Komunitas Padhang Makhsyar # 159: Revolusi Butuh Martir

0
128
Foto habib Rizieq diambil dari bual.bualcom

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jakarta, CNN Indonesia — Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab angkat suara menanggapi Neno Warisman yang dihalangi aparat keamanan untuk bisa hadir di deklarasi #2019GantiPresiden di Pekanbaru, Riau. Merujuk dari pernyataan Rizieq yang dikonfirmasi juru bicara FPI Slamet Maarif, sosok yang kini masih berada di Mekkah tersebut geram atas penolakan Neno.

“Rezim semakin ngawur, negara semakin kacau, terlalu lama menanti 2019,” tutur Rizieq.

Rizieq menilai aparat keamanan adalah wasit dalam alam demokrasi. Tidak seharusnya berada di pihak tertentu. Jika wasit sudah turun ke lapangan, lanjutnya, maka hanya tinggal menunggu penonton ikut turun ke lapangan pula.

*^^*
Rizieq menyerukan kepada umat Islam untuk melakukan jihad dan revolusi. Menurutnya, hanya itu langkah yang perlu ditempuh untuk melawan aparat dan preman yang telah bekerjasama.

Dia mengajak umat Islam untuk mengejar para pelaku persekusi terhadap ulama dan aktivis. Jika itu tidak dilakukan, Rizieq menduga akan terulang kembali di kemudian hari.

“Mereka sudah keterlaluan. Menghadang perempuan, aparat membiarkan,” ucap Rizieq.

“Ayo lawan preman bayaran dan pelindungnya,” lanjut Rizieq.

*^^*
Ini seruan paling menarik dari Imam Besar Umat Islam Indoenesia meski ada beberapa fatsal yang harus dicermati secara jernih. Bukan maksud untuk mendelegitimasi seruan Jihad yang Imam besar serukan lebih hanya sebuah catatan untuk direnungkan.

Pertama Seruan Jihad dan revolusi secara substantif bermakna pengerahan massa untuk menggulingkan rezim yang dianggap ngawur, negara semakin kacau. Mungkin Kudeta adalah sebutan lainnya. Pergantian pimpinan nasional secara paksa itu lwbih mendekati makan seruan jihad dari Imam Besar.

Kedua, seruan jihad atau revolusi juga berimplikasi mematahkan skenario ganti presiden 2019, pilihan kepemimpiann secara demokratis ini menjadi tidak penting sebab ada soal yang lebih urgent yaitu persekusi terhadap Ibu Neno oleh pihak keamanan yang dianggap represif dan menggunakan cara-cara preman. Maka menunggu tahun 2019 terlalu lama. Begitu yang kita tangkap dari substansi seruan jihad dan revolusi imam besar umat Islam dari Mekkah.

*^^*
Revolusi butuh martir agar telur cepat masak. Soeharto butuh tujuh jendral untuk dimartirkan. Reformasi butuh 12 mahasiswa Trisakti yang dihilangkan. Revolusi Iran butuh 497 penonton bioskop Abadan yang dipanggang hidup. Martir inilah yang kemudian jadi daya dorong agar revolusi bisa di dorong.

Imam besar butuh martir agar seruan revolusi dan Jihad nya bisa diterusi. Dan persekusi tak cukup punya daya untuk melahirkan revolusi … terlalu kecil apinya karena nya tak cukup bisa membakar.. mungkin Imam perlu api yang lebih besar sedikit …
Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here