Komunitas Padhang Makhsyar #124: Tajassus Politik Vs Politik Tajassus

0
572
Gaya mata melihat diambil dari pixabay

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Percayalah siapapun yang memenangi Pilpres tidak serta merta bisa menjadikan hidup kita lebih baik, lebih sejahtera dan berkeadilan, boro-boro syariat Islam bisa tegak berdiri seperti yang selama ini riuh di bicarakan. Imposible bisa menurunkan harga pertamax menjadi 2 ribu perak per liter, jangan mimpi hanya dengan 5 ribu perak bisa mendapat beras dan gula masing-masing sekilo apalagi bayar utang negara atau bisa berdaulat-mandiri bebas lepas dari pengaruh China dan Barat. Presiden bukan Superman. Ini soal global tidak gampang mengurai, seakan semuanya bisa selesai dengan Pilpres.

*^^*
Tajassus dapat di maknai dengan pekerjaan memata-matai (spionase) atau mengorek-orek berita. Dalam kamus literatur bahasa Arab, misalnya kamus Lisan al-‘Arab karya Imam Ibnu Manzhur, tajassus berarti “bahatsa ‘anhu wa fahasha” yaitu mencari berita atau menyelidikinya. Sementara dalam kamus Al-Bishri, tajassus berasal dari kata “jassa-yajussu-jassan” kemudian berimbuhan huruf ta di awal kalimat dan di-tasydid huruf sin-nya maka menjadi kata “tajassasa-yatajassasu-tajassusan” yang berarti menyelidiki atau memata-matai.

Dari pengertian tersebut, maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa tajassus adalah mencari-cari kesalahan orang lain dengan menyelidikinya atau memata-matai. Dan sikap tajassus ini termasuk sikap buruk yang dilarang.

*^^*
Allah taala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)

Nabi junjungan bersabda:”Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Amirul Mu’minin yang mulai gelisah melihat gelagat ambisi para sahabatnya terhadap ke-khilafah-an berkata: “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.”

Syekh Abu Bakar bin Jabir al-Jazairi rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke 12 dari surat Al-Hujurat, “haram mencari kesalahan dan menyelidiki aib-aib kaum muslimin dan menyebarkannya serta menelitinya”

*^^*
Bukan Jokowi yang jadi sasaran
bullying, tapi sesama kita saling mencari dan menyebar aib karena beda pilihan politik itu yang jadi masalah. Yang kita pilih belum tentu menang taruhlah menang juga belum keruan bisa tegakkan syariat Islam seperti yang kita impikan.

Tapi yang pasti kita sudah merusak syariat Islam dengan cara mengurai kesalahan dan kekurangan para ulama dan orang tua sendiri: Buya Syafiii, Tuan Guru Bajang, Kyai Ma’ruf Amien, ustadz Yusuf Mansyur, ustadz Ngabalin, dan terakhir Kang Yoto hanya karena pilihan politik mereka tidak ber-sesuai dengan pilihan kita lalu mereka kita hujat, kita rendahkan, bahkan kita fitnah dan kita sebar aib dan kurangnya, itulah TAJASSUS. Apapun alasannya itu adalah sikap rendahan, tidak berbudi. .. .. lantas dimana politik nilai yang katanya santun dan ber-keadaban itu …. .. 🙏🙏🙏
Wallahu a’alam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here