Komunitas Padhang Makhsyar #169: De-Sakralisasi Politik: Ketika Mimbar Ulama Menjadi Panggung Kampanye

0
103
Foto mimbar diambil dari furniture kayu

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Perbedaan pilihan politik disikapi sama dengan perbedaan agama. Jadilah ranah politik sebagai hunian sakral. Politik cenderung kaku, hitam putih dan tidak enak ditonton karena dirusak para aktor yang sensi, gampang marah dan cepat tersinggung. Pilihan politik disikapi kurang lebih sama dengan saat ketika seseorang memilih keyakinan bahkan kerap dikaitkan dengan akidah.

Pilihan simbol-simbol: kafir, sesat, munafiq menjadi hal biasa padahal yang sebelumnya hanya berpusara pada wilayah aqidah kini juga familier di dunia politik praktis. Bahkan dikotomi partai Allah dan partai syetan juga sempat menjadi bincang menarik meski tidak menarik.

Mimbar ulama berubah menjadi tempat untuk menebar isu politik, melawan yang berbeda pilihan. Mimbar ulama menjadi tempat paling strategis untuk membidik dan menyerang ‘musuh-Allah’. Sebab yang berbeda adalah musuh Allah yang harus enyah. Lawan politik tak boleh se-agama. Kita masuk pada babak dimana politik telah menjadi agama baru.

*^^*
Ketika mimbar ulama berubah menjadi alat untuk kampanye bagi kelompok politik tertentu, maka jangan salahkan jika kemudian dilawan dengan cara yang kurang lebih sama bahkan bukan tidak mungkin malah lebih rendah karena dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak berpengetahuan.

Ulama tak lagi menjadi pengayom umat tapi berubah menjadi bagian dari lawan politik. Sebab tausiyah nya bukan lagi dianggap sebagai dakwah tapi dianggap manjadi alat propaganda bagi kepentingan politik. Maka terjadilah apa yang kemudian disebut persekusi atau apapun jenisnya.

*^^*
Kehadiran ulama menjadi sangat urgen dalam dunia politik sebab kehadirannya diharap bisa memberi nilai dan bobot religius. Agar politik tak semata hanya berebut kekuasaan demi kebutuhan perut. Kehadiran ulama menjadi wasilah untuk meminimalisir nafsu-ananiyah, setidaknya bisa ditekan agar tak menjadi dominan.

Namun realitas justru berbalik sebab ulama malah tergoda ikut bermain dalam dunia buram. Maka menjadilah silang sengkarut tak berkesusahan sebab ulama yang seharusnya menjadi pengadil justru ikut bermain. Dalam kondisi yang sudah bwgini maka jangan ngersola ketika mimbar ulama dianggap sebagai panggung kampanye, kehadirannya di tolak. Bahkan yang memprihatinkan boleh jadi bukan hanya kehadirannya yang ditolak tapi ayat ayat Allah juga di tolak karena keluar dari lisan ulama yang dianggap sebagai lawan politik.
Bukan tak setuju ulama masuk politik tapi juga jangan ngersola ketika ulama dianggap lawan politik oleh umat sendiri …
Naudzubillah …

*Ketua Majelis Ulam Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here