Komunitas Padhang Makhsyar #155: Risalah Hukm Al Adzan Bi As Speaker

1
179
Foto toa masjid diambil dari islam.co

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

“Wahai Abu Bakar keraskan suaramu sedikit, Wahai Umar pelankan suaramu sedikit … “, pinta Rasulullah saw kepada dua orang sahabatnya pada suatu malam saat Beliau berkeliling.

Abu Bakar menjawab: ‘Wahai Rasulullah aku sedang bermunajat kepada Rabb ku, sedang Umar menjawab: ‘Wahai Rasulullah aku sedang ingin membangunkan orang tidur. Kisah diatas bisa Anda lihat dalam kitab Shifat Shalat Nabi karya Syaikh Al Bani juz 2.

Tidak ada penjelasan seberapa pelan suara Abu Bakar as Sidiq sehingga harus dikeraskan sedikit dan seberapa keras suara Umar Ibnu Khattab sehingga harus dipelankan sedikit. Keduanya normatif dan kembali kepada masing-masing: substansinya adalah agar keduanya bersuara sedang-sedang saja tidak berlebihan.

*^^^*
Syaikh Mahmud menulis sebuah risalah (surat) berbahasa Arab dengan menggunakan kop surat pondok pesantren yang diasuhnya (pondok pesantren Darul Ulum Asy-Syar’iyyah) yang berjudul “Risalah Hukm al-Adzan bi as-Spiker” (Risalah tentang Hukum Mengumandangkan Adzan dengan Speaker) untuk dikirim kepada sahabatnya, Syaikh Mas’ud Kawunganten.

Syaikh Mahmud berpendapat bahwa suara adzan dengan pengeras hukumnya bid’ah karena tak ada pada zaman nabi. Dijawab oleh Syaikh Mas’ud bahwa tidak semua yang tidak berasal dari nabi itu bid’ah.

Syaikh Mahmud menulis:
Kita sudah sama-sama mengerti bahwa salah satu/sebagian daripada adabul adzan adalah rof’ushout (mengeraskan suara), tetapi yang dimaksud bagi ulama fiqh ialah mengeraskan suara secara mejana- sedang- sederhana-keras suara muadzin sendiri-keras biasa, bukan keras yang luar biasa seperti halnya dengan memakai alat pengeras-corong atau speaker atau radio.
Syaikh Mahmud mendasarkan pendapatanya ini dengan mengutip sejumlah “ibarat” dari Hasyiyah al-Kurdi dan Hasyiyah at-Tarmasi. (lebih jauh silakan baca dalam: Syaikh Mahmud, Bida’ul Masjid).

Syaikh Mas’ud merespon balik risalah yang ditulis oleh Syaikh Mahmud dan dimuat di kitab beliau berjudul “Masail Syata”. Bagi Syaikh Mas’ud, tidak semua hal yang tidak ada di zaman Nabi dianggap sebagai bid’ah yang diharamkan. Salah satunya adalah ihwal pengeras suara atau speaker.
Uniknya, keduanya merupakan murid dari KH. Kozin Bendo Pare yang sama-sama digelari Syaikh sebagaimana “seniornya” di pesantren, Syaikh Ihsan Jampes. (kutipan dari Idris Masudi)

*^^*
Akan halnya suara speaker Toa di masjid atau mushala yang kerap jadi soal. Adzan adalah panggilan shalat dan Al Quran adalah firman Allah. Keduanya bernilai ibadah menghadiri dan menyimaknya bakal mendapat rahmat. Tapi jika dilakukan berlebihan akan berbalik mengganggu. Suara adzan yang merdu mendayu akan membuat hati melembut. Sebaliknya bisa dibayangkan jika suara keras pekak dan lagu yang maaf sangat tidak enak pasti siapapun akan tergganggu.

Dan tak perlu keburu bilang hanya syetan yang lari mendengar suara adzan. Lantas siapapun di cap sesat dan kafer karena terganggu suara adzan. Hannya iblis yang terganggu suara adzan katanya berdalih. Ini Bukan soal adzan nya yang mengganggu tapi suara pekak dari speaker toa itu yang jadi soal. Saya suka adzan tapi tak nyaman dengar suara pekak yang dikeraskan pada mesin Toa. … .. 🙏🙏😄😄 Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

1 KOMENTAR

  1. Selain speakernya, juga suara disekitar adzan kadang2 juga agak mengganggu masarakat sekitar
    Semoga warga muhammadiyah menjadi umat yg tengahan, suara adzan nya sedang dan gunakan suara dalam bila sholat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here