Komunitas Padhang Makhsyar #153: Komunisme Religius, Mungkinkah?

0
143
Foto Stadion Geloro Bung Karno yang perkasa ketika pembukaan Asian Games ke 18 diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Komunisme dan Atheisme sering dipadankan, padahal keduanya jauh berbeda. Meski sebagian kecil menganggap satu kesatuan utuh setelah melalui proses pernikahan. Pada mulanya komunisme adalah perlawanan terhadap kapitalisasi. Kelompok borju yang berkuasa atas ekonomi sosial dan politik sekaligus. Kelompok elite yang berjumlah sedikit tapi banyak memiliki. Komunis adalah sintesis dari masyarakat terbelah: borju dan proletar. Menghapus kasta juga kelas sosial masyarakat. Tujuannya sama: Mensejahterakan banyak orang. Pada awalnya komunis me adalah soal menolong orang kecil tertindas yang di-marjinalkan dan diambil seluruh haknya. Bukan bersangkut pada soal agama tertentu.

Para pemilik pabrik, perusahaan dan pengumpul modal. Bekerja sama dengan penguasa korup. Menjarah kekayaan, memiskinkan dan menghisap seperti lintah. Kesenjangan melebar. Lahir ketidakadilan dan penindasan. Yang kaya semakin kaya yang miskin tak bisa bernapas. Ilustrasi masyarakat borju yang menindas. Rakus juga serakah. Tak ada yang membenarkan tapi siapa hendak menghadang.

Komunisme menawarkan kehidupan yang lebih mengedepankan kesamaan meski melawan sunatullah. Keadilan Komulatif berbeda dengan keadilan distributif. Masyarakat komunal adalah impian utopis para penganjur marxian yang tak pernah wujud. Bahkan revolusi yang mereka inginkan juga patah.

*^^*
Bagi Eropa dan negara-negara kapitalis lainnya, gagasan masyarakat komunis yang menghapus kelas sosial terutama kelas borju tentu mencemaskan. Harus dilawan dengan segala cara termasuk melarang komunis berkembang. Komunisme jelas membuat onar. Sebagai ideologi, komunis terlalu berpihak kepada rakyat miskin dan itu dosa besar.

Belakangan komunis berkembang menjadi ideologi politik. Penganjur marxian tak ingin komunisme berhenti di kelas kuliah. Dan politik menjadi salah cara ampuh untuk realisasi. Beberapa negara tertarik dan memenangkan secara ideologi. Sebut saja Rusia dan Republik Tiongkok meski keduanya mengambil jalan berbeda. Komunis telah menjadi ideologi negara meski telah dimodifikasi. Setidaknya keduanya adalah model negara komunis moderen yang berhasil menggagas ide komunis menjadi praksis.

Bagaimanapun komunisme adalah solusi ditengah kebuntuan. Mimpi indah di saat gagasan tentang hidup adil dan makmur tak kunjung datang. Kekuasaan rakyat dapat ditegakkan. Aspirasi di dengar. Tak ada lagi orang pamer kekayaan di saat hidup susah. Cita-cita Komunisme sederhana: tak ada lagi kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Itu saja tak lebih.

*^^*
Akan halnya Atheisme adalah gagasan lain. Pertama kali dikembangkan oleh Feurbach dan Nirtche. Para penganjur marxian hidup saat agama melakukan reduksi dan intimidasi. Gereja menjadi lembaga paling menakutkan. Dihuni para rahib dan pendeta korup. Banyak ilmuwan dibui dan disiksa dan tidak sedikit yang dibunuh dengan cara disalib.

Para pemimpin agama melakukan indoktrinasi kebenaran yang katanya dari langit, tidak boleh dibantah apalagi dilawan. Dari kondisi semacam itulah kemudian lahir stigma: agama adalah candu. Tuhan telah mati. Dan banyak lainnya. Sekumpulan konsep dari rasa jengkel dan frustrasi. Kepada otoritas gereja dan seluruh penghuninya. Jadi pernyataan Marx dan kawan kawan bukan buat kita, umat Islam. Tapi untuk sekumpulan pemimpin agama korup yang menjadikan agama sebagai topeng mengejar maksud.

Tidak selamanya komunis selalu atheis dan atheis selalu komunis. Jadi apakah mungkin komunisme disandingkan dengan agama, mengingat keduanya punya tujuan mulia yang sama … ah tidak tahulah … “.
Wallahu a’lam ..

*Ketua Majelis Ulama Indonesia dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here