Komunitas Padhang Makhsyar #118: Haluan Kiri Politik Santri Melawan Sayap Kanan Sekuler

0
181
Foto H.M.Arif An bersama UBN ketika Tabligh Akbar di masjid Ahmad Dahlan Gresik diambil dari dokumen pribadi

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Ketika sebagian umat Islam kaget dan baru siuman bahwa politik adalah bagian dari da’wah Islam yang tidak terpisah. NU telah melakukan banyak di bidang politik. Bahkan ada ormas besar yang mengaku paling modern dengan ribuan amal usaha masih belajar nyoblos di bilik suara, NU sudah berlari kencang dan kader-kadernya telah berhasil memenangi pertarungan politik paling sengit.

Realitas umat Islam terhadap politik tak selamanya sama dan bisa dicandra dengan logika kebanyakan sebab politik adalah soal hasrat. Dan masing-masing kita berbeda. Sebagaimana Islam bisa dicandra dari sisi manapun, ibarat nyamuk hinggap di sebuah cermin besar tak akan bisa melihat cermin secara utuh kecuali yang ada dalam pandangnya, itu pun terbatas.

Menurut Liddle, saat meletus gerakan reformasi 1998 dan Presiden Soeharto tumbang, sebenarnya terdapat peluang untuk membentuk partai berhaluan kiri, namun hal itu tidak terjadi karena sayap kiri di Indonesia diidentikan dengan komunis. Kemunculan parpol-parpol Islam telah menggantikan kekosongan peran sayap kiri itu. Jika ‘kiri’ dipersepsi sebagai yang populis dan memihak kepada rakyat bukan sebaliknya.

Guru Besar ilmu politik Univeristas Ohio yang banyak memiliki murid dan kawan di Indonesia ini juga menolak pendapat yang menyatakan bahwa partisipasi Islam dalam politik itu untuk mengimbangi kekuatan militer. Yang sebenarnya terjadi politik Indonesia itu sangat didominasi oleh sayap kanan sekuler.

*^^^*
Persepsi umat Islam terhadap politik memang beragam.

Pertama, Ada yang ekstrim menolak. Menganggap politik sebagai wilayah paling buruk. Hitam penuh intrik. Makanya harus dijauhi tak usah di jamah. Kelompok ini berikhitiar menjauh sejauh jauhnya, seakan wala taqrabu politik in nahu kaana fa khisyatan maa sabiila. Politik adalah jalan syetan maka jangan mendekat.

Kedua. Menganggap politik sebagai tujuan. Kelompok beranggapan bahwa politik adalah soal kekuasaan semata maka segala daya di ikhtiarkan termasuk menjadikan Islam sebagai alat untuk mendapat kekuasaan. Yang kemudian lebih populair disebut politisasi agama. Paham ini Sejatinya tidak memperjuangkan agama tapi menjadikan agama sebagai alat perjuangan. Lahir egoisme personal berbaju agama.

Ketiga. Menjadikan politik sebagai alat untuk berdakwah. Yang terakhir terdengar klise, sebab semua akan mengklaim, meski pada kenyataannya justru sebaliknya. Para Wali Songo adalah model terbaik bagaimana menjadikan politik sebagai alat untuk berdakwah.

*^^*
Model terakhir inilah yang kemudian dicoba diwarisi oleh NU dalam berpolitik sengan segala kelebihan dan kekurangannya. Terbukti NU mampu bermain cantik dalam berpolitik meski harus berjibaku dalam siasah dan konflik yang rumit. Tapi jujur NU telah memainkan peran politik santri yang briliant dan mampu bertahan.

Bagi para santri, agama tak bisa tegak hanya dengan Khutbah pada podium tapi harus melaju bersama kekuatan kekuasaan sebagai penopang. Para ulama dan santri bersinergi membangun kekuatan dan menyatukan persepsi politik yang hendak dimainkan. Dan itu sangat berhasil. Dengan kader-kader politik yang tersebar di berbagai partai politik. Menunjukkan bahwa politik santri telah menunjukkan dinamika yang menggembirakan. Politik santri terbukti kenyal dan fleksibel berhadapan dengan siapapun bukan sebaliknya politik kaku dan hitam putih sebagaimana diperankan sebagian umat Islam yang lain dengan tidak menyebut nama.

Sementara Kader-kader santri telah berhasil memenangi pilgub, pilbub dan pileg pada saat yang sama organisasi lain baru belajar cara nyoblos di bilik suara …
Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here