Komunitas Padhang Makhsyar #15: Majelis Syura

0
69

KLIKMU.CO – Semoga ini bukan tipuan anda kata Sayyidina Ali ra,  kepada Abdurrahman bin Auf, semenda Usman, mereka tidak akan berbeda pendapat. Mereka akan mengangkat satu sama lain demikian pernyataan Ali ra kepada Ibnu Abbas pamannya.

Abdurahman bin Auf diharap sebagian besar mu’minin kala itu untuk menggantikan khalifah Umar yang tergeletak tak berdaya setelah tikaman abu lu’lu, yang menyebabkan wafatnya.

Setidaknya ada enam orang anggota Majelis Syura yang ditunjuk oleh khalifah Umar ra untuk mencari siapa bakal menjadi penggantinya.

Antara lain, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Usman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqash, dan Abdurrahman bin Auf. Umar Ibnul Khattab berkata kepada syura: ‘Jika yang setuju tiga orang dan yang tiga orang lainnya tidak setuju pilihlah Abdullah bin Umar sebagai penengah. Dari pihak manapun dari kedua pihak itu yang diputuskan pilihlah seorang dari mereka.

Kalau mereka tidak menyetujui pilihan Abdullah bin Umar maka ikutlah kalian bersama mereka yang didalamnya ada Abdurrahman bin Auf”.

Hal demikian terjadi setelah kedaulatan Islam semakin meluas dan menguat sehingga jabatan kekhalifahan menjadi layak diperebutkan.

Disamping pertimbangan agar kekhalifahan tak jatuh kepada Banu Hasyim karena dikawatirkan kekhalifahan tak akan bisa lepas dari keluarga mereka yang berarti kekuasaan ruhani dan duniawi.

Begitu pula dengan Banu Muawiyah karena mereka adalah kabilah Quraisy yang besar dan kuat kalau kekhalifahan ditangan mereka juga tak akan mudah kembali terlepas.

Pun dengan Banu Hasyim dan Banu Muawiyah yang bersaing keras untuk mendapatkan kekuasaan sebagai khalifah. Nampak ketika jasad khalifah hendak dishalatkan Usman dan Ali berebut kedepan saling mendorong menjadi Imam shalat.

Sebuah pemandangan tak lazim yang tak pernah ada sebelumnya.

Hingga Abdurahman bin Auf berkata: “inilah ambisi orang ingin memegang pimpinan, kalian tahu bahwa ia (Umar) sudah meminta di luar kalian berdua. Suhaib, majulah dan shalatkan ! Sementara Abu Thalhah Al Anshari berkata: Saya lebih ngeri melihat kalian saling mendorong daripada saling bersaing.

Saya tidak akan memperpanjang lebih dari tiga hari yang sudah diperintahkan kepada kalian. Setelah itu saya akan tinggal di rumah dan akan melihat apa yang kalian lakukan”.

Perselisihan makin seru dan menurut berbagai sumber muktabarah berlangsung sehari penuh, bahkan sumber yang lain mengatakan dua hari.

Abdurrahman bin Auf berkata:”Siapa diantara kalian yang paling utama akan ditampilkan untuk di kukuh kan sebagai pimpinan”.

Mereka yang hadir terkejut, ribuan jamaah terkesima. Ada soal berat menunggu bukan hanya siapa bakal menjadi khalifah tapi jamaah mu’minin akan bertaruh marwah, para pendukung masing-masing akan saling berebut kuat dan itu bukan pekerjaan gampang.

Dan nyatanya benar, pemerintahan Usman hasil syura hanyalah masa untuk menyemai konflik dan perselisihan antar kabilah, suku bahkan manhaj. Semua berawal di sini.

Ada yang merasa dizalimi kemudian membuat gerakan perlawanan terus membesar dengan berbagai varian. Bahkan akhir kekhalifahan Usman juga berakhir sangat tragis. Fitnah terbuka sejak Umar dibunuh.

Khawarij bangkit, Mutazilah bersemai dan yang paling fenomenal adalah kelompok Syiah. Pengikut militan Sayidina Ali yang merasa ‘dikalahkan’ semakin militan hingga hari ini.

Majelis Syura layaknya hanya pintu untuk membuka banyak fitnah meski dengan berbagai dalih dikemukakan Abdurahman bin Auf, tapi tetap saja aroma intrik, ambisi dan cacat politik syura yang dilakukan dua, tiga anggota syura kuat terasa.

Pintu perpecahan dan firqah berawal dari syura.

Dan lazimnya sejarah, bergantung siapa yang menulis, tak bisa dibenarkan seluruhnya juga tak dapat di salahkan semuanya, Wallahu a’lam

Kyai Nurbani Yusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here