Komunitas Padhang Makhsyar #173: Tak Rela Indonesia Di Pimpin Islam Garis Keras

0
125
Foto kata kata Indah Islam diambil dari Abu Maryam notes

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

‘NU tak akan membiarkan Indoenesia dipimpin Islam garis keras”, tutur Kyai Marzuqi Mustamar Ketua PW NU Jawa Timur. Sesaat setelah menerima kunjungan Kyai Ma’ruf Amin salah seorang kader NU yang dipinang menjadi cawapres mendampingi petahana.

Sebuah pernyataan menarik dari pimpinan ormas Islam terbesar yang mengaku sebagai penegak ahli sunah wal jamaah penjaga Islam moderat. Yang mulai kawatir melihat gelagat politik Islam garis keras yang mulai membakar isu SARA sebagai alat untuk mendapat dukungan.

*^^*
Disparitas Islam Garis-keras dan Islam Moderat terus mengemuka bahkan dalam beberapa kasus mulai saling serang baik persekusi maupun fisik. Konflik Islam telah meluas bukan saja pada wilayah teologis ataupun fiqh tapi sudah masuk pada pola kepentingan politik praktis.

Pilpres 2019 sejatinya adalah ruang konflik terbuka antara Islam garis keras yang mendukung pasangan Prabowo-Sandi (PADI) dan Islam Moderat mendukung pasangan Jokowi-Amin. Tak jelas siapa pertama yang mengungkap konsep Polarisasi ideologi Islam garis keras dan Islam moderat tapi dua mainstream ini secara faktual nyata adanya dan tidak bisa ditampik eksistensinya.

Di kalangan Nahdhiyin, Prabowo-Sandi adalah representasi Islam garis keras yang dibelakangnya ada ijtima ulama sebagai motor penggerak. Dan itu sesuatu yang dianggap mengancam NKRI maka berbagai cara dilakukan termasuk menghadang dan melakukan persekusi terhadap gerakan-gerakan yang dianggap mendukung pasangan PADI. Sementara bagi pendukung Prabowo, Jokowi adalah rezim yang tidak bersahabat dengan para ulama dan umat Islam, banyak kebijakan yang dianggap merugikan dan menzalimi termasuk kriminalisasi ulama, persekusi deklarasi ganti Presiden, tenaga kerja China, isu PKI bahkan hegemoni China yang mengancam kedaulatan negara.

*^^*
Daniel Bell luput membaca fakta ini meski berkali dia bilang bahwa ideologi telah berakhir. Nyatanya Islam malah berubah menjadi ideologi baru yang lebih spesifik dan cenderung sektarian.

Kondisi ini dipersubur oleh sebagian ulama yang berbeda dari dua mainstream itu yang mulai tertarik dengan politik praktis. Mengusung tema agama khususnya Islam dalam ranah politik praktis perlahan mendapat ruang dan apreasiasi publik. Mungkin karena kerinduan atau romantis me masa lampau. Atau karena Islam yang terus mengalami penindasan sejak awal kemerdekaan diteruskan rezim orla, rezim orba hingga masa reformasi, Islam selalu di-sisih-kan atau dikebiri secara politik dan ini adalah momentum terbaik sebagai langkah awal untuk mendapat-kan bentuk ideologisnya.

Tak pelak konflik internal ditubuh umat Islam tak bisa dihindari, silang sengkarut tentang politisasi agama kian mengental, mainstream baru yang tidak bisa dicegah. Semua ada resiko yang harus ditanggung termasuk konflik internal yang mewujud dalam bentuk Islam Garis Keras dan Islam Moderat bisa saja berubah menjadi konflik beneran yang tak terhindar-kan. Tapi itulah’resiko yang harus ditebus.
Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here