Komunitas Padhang Makhsyar #146: Harapan Kepemimpinan Nasional Profetik

0
465
Foto calon Presiden Republik Indonesia 2019 Jokowi dan Prabowo diambil dari Merdeka.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Pernyataan singkat Prof Yunahar Ilyas: Ibarat dokter, jika penyakitnya berbeda jangan diberi obat yqng sama. Jokowi dicitrakan anti ulama, maka jawabannya pasang ulama jadi cawapres. Sementara Prabowo citranya sdh pro ulama, jadi tidak perlu pasang ulama jadi cawapres.
Sudah tepat pilih Sandi, pebisnis kaya, muda dan ganteng. Berpotensi meraih suara kaum muda.

**^*
Sebagian boleh tak bersetuju dengan pilihan Jokowi bahkan ada yang bilang Jokowi terpancing lantas buru-buru mengambil Kyai Ma’ruf agar dibilang dekat ulama. Lawan politik bersorak Jokowi melakukan blunder katanya dalam beberapa pernyataan.

Lazimnya calon, bakal mengalami nasib sama: di bully. Di cari salah bahkan hingga nasab. Politik bullying yang sangat tidak sopan setidaknya menurut saya. Politik bullying menjadi semacam tradisi baru dalam kepolitikan kita dan itu sangat memprihatinkan, kita jadi terbiasa menjelekkan orang lain atau mencari-cari cacat orang lain kemudian di publikasikan, lantas merasa telah berjihad …. yaa berjihad … ibadah katanya … Naudzubillah.

*^^*
Tak ada pilihan pasangan sempurna termasuk pilihan Jokowi terhadap Kyai Ma’ruf. Di saat negara butuh seorang pemimpin yang visioner, reformatif dan kapabel Jokowi malah memilih Kyai Ma’ruf ulama sepuh jauh dari harapan. Tapi benarkah pernyataan itu.

Kita uji di lapangan mana lebih diterima. Kyai Ma’ruf adalah sosok kyai sepuh kharismatis. Beliau punya pengikut setia dan banyak, terutama kalangan pesantren, umat Islam yang tinggal di pedesaan dan santri-santri kosmopolit di universitas. Tesis yang dibangun adalah membangun kedekatan dengan ulama yang selama ini dikesankan berjarak, bahkan ada yang merasa dikriminalisasi, atau Islam dimarjinalkan. Lebih dariitu, pilihan terhadap kyai Ma’ruf adalah salah satu ikhtiar agar agama tidak lagi dijadikan isu pilitik yang rawan memecah persatuan dan kesatuan bangsa.

Kyai Ma’ruf adalah jawaban tepat. Untuk membangun visi keumatan dan persatuan, meredam konflik dan persaingan elite muda NU dan mengamankan masa depan partai demokrasi perjuangan, Jokowi tak ada masalah dengan logistik berbeda dengan Prabowo yang mulai susut, tekanan ijtima ulama, dan ancaman kekuasaan tiran para ulama maka Sandiaga adalah juga jawaban yang tepat, muda, kaya dan berharap dipilih kaum muda perkotaan, sesuai dengan persoalan yang beliau hadapi.

*^^*
Jokowi dan Prabowo masing-masing punya masalah internal yang harus di urai dan keduanya sangat cerdas mengatasi. Dua orang terbaik memilih pasangan terbaik. Pada dua pasang terbaik itu lah harapan persoalan kebangsaan semoga bisa di urai. Semoga pula kita bisa menjadi warga politik yang Aqil Baliik, tidak black compaighn terhadap ke dua pasangan, tidak saling merendahkan dan mencari cela, dewasa dan wise menyikapi … sehingga melahirkan kepemimpinan nasional yang ptofeetik, visioner dan reformatif … aamiin.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here