Komunitas Padhang Makhsyar #145: Persekusi dan Politik Adu Nyali

0
117
Foto kucing adu nyali dengan anjing buldog diambil dari topik warna warni

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Dunia politik adalah dunia yang sangat keras dan terjal. Jika antum penakut seperti halnya saya, mudah baper, mudah mengeluh, dikit-dikit sambat lalu menangis kemudian mengadu pada Tuhan di sepertiga malam yang akhir, lebih baik belajar nulis seperti saya, ngurusi mushala, ‘muruk-ngaji’ atau belajar khutbah, itu lebih baik.

*^^*
Pagi, 16 Oktober 1793, seorang politisi perempuan Marie Antoinette, ratu terakhir Perancis dipancung, kepalanya menggelinding putus, darah muncrat dari lehernya setelah dipenggal pisau guilottine.

Lahir pada 2 November 1755 di Vienna Austria, dengan nama Maria Antonia Josepha Joanna, anak ke-15 hasil pernikahan Ratu Austria Maria Theresa dan Kaisar Suci Roma Franci I. Di masa kanak-kanaknya, Marie Antoinette menerima pendidikan ala bangsawan yang menekankan pada masalah ke-agama-an dan prinsip-prinsip moral.

Semalam sebelum eksekusi, Marie Antoinette menulis surat terakhirnya untuk Elisabeth: “Saya sangat tenang. Seperti orang yang nuraninya dibersihkan”, demikian kata-kata sang ratu dalam suratnya itu. Di pagi hari, beberapa saat sebelum eksekusi digelar saat pastor yang hadir memintanya untuk tetap kuat menghadapi, Marie Antoinette menjawab: “Keberanian? Saat-saat di mana semua rasa sakit saya akan hlang bukan saat di mana keberanian saya ikut sirna.”

Marie Antoinette, ratu terakhir Perancis, selalu dilihat sebagai dua karakter yang berbeda, satu sisi dia menjadi personifikasi “setan” dalam sistem monarki, tetapi di sisi lain dia dianggap mewakili tren dan kecantikan.

*^^*
Rakyat Nepal pasti tak akan melupakan tanggal 1 Juni 2001. Sebab di hari itu terjadi pembantaian di Istana Narayanhiti tempat keluarga kerajaan tinggal.
Dalam pembunuhan yang terjadi di saat makan malam itu, 10 orang anggota keluarga kerajaan tewas termasuk Raja Birendra dan Ratu Aishwarya.

Setelah Raja Birendra tewas, Pangeran Dipendra, yang melakukan penembakan, menjadi raja secara de jure meski dalam kondisi koma setelah menembak dirinya sendiri.

Soekarno dibui dan dijauhkan dari ramai. Soeharto pun mengalami nasib yang kurang lebih sama. Beberapa lainnya lari mengasingkan diri. Qaddafi dan Saddam pun diseret di padhang pasir seperti binatang kurap setelah sebelumnya dipuja bagai dewa. Para politisi itu bukan hanya di persekusi tapi eksekusi mati.

*^^*
Persekusi hanyalah bagian presure agar politik tampak lebih indah dan gerget. Tidak ada regulasi atau aturan bahwa pelaku persekusi akan di-diskualifikasi dalam pencapresan sebab UU tak mengaturnya.

#th2019GANTIPRESIDEN hakikatnya juga persekusi, bahkan rasanya lebih ngilu dari sayatan sembilu. Bukankah antara pelaku dan kurban persekusi juga punya alasan politis untuk membenarkannya secara politis pula. Lantas mau caper kemana …

Konon kabarnya, salah satu capres yang sekarang juga pernah menjadi aktor penculikan dan hilangnya beberapa mahasiswa saat menjelang reformasi. Jadi apalah artinya sebuah persekusi bundaaa .. .. se-pemberani Maria Antoniette, Se-tegar ibu Mega, se-heroik Srikandi, se-misterius Ratu Kalinyamat, jangan cemen seperti perempuan madhu— jika politik telah menjadi pilihan — maka bersiaplah untuk mendaki yang lebih terjal .. biarkan semua kata heroik-mu menjadi saksi atas keberanian-mu … selamat mendaki .. .. semoga sampai di tujuan .Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesi dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here