Komunitas Padhang Makhsyar #115: Pilkada Serentak: Pesan Singkat PDIP Mulai Ditinggalkan

0
130
Foto broken heart diambil dari freepik

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

20 tahun lalu kurang lebih, awal menjelang reformasi, PDIP pernah menjadi partai oposan paling inovatif saat melawan rezim Soeharto. Partai wong cilik melawan hegemoni Golkar sebagai penopang rezim orba.

Meski sendirian PDIP telah berhasil membuat jagat politik Indonesia yang beku menjadi riuh. Berbagai inovasi dikenalkan dengan cerdik dan populis, mudah diingat dan banyak pengikut. Tak urung jika Presiden Suharto begitu gelisah dan mencemaskan masa depan PDIP yang gemilang.

PDIP sportif saat menjadi oposan. Tidak pernah menyerang secara personal kepada Presiden seperti halnya partai oposan sekarang yang menghalalkan semua cara termasuk mengusik soal soal personal. PDIP menjadi simbol partai nya wong cilik sengan budaya politik populis, bahasa yang mudah dimengerti dan statement politik yang genius. Sebut saja: Simbol tiga jari, Promeg, Pejah gesang nderek Bu Mega, menjadi magnit luar biasa untuk meraup banyak pemilih.

Politik adalah soal bagaimana mencari banyak teman dan merebut hati rakyat. Bukan pidato dengan riuh suara dan applause pada setiap pidato. Politik bukan dari trac record atau deretan gelar.dari universitas populair, Politik demokrasi bermula dari soal paling sederhana: bitingan. Berapa biting bisa di dapat, hanya itu. Abaikan yang lain.

*^^*
Judul tulisan diatas bukan vonis, juga bukan hasil survey, hanya semacam sinyal agar partai besar tak pongah bertindak dan sopan berkata. Kita berada pada sebuah jaman dimana informasi mudah di akses ditempat paling terpencil sekalipun. Para elite partai akan dipantau para konstituennya tanpa kecuali, seakan peparazi menelisik dan melihat semua pernyataan dan prilaku para elite nya.

Elite politik mesti hati hati dalam membuat pernyataan, apalagi dalam bertindak kata. Dunia makin sempit semua bisa transparan dicandra. Ada beberapa indikasi bahwa PDIP mulai ditinggal setidaknya mengalami stagnasi umumnya partai penguasa.

Pertama, Para elite PDIP gagal memerankan diri merubah tampilan politik dari partai oposan tertindas menjadi partai kuat yang berkuasa. Ke dua, PDIP seperti mati gaya kehilangan inovasi seperti saat menjadi oposan. Ketiga. Elite PDIP kerap membuat blunder dengan menyakiti atau menyinggung suasana kebatinan umat Islam sebagai mayoritas. Apalagi semenjak tiadanya Bapak Taufik Kiemas. Ke empat. Pongah. Ke lima, rakyat mulai jenuh, bosan dan cari inovasi baru.

*^^*
Itulah soal besarnya. Meski tidak mudah dilakukan setidaknya menjadi kesadaran kolektif ada benang merah bahwa PDIP adalah partainya wong cilik yang dulu banyak menderita karena dimarjinalkan kini berubah menjadi penguasa. Dalam bahasa rakyat : kacang tidak lupa kulit. Agar substansi sebagai partai wong cilik tetap terjaga meski sudah menjadi penguasa.

Lantas apa yang telah dilakukan setelah menjadi penguasa. Apa ada perubahan signifikan, apakah wong cilik telah berubah nasibnya atau malah sebaliknya atau tetap sama seperti sebelumnya. Inilah pekerjaan besar PDIP sebagai partai penguasa ditagih mampu melakukan perubahan bukan hanya lewat data kuantitatif tapi secara kualitatif menyentuh langsung kehidupan wong cilik. Kebutuhan paling dasar wong cilik cukup sederhana dan mudah yaitu: kembali bisa tersenyum. Itu sudah cukup ….
Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here