Komunitas Padhang Makhsyar #141: Masih Banyak Orang Baik Di Negeri Kita

0
542
Foto orang berbagi diambil dari Youtube

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbany Yusuf*

Prabowo itu gagah dan ganteng. Jokowi itu santun, lembut dan njawani katanya pendek. Dan ia hanya tersenyum saat ditanya besuk nyoblos siapa.

*^^*
Kami biasa memanggil Kang Supingi, sahabat dekat Kyai Darmani dan Kapten Sudjarwo. Dua murid Kyai Mohammad Bedjo Dermoleksono (pendiri UMM) yang aktif ke ranting-ranting keluar masuk kampung di awal pergerakan. Ia punya banyak talenta: mulai dari guru ngaji, takmir masjid, khatib, muadzin hingga tukang sapu di masjid Padhang Makhsyar sejak puluhan tahun silam tanpa di upah.

Jenjang kariernya di MUHAMMADIYAH hanya mandeg di pimpinan ranting, tak lagi bisa promosi ke cabang apalagi daerah, karena hanya tamatan sekolah dasar, ia kalah bersaing dengan anak-anak muda lulusan universitas. Dua kali pula Kyai Haji Mohammad Anwar Zain Ketua PWM Jatim saat itu berkunjung, salah satunya meresmikan masjid Padhang Makhsyar.

Sudah tampak sepuh dengan rambut memutih. Wajahnya bersih, kalau ‘ngi-mami’ suaranya khas, kami kerap tertawa saat menjadi makmumnya. Guru ngaji sejak 45 tahun yang lalu, tetap istiqamah meski puluhan metode membaca Quran muta’akhir lalu lalang silih berganti.

*^^*
Ber-Islam itu sederhana. Seperti hidupnya yang juga simpel. Tidak ribet seperti yang hari ini saya rasakan. Seperti yang dipraktikkan kang Supingi selama puluhan tahun. Shalat Subuh, Maghrib dan Isya berjemaah di masjid. Dua shalat lainnya: Dhuhur dan Ashar dilakukan di ladang tempat ia bekerja.

Ba’da maghrib hingga isya mengajari kami membaca Al Quran dan praktik shalat dari buku HPT , sesekali diselingi dongeng tentang para Nabi dan sahabat yang di ulang-ulang karena bacaan-nya terbatas tapi cukup untuk sekedar penghilang bosan. Tapi ia selalu membawa kambing kurban setiap tahun.

Selama puluhan tahun bergaul, kami tak pernah mendengar dari mulutnya berita tentang keburukan atau kekurangan seseorang. Ia tak pernah cerita tentang keburukan Soeharto atau Soekarno. Apalagi soal Jokowi atau Prabowo. Yang ia katakan hanya yang baik-baik. Prabowo itu gagah dan ganteng katanya pendek. Dan Jokowi itu santun, andap ashor, njawani. Keduanya orang baik katanya sambil tersenyum …

*^^*
Meski hidupnya sangat sederhana. Ia tak pernah mengeluh, juga tak pernah memaki Pemerintah meski harga listrik naik berulang. Ia juga tak pernah risau dengan harga BBM karena ia tak pernah beli BBM, kemana pun pergi ia berjalan kaki. Ia juga tak butuh paket data. Karenanya ia selamat dari dosa kopas berita hoax, ghiba dan bully. Ia juga tak pernah meminta ganti pekerjaan meski beberapa kali ganti Presiden. Ia mencintai pekerjaannya: bertani di ladang..

Kang Supingi hanya punya dua buku referensi: yang pertama Al Quran terjemah karya A Hasan Bangil dan kedua buku Kumpulan Himpunan Tarjih yang terbit tahun 72 yang dibeli dari hasil panen ketela di ladang, yang mulai kumal karena dibaca tiap pagi habis Shubuh.

Mungkin itu yang membuat khutbahnya datar, tak seheroik Bung Dahnil Simanjutak atau ustadz Abdul Shomad atau As Syahid Imam Samudra yang lantang saat bertakbir atau Imam Besar Habib Rizieq yang selalu berapi.

*^^*
Masuk surga itu mudah tidak berbelit: Minum air putih dengan tangan kanan baca Basmalah sambil duduk. Katanya suatu ketika. Tapi sayangnya kita suka cari jalan yang susah dan terjal. Bahkan ada yang harus membunuh, mencela sesama muslim bahkan tidak sedikit yang merendahkan agar disebut paling membela atau disebut paling terdepan, dan syukur bisa diangkat sebagai Imam besar. Kang Supingi hanya tersenyum saat ditanya besuk mau nyoblos siapa … 😄😄😄🙏🌹🌹.. .. saya ingin mengetuk pintu surga dengan minum air putih sambil menyebut nama Allah bersama Kang Supingi Insya Allah … “.
Wallahu a’

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here