Komunitas Padhang Makhsyar #119: Islam Di Nusantara

0
114
Foto para pedagang dari gujarat yang merupakan salah satu pintu masuknya Islam ke Nusantara diambil dari Alif id.

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jangan meng-agama-kan budaya. Tapi juga jangan membudayakan agama.

*^^*
Islam Nusantara atau Islam Ber-kemajuan atau apapun Istilah sebenarnya hanyalah sebuah diskursus, menarik dibincang tentang tampilan Islam yang meng-Indonesia dan itu sah saja sebagai wacana berpikir dan tak perlu sensi menyikapi.

Selisih bermula pada ke-khawatir-an kemungkinan kooptasi budaya asing dalam hal ini Arab atas budaya lokal dalam hal ini Nusantara. Lebih tegasnya: Islam Nusantara adalah jawaban atas kian kuatnya pengaruh budaya Arab sebagai penumpang dalam sebaran Islam. Jadi ini bukan perang aqidah apalagi sampai merubah Iman atau ke-Islaman seseorang, ini hanya soal peran kyai tak harus digantikan habib, agar bersarung tidak diganti dengan gamis, songkok tak harus kalah marwah dibanding surban, ketela tak harus berganti kurma, nasi empok tak kalah nyamleng dibanding nasi kapsa atau nasi biryani.

Tapi sayangnya kita kadung salah-fikir (salahfi). Islam identik dengan Arab. Di sini rumitnya. Nabi Muhammad saw jelas orang Arab dari suku Quraisy terbaik. Al Quran juga turun dengan bahasa Arab. Tapi jelas, ke-risalahan yang beliau bawa mengajak semua umat termasuk kita orang Jawa, Madura, Betawi, Bugis, Ambon, Dayak dan banyak lagi yang lainnya untuk bersyahadat. Diseru nabi saw menjadi orang Islam dan bukan mengajak kita menjadi orang Arab. Satu agama yaitu Islam dianut banyak umat: suku, bangsa, ras dengan berbagai budaya, bahasa dan warna kulit. Allah taala tak hendak menjadikan kita satu umat. Islam menjadi ‘bukhul’ antar umat yang berbeda.

*^^*
Sayang kita gampang sensi, cepat marah dan tersinggung padahal dengan saudara seiman yang Insya Allah bakal bertetangga di surga. Kita kehilangan banyak rasa humor ketika ada perbedaan sedikit lantas berkata macam-macam termasuk mudah sebut liberal, sesat, bahkan kafer pada yang kebetulan berbeda padahal kita bersaksi dengan syahadat yang sama, membaca al Quran yang sama dan shalat dengan Kiblat yang sama.

Selain Rasulullah tak ada yang berhak mengklaim sebagai penafsir tunggal yang kebenaran nya absolut. Sehingga berhak mengatakan semua tafsir selain tafsir nya adalah salah atau sesat. Apalagi hanya pada soal yang bersifat furu’. Bukankah yang perlu kita sepakati adalah rukun iman dan rukun Islam sebagai syarat mutlak ke-imanan dan ke-islaman seseorang selebihnya hanya Allah yang berhak menilai.

Namun kita justru sibuk pada urusan kecil dan merepotkan. Ikhtilaf soal baca ushali atau lafal niat, qunut shubuh, bacaan talqin pada orang mati, sampai atau tidaknya transfer pahala, teknis baca shalawat atau jumlah rakaat dan formasi shalat tarweh, lantas kita berpecahan bahkan saling membid’ahkan. Dan terus berkubang seakan Islam gak ada yang lainnya.

*^^*
Tesisnya jelas: jangan membudayakan agama tapi juga jangan meng-agama- kan budaya.

Islam di Arab ta’jil dengan kurma tiga biji. Islam di Nusantara ta’jil dengan tiga mangkuk kolak. Islam di Nusantara shalat mengenakan songkok, Islam di Arab mengenakan surban. Islam di Nusantara pakai sarung, Islam di Arab pakai gamis. Jadi apanya yang salah …

Orang Indonesia memang kreatif termasuk bagaimana meng-internalisasi Islam dalam keseharian. Hanya di Indonesia orang urunan dan kerja bakti bangun masjid, bentuk syukuran menjadi tumpeng-an, mengawali puasa dengan megeng-an dan mengakhiri nya dengan mbruwah, patrol gugah sahur dan masih banyak lainnya.

Selisih bermula dari satu-dua huruf yang tertinggal atau lupa di ucap yaitu: .. di … Islam di Arab. Islam di Mesir. Islam di Nusantara. Islam di Eropa .. .. wong tinggal nambah .. di .. saja kok .. maka semua menjadi indah dan jelas. Jadi kenapa harus ada kata sesat, kafer, munafiq atau apapun yang seharusnya disimpan rapat … Islam itu indah jadi kenapa harus ber-raut cemberut .. senyum dikit doonggggg.

 

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here