Komunitas Padhang Makhsyar #147: Politik “Teks Book” Muhammadiyah

0
532
Foto Peserta Rapat Pleno diperluas Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya diambil dari dokumen pribadi panitia

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Berbeda dengan NU yang lentur kenyal dan fleksibel MUHAMADIYAH justru menampilkan politik keagamaan hitam putih yang kaku dan gampang di tebak lawan. Praktik politik inilah yang kemudian menjadi biang kegagalan kader kader Islam modernis ini, nyaris tak bisa bertahan lama dalam kontraksi-politik. Sebut saja para politisi islam modernis di awal pergerakan meski mereka terbukti sangat berjasa tapi tak cukup bertahan: Mr Kasman, Ir Juanda, Ki Bagus, Mr Natsir bahkan Panglima Besar Sudirman pun juga tak kurang lebih sama.

*^^*
Keberagama-an Islam modernis adalah Islam dalam satu wadah, eksklusif, elitis dan kosmopolit. Jargon kembali kepada Al Quran dan As Sunah melahirkan wajah Islam yang konon anti budaya, kaku dan stag. Tidak mudah beradaptasi meski berbagai simbol di datangkan, seakan ramah dengan budaya, tapi tetap saja warga Islam puritan adalah kumpulan orang-orang yang tidak suka musik, tidak suka bersyair apalagi ikutan berdendang.

Jadilah watak sikap keberagamaan yang tampil di permukaan cenderung permisif, miskin metode dan kurang hiburan. Hampir di semua halaqah disampaikan lewat metode ceramah padahal banyak bahkan ada puluhan metode yang mestinya bisa dipraktikkan. Halaqah-halaqahnya monoton, kering dan membosankan.

*^^*
Model keberagama-an yang cenderung hitam putih ini juga berpengaruh signifikan terhadap ke politik an yang di tampilkan. Dalam beberapa dekade watak politik Islam modernis ini selalu kalah dan ditinggalkan karena sikap nya yang cenderung kaku sulit diajak kompromi.

Politik text book yang ditampilkan adalah sikap politik yang cenderung mengadopsi nilai politik secara struktural dengan dalih mengambil nilai-nilai keluhuran dan keadaban meski dalam banyak kasus juga tak mampu mendefinisikan apa itu politik nilai sebagai bule print yang bisa dijadikan pedoman.

Akibatnya kerap terjadi duplikasi kehendak karena konsep keagungan dan keluhuran politik yang bakal ditampilkan tak pernah selesai dan berhenti pada wacana diskusi. Drama Turgy Islam modernis tulis Prof Nakamura antara panggung depan dan panggung belakang sama, tak ada drama atau sesuatu yang bisa di tonton.

*^^*
Kecenderungan politik text book terjadi karena aktor politik Islam modernis tak cukup berani mencari alasan teologis terhadap putusan-putusan politik. Dua kali Pak Amien Rais tokoh reformasi mendapat kesempatan dan peluang besar untuk menjadi RI I, tapi tak juga diambil dan memilih jalan text book yang menggerus nya karena tak mampu memberi alasan teologis pada putusan yang di ambilnya.

Watak politik Islam modernis menekankan pada kepastian, konsistensi, dan tanpa kompromi ketika berkaitan dengan apa yang mereka pahami dari Al-Quran dan Hadis. Inilah narasi politik Tex Book, tanpa drama, tanpa suara. Politik tex book kehilangan daya tarik .. karena tak ada drama yang bisa ditonton …
Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesiq Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here