Komunitas Padhang Makhsyar #157: Intelektual Dandysm

0
177
Foto sekelompok orang politisi kulit hitam diambil dari open minded

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Media sosial sedang ramai dengan pemeran “aku-lebih-tahu” tentang politik hari ini. Orang Amerika menyebutnya “intellectual dandyism”, semacam perilaku sok tahu yang diperankan para intelektual atau semacam Hamman pada masa Musa.

Media-media seharusnya menjadi para guru politik rakyat, kini para guru tersebut menjadi alat pembenaran para pemilik kepentingan maka rakyatpun punya hak untuk menafsirkan politik tersebut secara mereka.

Lembaga Survey adalah contoh buruk. Sekumpulan intelectual yang memerankan diri merasa paling tahu politik hari ini. Kumpulan inilah yang secara profesional dan sistematis membentuk opini publik tentang politik hari ini.

*^^*
Belum jelas seberapa signifikan kehadiran lembaga survey dibutuhkan. Rasa ingin tahu telah mendorong lembaga survey menjadi sesuatu yang urgent dan banyak menjadi rujukan. Ini soal lain tentang pelacuran intelektual bila kemudian ada kesengajaan untuk menjual hasil survey berdasar pesanan kelompok kepentingan untuk membangun opini.

Politik telah berubah menjadi industri. Takaran idealisme perlahan menyusut. Tujuan demokrasi berubah drastis karena politik tak lagi sebagai alat untuk mencapai hidup sejahtera. Rakyat hanya sekumpulan masa yang bakal dibohongi dan dijadikan alat untuk melegitimasi kekuasaan.

Para elite ingin meraup apapun yang diinginkan untuk syahwat keinginan yang tak lagi bisa di bendung. Isu apapun akan dipergunakan untuk memenangi petarungan. Apakah agama, ras atau sentimen sosial lainnya. Dan politik tidak selamanya anggun sebab ia hanyalah alat untuk mereduksi dan saling menipu meski telah dibungkus dengan jubah dan surban menjuntai sekalipun.

*^^*
Jadi jangan pernah percaya dengan apapun yang para intelectual dandys katakan meski data yang katanya paling valid atau ratusan ayat-ayat Tuhan ditaruh kan. Tetap saja sama, mereka hanyalah sekumpulan penghisap dan penipu yang merasa sok tahu tentang cara meraih hidup sejahtera, menegakkan keadilan dan pemerataan.

Sudah puluhan kali aktor politik berganti, dengan jargon yang tetap sama : sejahteraj, keadilan, pemerataan, persatuan dan persaudaraan, kejujuran atau apapun itu, toh hidup tetap saja tak berubah. Kemiskinan, ketidak adilan, kesenjangan dan ketidak merataan, kapitalisasi dan liberalisasi semua masih subur siapapun rezimnya. Para intelectual dandys tetap saja sekumpulan para pencari makan, dan politik memang industri yang menarik.
Wallahu a’lam.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here