Komunitas Padhang Makhsyar #116: Shahih Dahulu Dhaif Kemudian

0
154
Foto air terjun diambil dari idn times

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Ada banyak temuan-temuan baru dalam hal amalan keseharian . Salah satunya keutamaan baca surat Al Kahfi di malam Jumat amalan tak lazim di Persyarikatan setelah sebelumnya kita bersikukuh bahwa semua hari adalah sama, semua ayat Al Quran memiliki ke agungan dan kemuliaan yang sama agar kita tidak deskriminatif memperlakukan ayat ayat Al Quran sebagaimana sebagian besar umat Islam memperlakukan. Begitu kira-kira argumentasi para da’i Muhammadiyah saat memvonis bid’ah pada kawanan pembaca surat Yasin pada malam Jumat. Dan jangan kaget bila Majlis Dzikir yang kita bid’ah kan itu hadistnya juga muttawatir.

*^^*
Siapa sangka hadits tentang doa jelang berbuka ternyata dhaif. Meski hanya doa tapi cukup membuat tak nyaman karena sudah puluhan tahun diamalkan tiba-tiba ada kabar bahwa hadits tentang doa jelang buka puasa yang dengan susah payah dihapalkan itu di vonis dhaif.

Lantas sang mubaligh dengan bangga menyampaikan doa pengganti baru yang katanya lebih sahih. Allahumma Laka Shumtu pun, harus diganti dengan Dhahabat Dhama’u. Yang terakhir ini dibilang lebih sahih dan akurasi perawinya lebih kredibel ketimbang yang pertama.

Masih banyak lainnya salah satunya tentang shalat dhuha. Saat ditanya tentang shalat dhuha dua rakaat yang banyak dilakukan muslimin Ibnu Umar dengan tegas menyatakan bid’ah. Meski Abu Dzar tegas berkata sunah bahkan masuk tiga wasiat yang tak boleh ditinggal.

*^^*
Belakangan muncul lagi perubahan formasi shalat Taraweh. Sementara selisih tentang jumlah keseluruhan belum juga kelar kini kita berikhtilaf tentang formasi. Apakah menggunakan pola 4-4-3 atau 2-2-2-2-2-1.

Tak ada yang bisa jamin bahwa amalan kita hari ini di garansi aman. Apapun bisa terjadi sebab ilmu tak ada yang absolut. Ilmu pengetahuan terus berubah dinamis, apa yang tersembunyi bisa mudah diungkap dengan meriset kembali dengan metodologi yang kian canggih.

Meski Hudzaifah bin Yaman bersikukuh bahwa nabi saw berdiri saat buang kecil seperti halnya Aisyah ra yang juga tak bergeming menyatakan bahwa nabi saw selalu duduk.

*^^*
Tak perlu kaget dan keburu bilang musyrik ketika Khalid bin Walid selalu menyimpan potongan rambut Rasulullah junjunganya itu pada pegangan pedang nya. Sebagai tanda cinta agar merasa selalu dekat dengan nabi saw yang dicintainya.

Pada akhirnya beragama bukan hanya soal benar salah, sunah atau bid’ah tapi ketenangan hati dan pertautan seorang hamba pada Khaliq nya. Maka carilah ketenangan itu dengan cara yang membuat kita bisa tenang … dengan mengingat Allah hati menjadi tenang tenteram

Wallahu a’lam

 


*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here