Komunitas Padhang Makhsyar #125: Korupsi Agama

0
108
Foto mengapai kesempurnaan Islam diambil dari kata2hikmah0fa.wordpress

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Korupsi agama bermula dari egoisme kelompok. Pelakunya para elite. Bukan uang yang dikorup. Juga bukan fasilitas. Tapi legitimasi pengikut dan ajaran yang dibangun. Untuk mendapat banyak pengikut bisa saja melakukan apapun termasuk “menyembunyikan” syariat yang kebetulan tidak menguntungkan kelompoknya. Korupsi ayat dan hadits dilakukan untuk kepentingan kelompoknya.

Sebut saja Muhammadiyah dan NU, dua ormas besar paling banyak mendapat simpati. Berebut pengaruh. Jumlah pengikut. Dan legitimasi. Maka apapun bisa dilakukan termasuk menggiring opini publik. Mencari pembenar baik dalam Kitabullah dan sunah sahihah untuk merawat manhaj dan atribut kelompok yang dikenhendaki. Puncaknya bisa kita lihat pada saat penentuan awal ramadhan dan Ied al fitri, terlihat upaya membangun hegemoni sekaligus uji pengaruh di depan publik.

Muhammadiyah dengan spirit Alma’uun. Modernitas. Kembali pada Al Quran dan As Sunah. Melawan tbc dalam beragama. Mendapat simpati besar dikalangan terdidik dan menengah kota meski kemudian mulai mengalami pergeseran. Mengusung semangat purifikasi meski kadang berlebihan. Pun dengan NU yang menabalkan kelompoknya sebagai paling ahli sunah wal jamaah. Mencintai rasul dan para ulama. Mengklaim paling banyak pengikut. Pada kenyataannya keduanya berkeras membangun simbol dan batas keberagamaan.

Beberapa amalan yang kerap dijadikan simbol atribut antara lain:
Sedekah untuk orang tua yang sudah meninggal baik dengan waktu yang ditentukan atau tidak, apakah dengan air yang nabi saw menyebutnya sebagai sedekah terbaik, atau uang, makanan masak atau bahan mentah termasuk apakah dilakukan dengan kenduri, kumpul bersama atau dibagi dor to dor, itu hanya soal teknis, itu jelas Sahih bahkan mutawatir. Tapi tidak satupun mubaligh Muhammadiyah berani menyampaikan. Begitu pula dengan majelis dzikir. Jelas berbeda dengan majelis ilmu. Membentuk halaqah, membaca kalimat tahlil, tahmid, takbir, tasbih atau hawqalah sangat dianjurkan. Apakah dibaca bersama atau munfarid, setiap jumat legi atau kemis kliwon, seminggu sekali atau sebulan sekali itu soal teknis. Ini jelas sunah muktabar. Tapi Muhammadiyah tak berani mengaku.

Jumlah rakaat shalat tarawih nabi saw baik di bulan ramadhan atau diluar ramadhan jelas, tidak lebih dari 11 rakaat. Tersebar di 9 atau 11 kitab hadits muktabar. 23 rakaat itu diamalkan masa Umar Ibnul Khattab dan Umar bin Abdul Aziz 36 (32) rakaat juga sangat jelas. Tak perlu diperdebatkan. Bahwa lafal niat dalam setiap ibadah tidak pernah dicontohkan dari nabi maupun kalangan sahabat dan para salafus salih. Sampai kapanpun kita tak akan pernah menjumpai bahwa niat harus dilafalkan entah itu nabi atau para sahabat lainnya. Tapi siapa mubaligh NU berani jujur transparans .. ?

Dan masih banyak lainnya. Termasuk jennggot, isbal, minyak wangi di besar-besarkan seakan belum “nyunah” kalau tidak pelihara jenggot, tidak bercelana cingkrang atau belum melumuri tangan dengan minyak wangi. Juga tidak akan disebut mencintai nabi saw sebelum hadir duduk di majelis Dhiba atau manakib. Meski sudah berdarah-darah shalat malam.

Muhammadiyah bilang bid’ah pada halaqah dzikir dan sedekah pada orang yang sudah meninggal. Padahal haditsnya jelas sahih. Sementara NU bersikukuh tarweh 23 rakaat dan ushali padahal jelas nabi tak pernah lakukan, Semata hanya untuk mempertahankan atribut masing-masing. Ego kelompok mengemuka menjadi rujukan. Yang penting berbeda. Dan lagi lagi umat jadi kurban.

Kejujuran dan transparansi para elite agama ditagih agar umat mendapat penjelasan utuh. Agar korupsi ajaran tidak berlarut. Namun sekali lagi semua berawal dari penanda atau kebutuhan atribut sebuah golongan atau jamaah. Kemudian dibuat stigma : Muhammadiyah anti tahlil. Tidak selametan, tidak membaca ushali ketika hendak shalat. Sementara NU konsisten mengamalkan Dhiba, manakib, baca ushali dan tarweh 23 rakaat untuk mempertegas garis demarkasi siapa NU dan bukan. Yang berjenggot dan bercelana cingkrang adalah salafi Wahaby atau siapapun yang dianggap radikal..Sebuah stigma yang menyesatkan dan mengganggu logika berpikir.

Para ulama bukan-nya berusaha mendekatkan malah sebaliknya saling menjauh dengan pernyataan-pernyataan saling membid’ahkan. Sangat disesalkan jika ulama panutan kemudian berselisih soal furu di depan publik bahkan sering berkata tidak patut bahkan tak seharusnya kalimat-kalimat itu keluar dari lisan yang harusnya di dengar dan ditaati. Bahkan mendengar saja pun saya miris.

Pada saat dimana silang-singkarut bertebaran justru ulama syu’ yang populair dan mendapat tempat. Dan pelan-pelan para wali Allah bergeser menyepi, menyendiri di tengah ramai.. jujur kami orang kecil dibawah, lelah berkonflik, untuk urusan-urusan kecil semacam ushali, qunut, shalawat, tahlil, dhiba …. ishbal atau janggut dan entah apalagi… .. lalu di politisir.

*^^*
Tidak jelas mana duluan. Berbeda dulu, kemudian membentuk golongan. Atau membentuk golongan dulu, baru berbeda. Wallahualam …

 


*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here