Komunitas Padhang Makhsyar #175: Kerja Intelektuil Muhammadiyah Mulai Mengering

0
133
Foto mantan Menteri Pendidikan Malik Fadjar (peci hitam) bersama Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Dr.Sukadiono ( batik putih orange) diambil dari dokumen pribadi denpeyi

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Pendulum MUHAMMADIYAH mulai bergeser. Ukuran kesuksesan diukur dengan saberapa tinggi gedung dibangun. Seberapa megah masjid di hampar. Seberapa banyak amal usaha telah di dirikan. Hampir semua dalam bentuk fisik,
Kebanggaan pada jumlah PAUD, TK, Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi bahkan layanan umum seperti rumah sakit berkelas internasional dan panti asuhan,

Jadilah MUHAMMADIYAH perusahaan raksasa dengan aset berjibun, puluhan ribu karyawan, dosen, dokter, pokrol, guru hingga marbot di masjid-masjid mewah di perkotaan dan tukang adzan di surau-surau yang jauh. Entah berapa puluh triliun uang beredar setiap tahunnya.

Para Pimpinan Persyarikatan telah berhasil pada kerja fisik. Demikian meluas dan menjadi model pergerakan yang berhasil. Hanya ada dua atau tiga kumpulan keagamaan di dunia yang punya aset besar dari hasil kerja sendiri: Muhammadiyah, Katholik, dan NU. Setidaknya pernyataan Sri Paus Paulus Yohanes II dapat dijadikan sebagai bentuk pengakuan bahwa kerja keras MUHAMMADIYAH mendapat banyak apresiasi.

*^^*
Pada era modem ini semua bisa melakukan hal yang sama bahkan lebih dan melampaui, sebut saja kondisi NU sekarang jauh berbeda dengan ketika NU pada masa awal MUHAMMADIYAH berdiri, saat semua yang berbau barat diharamkan: Belajar dengan sistem klasikal haram, pakai celana haram, menterjemahkan Al Quran ke dalam bahasa lokal juga haram, naik kereta api haram karena dianggap menyerupai orang kafer maka Kyai Dahlan pun di persekusi sebagai Kyai Kafer karena banyak aktifitas dan gagasan yang ditawarkan mirip Belanda.

Sekarang mereka sudah bisa membangun universitas, rumah sakit, lembaga pendidikan, baitul mall, pesantren-nya juga berubah modern sangat berbeda dengan kondisi NU di awal berdiri yang berkesan jumud, tradisional dan entah apalagi. Semangat modernitas yang digagas Kyai Dahlan telah menjadi bagian penting pergerakan NU mutaaakhir yang awalnya menolak.

Kita sudah tak lagi bisa dengan mudah membedakan, bahkan terminologi santri yang jumud, kumuh, tradisional inipun sudah tak berlaku lagi. Inilah yang kemudian oleh Abdurahman Wahid dibilang sebagai kemenangan dialektik Muhammadiyah atas NU, yang awalnya mereka salahkan kemudian dibenarkan ramai-ramai.

Awalnya mereka mengharamkan semua gagasan modernitas Kyai Dahlan: sebut saja model sekolah yang mengajarkan ilmu umum yang awalnya dianggap menyerupai orang kafer Belanda tapi kemudian mereka meniru dan membenarkan. Apapun yang dilakukan Muhammadiyah mereka tiru tanpa sisa. Banyak kader NU yang belajar di universitas milik Persyarikatan kemudian mereka membangun yang sama bahkan lebih baik dari yang kita punya.

*^^*
Yang membedakan adalah semua kerja MUHAMMADIYAH adalah hasil dari proses berpikir kreatif. Sebab sejak awal berdiri, Kyai Dahlan membangun mainstream modernitas, berangkat dari tesis Syaikh Abduh : Al Islamu mahjubun bil muslim. Kyai Dahlan berpikiran luas dan terbuka terhadap perubahan, beliau juga berlapang dada ketika berbeda pendapat. Membangun wacana, disukursus dan dialog yang konstruktiif dengan berbagai kalangan ideologi dan agama. Dari titik pikir inilah kemudian Muhammadiyah di bangun dan berdiri.

MUHAMMADIYAH adalah kerja intelektuil, berpikir modern dan anti tesis terhadap kondisi keumatan bahkan bukan tidak mungkin juga antitesis terhadap kondisi kekinian Muhammadiyah. Sebab perubahan tak boleh berhenti.

Kerja intelektuil MUHAMMADIYAH di bidang rekonstruksi keber-agama-an, politik kebangsaan, ekonomi keumatan, pendidikan yang terbarukan dan pengelolaan sumber daya alam yang berbasis rakyat sangat dibutuhkan di saat yang lain hanya sibuk bicara teknis maka MUHAMMADIYAH hadir memberi ruang cerdas. Inilah tantangan besar ke depan pada ruang tanpa huni. Pikiran-pikiran besar yang lahir dari rahim Muhammadiyah diharapkan mengisi ruang kosong ini dan kita punya potensi sangat besar untuk melakukannya karena punya sumber daya manusia berlimpah … insya allah aamiin … .. 🙏🙏🙏

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here