Komunitas Padhang Makhsyar #172: Indonesia Negeri Jongos

0
103
Foto sang proklamator RI Ir.Soekarno diambil pks subang

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jongos, pelayan, gedibal, abdi, buruh atau apapun sebutan semisal kerap direndahkan bahkan dianggap tak penting dan di duduk-kan di kasta paling rendah. Tapi saya tak peduli dan saya jauh lebih suka dengan istilah itu. Jongos juga bermakna hamba atau abdullah.

Satu jenis pekerja-an mulia tanpa status dan embel-embel. Jongos adalah simbol kepatuhan tanpa syarat. Penghambaan total tanpa pamrih dan merelakan apapun yang dimiliki untuk pengabdian dan penghambaan-nya. Itulah jongos yang dianggap bodoh tak berilmu. Tapi kita salah jika berpikiran demikian.

Jongos adalah orang kecil yang direndahkan. Yang diambil haknya dan di berangus aspirasi nya. Usulannya tak di dengar dan satu lagi mereka masuk surga lebih dulu setengah hari dari si kaya. Sayangnya kita menjadi seakan majikan yang memandang rendah sambil berkacak pinggang dan berdoa agar tak menjadi jongos. Jongos adalah orang yang selalu di hardik dan diusir dari teras rumah.

*^^*
Dalam terminologi Hindhu, manusia dibagi dalam beberapa kasta: Brahmana, Kesatria, Paria dan Sudra. Marx hanya membagi dua : proletar dan borju. Sedang Islam menghapus semua kasta. Semua manusia bernilai sama yang membedakan adalah kualitas taqwanya.

Pemilahan jongos dan majikan adalah terminologi Marx. Dimana jongos sebenarnya adalah buruh atau proletar yang miskin, melayani dan mengabdi. Jumlahnya banyak tapi miskin. Sementara majikan adalah kelompok borju yang kaya. Memegang banyak sumber kehidupan. Para kapitalis dan penghisap alias rente. Berjumlah sedikit tapi kuat dan berkuasa.

Fenomena sosiologis menyebut bahwa jongos adalah status sosial paling rendah. Meski sebenarnya stigma itu dibangun untuk melanggengkan status para kapitalis untuk mendapat keuntungan. Kita memang tak harus menjadi jongos tapi juga tak perlu menjadi majikan atau borju yang tamak.

*^^*
Hidup memang tak harus selalu di ukur dengan materi. Status sosial juga tak harus dengan berapa jumlah bintang di pundak atau deret gelar. Rasulullah menyebut dirinya juga Abdullah. Para penguasa menyebut pelayan rakyat. Para pegawai menyebut dirinya abdi rakyat bahkan para pendeta dan rahib disebut pelayan Tuhan. Semua kita adalah pelayan atau pengabdi.

Lalu kenapa takut menjadi jongos. Tanyakan pada ratusan abdi dalem keraton jogja yang rela duduk berjam seharian dengan upah beras beberapa kilo. Rela melayani para sultan dan seluruh keluarganya tanpa mengeluh juga tak merasa rendah. Bagi para jongos melayani adalah mengabdi. Apa mereka menderita atau merasa berkekurangan dibanding para penunggang Jaguar dan timbunan uang berjibun.

Jongos selalu berkait dengan sikap pasrah atau sumeleh yang kemudian lebih kental dengan sikap mengabdi dan menghamba. Nerimo ing pandum, tidak gampang kemrungsung adalah ungkapan jati diri orang Jawa kental. Kita boleh tidak bersetuju tapi jangan lupa sikap itu telah mengalir dalam darah dan pikiran. Dan itulah kita orang Jawa: para jongos yang rela menjadi abdi.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here