Komunitas Padhang Makhsyar #14: Para Mualaf

0
90

KLIKMU.CO – Bukannya tak senang mendapat teman baru berkhidmad dan berjuang di jalan yang seiring. Yang dulunya kita berseberangan karena berada di jalan yang berbeda kini menjadi teman dan saudara seiman seperjuangan.

Yang dulunya pakai qunut sekarang tak lagi pakai. Yang dulunya baca ushali sebelum shalat kini tak lagi. Yang dulunya ahli tahlil kini bergamis dan berjanggut lebat.

Yang dulunya gemar ziarah ke makam para wali kini rajin berkumpul di halaqah. Yang dulu membungkuk ta’dzim ketika bersalaman dengan para guru, kini cukup hanya dengan mengangguk, berdiri sama tinggi duduk sama rendah.

Sebab manusia yang paling mulia adalah yang paling Taqwa. Dan hanya Allah saja yang berhak mendapatkan ke-ta’dziman. Katanya ringkas.

Mencermati prilaku ‘murtad’ memang menarik. Murtad (dalam konteks sosial bukan aqidah). Kerap dikaitkan dengan penolakan atau pembangkangan terhadap kebenaran yang sebelumnya diyakini. Kemudian ‘hijrah’ pada kebenaran baru yang diyakini.

Satu hal yang selalu mengikuti para ‘Mu’alaf'(mu’alaf dalam konteks sosial dan budaya) adalah menceritakan masa lalunya bahkan tidak sedikit yang bercerita tentang kejelekan dan kekurangan (agama, manhaj, aliran, organisasi masa lalunya), dan itu tidak menarik bagi saya. Cengeng dan baper, tak lebih.

Tapi anehnya ada beberapa diantara kita senang mendengarkan.

Sekian lama menjadi aktivis pergerakan, saya tak pernah mengajak siapapun untuk menjadi anggota di tempat saya aktif bergerak. Satu hal yang sangat saya hindari semampu saya.

Saling menghormati dan menghargai jauh lebih utama. Berdamai saling menggenapi, sebab Islam tak bisa ditegakkan sendirian sambil meniadakan yang lain.

Kesadaran untuk tetap bersama dalam perbedaan jauh lebih langgeng ketimbang berebut wilayah teritorial dalam berdakwah. Apalagi berebut jamaah akar rumput. Sambil merendahkan sesama pergerakan sungguh tak patut.

Kita berbeda pandang dalam menegakkan syariat, lantas berpecahan saling menyalahkan, akhirnya syariat tak bisa tegak berdiri sebab sesama kita saling menjatuhkan.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata : Cintailah orang yang kamu cintai sekedarnya saja, karena boleh jadi suatu saat ia menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sekedarnya saja, karena boleh jadi kelak ia jadi orang yang engkau cintai.

Lazimnya sebuah pergerakan sosial, siapapun dapat masuk dan keluar tanpa ikatan. Hanya etika dan tanggungjawab moral yang dibutuhkan.

Hari ini kita mencintai atau dicintai, besuk kita bisa saja di sepak karena sudah tak di suka.

Percayalah ketika suatu saat saya terpaksa harus berpindah menjadi NU saya tak akan merendahkan dengan mengumbar aib dan kekurangan di Muhammadiyah, sebagaimana tidak sukanya saya kepada ‘mualaf’ Muhammadiyah yang merendahkan dan mengumbar kekurangan ‘rumah’ sebelumnya tanpa maklum. Wallahu a’lam

Surabaya, 11 Februari 2018

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here