Komunitas Padhang Makhsyar #179: Merokoklah Agar Orang Sakit Bisa Kembali Berobat

0
175
Foto parodi 1 pak rokok diambil facebook

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

BPJS hampir kolaps. Uang iuran tertanggung ternyata tak cukup. Defisit BPJS tak bisa dibendung. Cukai rokok menjadi salah satu pilihan agar orang Indonesia yang sakit bisa kembali sehat dan tetap bisa berobat.

*^^*
Sejak mula rokok memang hangat dibincang. Meski sudah di fatwa haram oleh Majlis Tarjih itu juga tak mampu membendung arus deras, bahkan produksi rokok terus melambung tidak terbendung.

Meski sudah dilabel haram dan membahayakan kesehatan, rokok juga
rmengandung banyak maslahat. Lepas dari segala kurang dan sisi negatif yang diakibatkan nya ternyata rokok juga sangat banyak membantu, baik dari aspek sosial, lapangan kerja, kelanjutan pada jutaan petani tembakau dan petani cengkeh berikut para buruh pabrik dan jutaan keluarga yang tersebar di seluruh tlatah nusantara.

Ironisnya, meski sudah keluar fatwa haram, iklan rokok putih malah merajalela memenuhi layar televisi dan banner di jalan-jalan besar. Fatwa haram tidak menurunkan jumlah produksi. Konsumen rokok putih malah bertambah dua kali, meski harga sudah dibandrol tinggi.

*^^*
Fatwa haram hanya berkaku bagi petani tembakau dan petani cengkeh pribumi. Peran tembakau rakyat bahan utama rokok kretek itu telah diambil alih rokok putih yang berbahan dasar tembakau Virginia. Bukan hanya tembakaunya, pabriknya pun di akuisisi konsorsium besar dunia. Philip Morris mengambil Sampurna dan BAT mengambil alih Bentoel. Meski pabrik rokok mengalami kenaikan jumlah produksi, tembakau rakyat mengalami kerugian tak terkira.

Peringatan rokok membunuh-mu juga banyak melahirkan banyak kontroversi karena tidak sebanding dengan iklan yang terus. Merokoklah agar orang-orang sakit bisa menebus resep obat di apotek, agar para dokter kembali bisa menerima upah dan rumah sakit kembali bisa berjalan. Mungkin ini lebih rasional. Bukankah faktanya memang demikian.

*^^*
Jutaan Petani tembakau dan cengkeh, produsen saus, kertas, pabrik sebagai produsen, para buruh dan pekerja yang terlibat dalam proses pembuatan rokok mestinya juga haram. Kemudian bagaimana dengan penikmat pajak rokok yang konon berjumlah triliun-an.

Pajak rokok menjadi sumber alternatif ketika BPJS kesulitan likuiditas. Banyak orang sehat tak mau urunan, sementara jumlah orang sakit terus bertambah. Biaya perawatan terus melambung, BPJS kelimpungan, habis modal. Ini soal besarnya. Karena tidak semua sadar urunan. Sebagian besar baru ingat urunan ketika badan mulai sakit. Bahkan sebagian baru ikut urunan setelah masuk rumah sakit. Baru urunan sebulan atau dua bulan tapi dengan biaya sakit puluhan juta, darimana dana di dapat.

Lantas bagaimana dengan para pengguna BPJS yang sebagian dananya diambil dari pajak rokok ? Rumah sakit sebagai penyelenggara, dokter, bidan, perawat yang terima upah dan pasien yang dirawat apakah juga ikut haram ? Mungkin perlu fatwa lanjutan …
Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kotq Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here