggal.

Demokrasi mengalami kemunduran dan tak punya masa depan. Menjelma menjadi industri politik. Pusaran pemilik modal, penguasa dan penjaga keamanan berkelindan dalam kepentingan sama. Dan rakyat tetap berada pada posisi bawah yang ditinggikan untuk di injak, diberi janji untuk diingkari. Diberi posisi untuk kemudian dijatuhkan. Rakyat meski pemilik kekuasaan tertinggi tetap menempati posisi paling bawah pada heararkhy kekuasaan.

*^*
Dan politisi memang ‘selalu berjanji akan membangun jembatan dimana tak ada sungai’, KHURSCHEV hanya hendak mengingatkan agar rakyat tak terlalu banyak harap dengan janji kampanye para politisi. Termasuk untuk tidak percaya dengan dirinya, sebab Para politisi yang terlihat santun saat kampanye bisa saja tiba-tiba berubah menjadi monster yang mematahkan tangan dan kaki di Prisson Castle.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here