Komunitas Padhang Makhsyar #120: Ketika Habaib Menggeser Peran Kyai Lokal

0
1766
Foto ilustrasi walisongo diambil daro babab.net

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Sebagian besar Habaib adalah penyangga utama aswaja. Mereka pengamal Dhiba, Burdah, Manakib dan amalan lain yang kita sebut bid’ah. Simak saja syair Habib Syaikh dalam Syiir NU berikut: … Nggawe Usholi shalat e NU. Adzan pindho jumatan e NU. Nggawe qunut Shubuhane NU. Dzikir bareng amalane NU … pun dengan Habib Rizieq Syihab yang kita banggakan itu … juga pengamal yang sama.

*^^*
Kelompok yang paling tersinggung dengan konsep Islam Nusantara adalah para habaib. Bisa di validasi melalui pendekatan fenomenologis dan interaksi simbolik setidaknya kita dapat men-candra bagaimana pola interaksi antara habaib dan kyai lokal berebut peran dan hegemoni.

Habib adalah komunitas yang menyandarkan nashabnya pada Rasulullah saw, bisa lewat jalur Hasan bin Ali atau Husein bin Ali (Hasan-Husein) dari keturunan yang mulia Sayyidatuna Fathimah Az Zahra inilah mereka dilahirkan.

Dalam perkembangannya para habaib atau keturunan Hasan dan Husein menyebar kemana-mana terutama disebabkan karena mereka kalah dalam berbagai pertempuran dan dimarjinalkan dalam politik kekuasaan, bahkan sayidina Ali ra ayahanda Hasan dan Husein menjadi khalifah paling singkat karena keropos kehilangan legitimasi.

Bermula dari perang antara Ali ra dan Mu’awwiyah yang dimenangkan pasukan Ali ra tapi kemudian Ali ra justru kalah di meja runding, inilah yang kemudian menyebabkan sebagian pengikut Ali ra kecewa dan marah puncaknya mereka justru berbalik makar dan membunuh Ali ra,

*^^*
Tidak cukup sampai di situ rezim Mu’awiyah dan semua dzuriyahnya memusuhi semua keturunan Ali ra bahkan Hasan dan Husein dibunuh dengan keji yang populair disebut tragedi Karbala, peristiwa paling memilukan akibat berita hoax.

Umat berpecahan, karena konflik aliran, manhaj, ideologi, politik, nashab, ekonomi, semua urap menjadi satu, pintu fitnah kubra terkuak semenjak dibunuhnya Sayyiidina Umar bin Khattab demikian paparan Rasulullah saw,
Akan halnya para keturunan Hasan dan Husein mereka menyebar menyelamatkan diri, ada yang ke Hadramaut, India, Asia belakang, sebagian Afrika dan tempat-tempat lain yang aman.

Mereka bersembunyi, hidup berdagang dan menyebarkan agama Islam. Memang tidak ada bukti yang dibawa Ibnu Batutah tentang peran para Habib dalam sebaran Islam di Indonesia meski ada siasah untuk kajian itu sambil mematikan peran para Wali Songo. Bahkan beberapa mencoba meniadakan keberadaan wali songo sebagai absurd dan imajiner.

*^^*
Di lapangan, perang dingin para kyai lokal dan habaib mulai dirasakan, beberapa majelis yang dulu diperani kyai lokal kini berpindah ke tangan para habaib, pun dengan santri berikut semua peran dan status yang disandangnya, ada kecemasan dan kecemburuan tersembunyi meski beberapa kasus mulai ditampakkan dengan fenomena anti Arab misalnya, adalah salah satu dari bentuk protes yang mulai mengemuka.

Dan bentuk formalnya adalah : Islam Nusantara. Sebagai bentuk perlawanan atas budaya Hadramaut dan Arab Jazirah lainnya yang dibawa para habaib. Islam Nusantara adalah perang spesifik antara habaib dan kyai lokal berebut hegemoni lewat jalur budaya berbaju agama.

Ditambah dengan beragam kepentingan yang mulai menginviltrasi, terutama politik dan kekuasaan yang ikut bergelora. Lantas kritik berkembang liar padahal belum paham maksud. Semoga perselisihan segera rampung sengan ending yang baik.
Wallahu a’lam bis-shawwab

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Pegiat Komunitas Padhang Makhsyara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here