Komunitas Padhang Makhsyar #180: Bukan Ulama Biasa

0
102
Foto ilustrasi abu nawas diambil dari tebuireng.online

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Banyak soal berat bisa dijawab dengan jenaka. Pintar juga cerdas. Itulah Abu Nawas. Ulama besar yang hidup pada masa khalifah Harun al Rasyid. Suatu hari sang Sultan datang mendadak ke rumah Abu Nawas. Setelah bertemu dan bercengkerama beberapa saat, Sang Sultan berkata: ‘Aku ingin buang air besar di masjidmu”. Abu Nawas kaget bukan kepalang bagaimana mungkin, pikir Abu Nawas. Tapi Sultan serius ingin buang air besar dan Abu Nawas bingung menjawab. Melarangnya dengan membawa dalil dan ayat ayat tak mungkin, apalagi hanya sekedar bilang bahwa Sultan telah melakukan penodaan atau penistaan agama itu mah sangat mudah, sebab itu hanya jawaban ulama biasa pikirnya. Iapun berpikir keras berharap segera mendapat jawabannya.

Dengan pikiran haru biru Abu Nawas mendekati sang Sultan sambil mengantar ke masjid tempat di mana akan di buat buang air besar. Abu Nawas tersenyum sedikit sebelum berkata: “Silakan Sultan, mau buang air besar dimana dan Sultan memilih buang air besar .. persis di samping mihrab tempat Abu Nawas biasa menjadi Imam shalat rawatib … dengan santun Abu Nawas berkata lembut : … ‘tapi Tuan hanya boleh buang air besar dan tak boleh buang air kecil .. kata Abu Nawas pendek.. Sultan kaget …, bagaimana mungkin buang besar tanpa buang air kecil. Lantas Sultan pun urungkan niatnya buang air besar di masjid.

Sultan sama sekali tak bermaksud ingin buang air besar beneran, beliau hanya ingin menguji kecerdikan Abu Nawas untuk ke sekian kali dan Abu Nawas memang tetap jenaka, ia tak melarang, tapi dengan jawaban ‘tak boleh sambil buang air kecil’ saat buang air besar sudah mencukupi karena buang air besar tanpa buang air kecil hanya dialami oleh orang yang hendak mati.

*^*
Saya pikir kita butuh ulama sekelas Abu Nawas sekarang. Kita butuh ulama yang sedikit bisa melucu atau jenaka mengurai soal sepelik apapun. Allah Maha Lucu. Maha Tertawa. Maha Tersenyum. Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Maka jangan sekali-kali mati sebelum berprasangka baik kepada-Ku.

Sekeras apapun perselisihan. Sepanas apapun kemarahan. Se tinggi apapun emosi, kita kedepankan senyum untuk mengurai segala soal. Mungkin berat bahkan sayapun juga belum tentu dapat, sebab memperturutkan marah jauh lebih mudah ketimbang senyum disaat seharusnya marah.

Para ulama, Presiden, Gubernur, walikota, politisi, saudagar, bayangkan jika semuanya tak bisa tersenyum, tidak punya selera humor sehingga apapun diselesaikan dengan amat serius kira-kira apa yang bakal terjadi.

*^*
Jangan dipikir bahwa nabi saw tak bisa humor. Seorang nenek bertanya kepada baginda nabi saw: apakah saya bisa masuk surga? Rasulullah menjawab: “Di surga tak ada orang tua dan nenek-nenek, sabda Rasulullah. Nenek itu pulang menangis sesengguk-kan. Di perjalanan ia bertemu Aisyah dan ditanya kenapa menangis, nenek itu menjawab bahwa ia tak bisa masuk surga sebab ia telah tua dan nenek-nenek. Aisyah pun menyampaikan kepada Rasulullah. Sambil tersenyum beliau bersabda: “penghuni surga semuanya muda seusia Isa tak ada orang tua dan nenek-nenek”. Aisyah pun tertawa mendengar jawaban Rasulullah.

Tuhanpun tertawa. Tak melulu serius apalagi merengut sepanjang masa. Bagaimana mungkin se ekor panda yang amat lucu itu tercipta kalau Sang Penciptanya tidak lucu. Allah taala hadir bersama hamba-Nya dalam berbagai keadaan. Baik di saat tertawa atau di saat marah. Di saat berduka atau di saat gembira. Di saat kita bersyukur atau di saat kita kufur. Di saat kita mengingat-Nya atau saat kita melupakan-Nya. Allah tetap hadir. ..

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here