Komunitas Padhang Makhsyar #150: Allah Maha Adil, Dimana Adilmu Wahai Kaum Muslimin

0
241
Foto anak ambil air karena kekeringan diambil dari soloraya-solopos.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Di mata pendukung Jokowi, Prabowo tak ada baiknya kecuali keburukan. Di mata pendukung Prabowo, Jokowi tak ada baiknya kecuali keburukan. Di mana adilmu wahai muslimiin … bisakah kau melihat kebaikan pada orang yang kamu benci sekalipun itu musuhmu.

*^^*
Dikisahkan, Nabi Musa as pernah bermunajat kepada Rabb-nya di atas bukit Thur. Musa bermunajat : “Tuhanku, perlihatkan kepadaku keadilan-MU. “Allah menjawab, “Engkau laki-laki tangkas, cekatan dan pemberani, tetapi tidak akan mampu bersabar untuk memahami keadilan-Ku”. �“Insya Allah Saya mampu bersabar dengan taufik-Mu”, jawab Musa as. Kemudian Allah berfirman: “Pergilah menuju mata air disuatu tempat, lalu bersembunyilah di baliknya dan perhatikan apa yang akan terjadi, di situ kamu akan melihat apa yang kau inginkan , ”

Musa as berjalan mendaki anak bukit di balik mata air itu, lalu duduk dan bersembunyi. Tidak berapa lama berselang, datang seorang penunggang kuda di mata air itu. Ia turun dari kudanya . Berwudu dan minum dari mata air itu. Ia membuka buntalanya yang di dalamnya terdapat kantong berisi uang 1000 dinar. Diletakan di sampingnya lalu sholat. Kemudian laki-laki itu kembali menaiki kuda tapi ia lupa pada kantong uangnya.

Tidak lama, datang seorang anak kecil, meminum dari mata air itu dan pergi sambil mengambil kantong uang yang ditemukan di tempat itu. Setelah anak kecil itu pergi, datanglah seorang laki-laki tua buta. Ia minum dari mata air itu, berwudu dan berhenti sejenak untuk sholat, setelah sholat, ia duduk santai melepas lelah.

Bersama dengan itu, lak-laki penunggang kuda yang datang pertama tadi teringat dengan kantong uangnya. Ia kembali dari perjalanannya dan segera menuju sumber mata air itu, namun ia tidak menemukan kantong uangnya. Ia hanya melihat laki-laki buta itu yang sedang duduk beristirahat,

Pikirannya mencurigai laki-laki tua tersebut : “Saya kehilangan kantong yang berisi 1000 dinar di tempat ini. Tidak ada orang yang datang ke tempat ini selain kamu.” tuduh penunggang kuda itu . ”Kamu tau saya hanya seorang laki-laki buta, maka bagaimana mungkin saya bisa melihat dan mengambil kantongmu?” jawab laki-laki buta itu.

Penunggang kuda itu marah atas ucapan laki-laki tua tersebut. Ia mencabut pedang dan menghantamkannya pada laki-laki malang hingga tewas. Ia memeriksa mayat laki-laki tua itu dan kantong yang di carinya tidak ditemukan, ia pun pergi dan meninggalkan mayat pria malang itu dengan wajah kesal.

Menyaksikan peristiwa tragis tersebut Musa as. merasa jengkel dan hilang kesabarannya. Ia berkata, “Tuhanku dan junjunganku, kesabaranku benar-benar habis dan Engkau benar-benar Dzat yang Maha Adil, maka berilah saya pengetahuan dan penjelasan bagaimana semua ini bisa terjadi? ”Allah memerintahkan Jibril untuk memberikan penjelasan. Jibril as. berkata kepada Musa as :”Hai Musa as Allah swt. Berfirman: Aku mengetahui semua rahasia dan lebih mengetahui dari pada yg kamu ketahui. Adapun anak kecil yang mengambil kantong uang tersebut, sebenarnya ia hanya mengambil hak miliknya sendiri.

Orang tua anak kecil itu adalah orang upahan laki-laki penunggang kuda yang hilang uangnya. Upah yang harus diterimanya terkumpul dalam jumlah uang yang terdapat didalam kantong yang di bawa laki-laki penunggang kuda itu dan upah tersebut belum terbayar. Anak itu hanya mengambil haknya.

Adapun laki-laki tua yang buta itu, adalah orang yang telah membunuh ayah dari penunggang kuda itu, ketika ia belum buta. Allah telah mengambil hukum Qishash dan menyampaikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Keadilan kami (Allah) sangat lembut.” setelah Musa as mengetahui hal tersebut, Ia bingung dan mohon ampun kepada-Nya.

Demikianlah hikmah yang tersembunyi di balik berbagai kejadian yang sering kita lihat sehari-hari yang kadang kala kita rasakan tidak adil dan jauh dari kepantasan. Pandangan dan penglihatan kita amat terbatas sementara Allah memiliki penglihatan dan pengetahuan yang tidak terbatas. Wallahu a’lam

Diambil dari kitab: Ihya Ullumiddin nasihat Imam Ghazali untuk penguasa ..

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here