Komunitas Padhang Makhsyar #176: Siapa Berhak Menyandang Ulama

0
170
Foto anak kecil jadi ustad diambil dari dokumen pribadi lisyi'

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Selamat puasa hari Tasua,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanggal 10 Muharram itu, hari yang diagungkan orang Yahudi dan Nasrani.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika datang tahun depan, Insya Allah kita akan puasa tanggal 9 (Muharram).”

*^^*
Siapa berhak menyandang gelar ulama. Apakah yang berada di belakang capres Joko Widodo dan Kyai Haji Ma’ruf Amin atau yang pasang badan mendukung capres Prabowo Subiyanto dan Sandiaga Salahudin Uno. Apakah yang punya pesantren dengan ribuan santri atau yang punya massa yang siap digerakkan setiap yang ulama mau.

Semua Nabi diperkusi, difitnah dikriminalisasi, diusir dari kampung halaman bahkan ada Nabi yang dibunuh dengan cara di salib, digergaji lehernya hingga putus terbelah empat. Nabi Yusuf dibully kemudian dipenjara selama 23 tahun. Nabi Musa diperkusi hingga ke Madyan. Nabi Luth diusir dari Sodhom. Nabi Isa as dibuly sebagai anak haram hasil zina kemudian di intimidasi untuk dibunuh dengan cara disalib. Nabi Muhammad juga diperkusi dan diusir hingga Yastrib.

Yang membedakan adalah, dari literasi yang saya baca tidak satupun nabi yang cemen yang kemudian menggunakan umatnya untuk menyelamatkan dirinya. Tapi sebaliknya para Nabi merelakan dirinya, hartanya dan seluruh jiwanya sebagai jaminan keselamatan umat pengikutnya.

*^^*
Para Nabi tidak satupun yang menjadikan umat dan para pengikutnya sebagai benteng pertahanan untuk menyelamatkan jiwanya, menjaga marwahnya dan berbagai kepentingan lainnya.

Para nabi juga tidak pernah menjadikan umatnya sebagai sumber keuangan atau ekonomi lainnya dengan dalih apapun apalagi untuk kepentingan-kepentingan lainnya.

Pada akhirnya kita memang harus jujur terhadap diri kita sendiri apakah kita akan memperjuangkan untuk tegaknya syariat Islam atau sebaliknya kita menjadikan Islam sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan kita. Dari dua paradigma itulah awal segala selisih dan pertengkaran.

Jika dari awal berniat ingin syariat Islam yang tegak maka Insya Allah tak ada selisih. Tapi jika dari awal ada niat sedikit untuk menjadikan Islam sebagai alat pejuangan maka bagimu pertengkaran, persekusi, perselisihan, konflik dan debat tak berujung. Termasuk berebut menjadi yang paling layak disebut ulama. Betengkarlah selagi masih ada sempat.

*^^*
Sayangnya Rasulullah saw wafat, sebelum bisa melaksanakan puasa di hari tasua. Puasa ini Insya Allah dapat menghapus dosa setahun. Jadi puasa lah selagi ada sempat … Insya Allah barakah.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here