Komunitas Padhang Makhsyar #167: Anis Baswedan: Tak Cukup Hanya Kerja Kerja Kerja

0
131
Foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diambil dari Wikipedia

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Para ‘foundhing-father’ kita adalah kumpulan para akademisi, ulama, failasuf, saudagar, semuanya pejuang, mereka bukan hanya pandai bekerja secara fisik tapi juga kerja intelektual yang menghasilkan gagasan dan ide. Dengan fondasi : ‘pholosophie groundslagh” itulah Indonesia dibangun.

*^^*
Anies Baswedan mengatakan Indonesia dibangun berdasar gagasan. Atas dasar itu Anies menyebut tak akan cukup jika hanya mengandalkan kerja, kerja, kerja, bagi Indonesia.

“Ini yang jadi pesan dan saya percaya bapak ibu sekalian, bahwa kita dalam bekerja tidak cukup hanya kerja, kerja, kerja saja. Tidak cukup. Harus ada gagasan dulu, yang ditulis dan dinarasikan kata Anies.

Lebih jauh Anies menjelaskan contoh nyata Indonesia dibangun oleh gagasan adalah pemilihan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, sebagai pembeda Indonesia dari bangsa lain.

“Di Uni Eropa, bahasa apa yang digunakan dalam pertemuan seperti ini? Ada 23 bahasa yang digunakan di sana,” tuturnya.

*^^*
Namun dalam Sumpah Pemuda pada 1928, lanjut Anies, para pendiri bangsa memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

“Anda bayangkan kalau dipilih bahasa daerah luar Jawa, terus Jong Java pulang akan ditanya, ‘Kenapa kamu membiarkan bahasa orang seberang dipilih?'” lanjutnya.

Anies menyebut saat ini Indonesia sering kali meremehkan kata-kata dan gagasan. Sehingga butuh kerja para tokoh intelektual untuk membuat Indonesia sadar akan pentingnya gagasan. Dari gagasan, lalu ada kata-kata, harus ada narasi. Karena kalau ada gagasan, tanpa ada narasi, dia akan di awang-awang,”

*^^*
Itulah yang membedakan politisi sekarang dan politisi di awal kemerdekaan. Meski pendidikan sudah terbilang maju tapi tidak di lingkaran politisi dan para penyelenggara negara, kita mengalami kemunduran. Ada beberapa soal yang menjadi sebab memang, diantaranya para ilmuwan dan teknokrat enggan masuk dunia politik akibatnya politik kekurangan orang pintar yang berwawasan.

Dunia politik kita kehilangan spiritualitas dan ruh, meminjam istilah Bung Karno. Apa jadinya bila sebuah bangsa kehilangan roh-nya. Bangsa tanpa gagasan dan miskin literasi, tanpa cita-cita. Politisi yang tak punya philosophische-groundslach hanyalah sekumpulan kawanan kanibal pencari makan .. tak lebih … “.
Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here