Komunitas Padhang Makhsyar #174: Ketika Pendulum Muhammadiyah Bergeser ke Prabowo-Sandi

0
84
Foto prabowo dan sandi diambil dari dawainusa.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Netralitas MUHAMADIYAH dalam berpolitik yang selama ini menjadi teladan bagi ormas-ormas sejenis mulai di soal. Kecenderungan kepada salah satu Paslon pada Pilpres tahun 2019 mulai terlihat. Dukungan tak bisa di elak dan Prabowo Sandi menjadi tempat berlabuh bagi sebagian kader yang mengapresiasi pilihan politiknya secara personal.

Memang tak ada anjuran atau larangan ber-politik bagi warga Persyarikatan, tapi melihat aktifitas, pernyataan dan sikap sebagian pimpinan telah menunjukkan kecenderungan pilihan politik kepada publik. Perubahan sikap politik warga MUHAMMADIYAH menjelang Pilpres 2019 memang menarik disimak.

Ada perubahan signifikan, prilaku politik pimpinan Persyarikatan yang semula malu-malu kini mulai berterus terang menyuarakan pilihannya. Sebuah prilaku di luar ke laziman MUHAMMADIYAH yang selama ini dikenal netral dan obyektif perlahan mulai luntur. Arus politik mungkin terlalu deras sehingga tak kuat menahan. Atau godaan politik yang membuat pimpinan Persyarikatan harus mengambil langkah politis untuk kepentingan politik Muhammadiyah.

*^^*
Mungkin fenomena kecenderungan pergeseran prilaku politik sebagian pimpinan dan warga Persyarikatan di atas bisa dibantah, bukankah secara struktural, Muhammadiyah tidak pernah mengarahkan apalagi memberi kan dukungan kepada salah satu Paslon, tapi publik juga akan menjawab: itu jawaban klise .. .. sebab secara faktual dan kasat mata semua publik tahu pilihan pimpinan kita mengarah kemana. Dan itu mudah bagi publik untuk mencandra.

Apakah salah jika pimpinan Persyarikatan menyatakan pilihan politik di depan publik secara terbuka ? Saya pikir tidak .. bukankah menyatakan pilihan politik juga merupakan hak paling azasi yang dijamin undang-undang. Lantas kenapa tak dinyatakan terbuka saja sehingga internal warga Persyarikatan tak sulit meramal, dan bagi kalangan eksternal juga mudah untuk bersikap kepada MUHAMMADIYAH.

Satu sisi para pimpinan berkata netral, tapi pada berbagai pernyataan dan prilaku nya telah jelas kemana arah pilihan politiknya. Sebuah ambigu kata beberapa orang teman.

*^^*
Jihad politik macam apa yang digagas MUHAMADIYAH juga belum bulat secara konseptual, dan itu butuh pikiran bening lagi jernih untuk membangun mainstream yang tidak melawan tradisi yang digariskan para faunding-father agar MUHAMMADIYAH tak salah dalam mengambil langkah, semoga Allah tabaraka wataala menjaga Persyarikatan, para pimpinan dan semua warga di jalan yang diberkati … aamiin

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here