Komunitas Padhang Makhsyar #157: Ed Al Ad-Ha: Hari Pembebasan

0
288

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

 

Ibrahim berdoa lama. Berpuluh tahun hingga di usia yang mulai menua. Untuk keturunan sebagai penerusnya : “Ya Rabb berilah aku keturunan yang saleh”. Ini doa yang terus dimintakan tidak pernah lelah apalagi berputus asa. Dari rahim Hajar inilah keturunan Ibrahim dikaruniakan. Sarah pun menyusul nya memberikan buah hatinya. Ismail dan Is-haq. Dua permata hati setelah puluhan tahun di dambakan.

Inilah buah cinta. Pengharapan dan cita cita. Ibrahim begitu sayang dan cinta. Hingga Allah memerintahkan agar anak yang paling dicintainya itu harus disembelih. Dikurbankan. Betapa risau nya Ibrahim menerima perintah pengurbanan itu. Belahan jiwanya, buah hatinya, pengharapan tempat semua isi hatinya tercurah kini harus berpisah. Tak adakah perintah lainnya, kenapa harus anak buah hati nya satu satunya.

Ibrahim tidak menolak. Ibrahim pasrah menghamba kepada apapun perintah Allah. Apa ada perintah yang lebih berat selain mengurbankan anak. Sesuatu yang amat sangat dicintai bahkan mungkin lebih dari dirinya sendiri harus dikurbankan.

*^^*
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

*^^*
Ibrahim di uji. Apakah anak yang paling dicintai nya itu menjadi penghalang. Allah Rabb nya atau kesenangan fana dunia. Ibrahim beringsut saat hendak menyampaikan perintah kurban itu kepada Ismail putranya.

Ketika Ibrahim as diperintahkan untuk mengurbankan anaknya, syaitan menghadangnya ditempat sa’i (berlari-lari kecil) dan ingin mendahuluinya, tetapi Ibrahim lebih dulu sampai. Kemudian Malaikat Jibril membawanya menuju Jumratul ‘Aqabah, di sini syaitan menghadang, lalu ia lempar dengan tujuh buah kerikil. Kemudian ia melanjutkan perjalanan hingga syaitan menghadang di Jumratul Wustha, ia lempar syaitan itu dengan tujuh buah kerikil”.(Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 7, 2013).

.*^^*
Inilah hari pembebasan itu. Pembebasan dari kefanaan menuju ke abadian. Dari dendam menuju pemaafan. Dari permusuhan menuju persaudaraan. Dari perpecahan menuju kesatuan. Dari fitnah ghiba bully nyir nyir menuju kesantunan dan kemanusiaan. Segala yang berbau kebinatangan itulah yang kita kurbankan. Agar kita sempurna menyandang sebagai khalifah Allah di bumi.

Berhentilah bertikai. Berhentilah saling membenci dan mencaci. Berbedalah secara dewasa. Berhentilah mengikuti nafsu dan amarah. Berhentilah membesarkan diri sendiri dan merendahkan hamba-hamba Allah yang lain.
Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here