Komunitas Padhang Makhsyar #181: Kaum Muda Muhammadiyah di Jalan Tahta

0
171
Foto H.M Arif An (kiri) Aktivis Muda Muhammadiyah Surabaya yang maju dalam konstentasi pileg 2019 diambil dari dokumen pribadi denpeyi

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Memimpin adalah menderita begitu pesan singkat Kyai Hadji Agus Salim dalam sebuah tulisan menarik pada majalah Suluh vol VII th 1923, satu abad silam. Beberapa pemimpin diasingkan, dibui, diperkusi bahkan dieksekusi mati. Sebut saja Soekarno, Hatta, Soeharto termasuk Habibie, Mega, SBY dan Jokowi. Tak ada satupun yang selamat dari persekusi.
Sebab memilih jalan tahta perlu keberanian, nyali besar dan tekad baja. Jika tak punya lebih baik dirumah, bantu istri bersih-bersih rumah itu lebih nyaman.

*^^*
Menarik disimak kaum muda persyarikatan yang masuk dunia politik praktis menuju tahta tahun 2019 dengan tidak bermaksud mengkomparasi apalagi memberi nilai terhadap salah satunya sebab bagi saya mereka adalah aset masa depan dan investasi politik bagi persyarikatan.

Ada banyak Kaum Muda Persyarikatan yang memilih jalan terjal. Sebut saja Dr Dahnil Anzhar Simanjutak Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dr Raja Juli Antonio, Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan Ahmad Rofiq ST Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

*^^*
Dr Dahnil Anzhar Dimanjutak tokoh muda mileneal, pintar dan pemberani, merepresentasi pemuda anti status quo, dialah yang pertama kali mempolisikan Ahok hingga lahir gelombang gerakan aksi bela Islam yang fenomenal. Daya kritisnya tak perlu diragukan lagi. Kuat dalam berdebat dan diskusi bertarung misi.

Bagi Pemuda Muhammadiyah, Dahnil adalah energi baru yang merubah, merekat dan simbol perlawanan. Punya narasi bagus dan pintar pidato juga punya banyak panggung di Persyarikatan.

Pilihan-nya menjadi koordinator juru bicara tim Kampanye Prabowo-Sandi di saat masih aktif menjabat ketua salah satu ortom adalah keberanian tersendiri di internal Persyarikatan yang selama ini dikesankan netral dan tidak berpihak. Dahnil adalah pendobrak status quo itu. Meski masih menyandang sebagai Ketua Pemuda salah satu ortom bergengsi. Keberaniannya menggaransi bahwa Prabowo tidak terbukti melanggar HAM dan benteng bagi isu selingkuh Sandi juga patut di apresiasi. Dahnil menyediakan diri dan itu awal yang bagus untuk seorang calon pejuang.

*^^*
Dr Raja Juli Antoni mantan Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Anak cerdas meraih gelar Doktornya di usianya yang belia dari universitas terkenal di Eropa. Tak banyak dikenal di kalangan Persyarikatan lebih karena dia adalah seorang periset yang handal dan penggiat akademik yang mumpuni. Memimpin berbagai pusat kajian termasuk Maarif institut yang bergengsi itu.

Dia tak punya panggung di Persyarikatan. Dia tipe kader pekerja keras yang mandiri dan tak mau mengganggu atau ‘ngrepoti’ Persyarikatan. Sampai hari ini saya belum lihat Raja Juli meminta apalagi memohon dukungan atau sekedar restu dari Persyarikatan dia bertarung di luar sendirian. Dan mendapat pengakuan luas.

Dukungannya terhadap Jokowi-Ma’ruf memang berbeda dan sedikit melawan arus besar di persyarikatan tapi tidak membuatnya surut langkah. Kehadirannya di lingkar elite kekuasaan patut di apresiasi, tanpa rekomendasi atau jamuan makan pengantar bincang. Sekjen PSI ini punya visi cerdas dan tahan uji. Sebab Raja Juli punya basic akademik yang kuat.

*^^*
Berbeda dengan para pendahulunya, Ahmad Rofiq Sekjen Perindo mengais karier politik dari bawah. Dari aktifis IMM setingkat komisariat hingga melesat menjadi ketua DPP. Agak lemah di bidang pemikiran, Rofiq adalah tipe kader pekerja keras , ulet dan pantang menyerah.

Pernah menjadi Wakil Sekjen Nasional Demokrat kemudian di depak dan bersama Hari Tanu membangun Perindo. Ahmad Rofiq punya pengalaman politik kuat dan rigid ibaratnya ia bisa hidup dan berperan dimana pun. Sama dengan Raja Juli, Rofik juga tak banyak menggunakan fasilitas panggung Persyarikatan bahkan beberapa malah harus menerima kritik dan hujatan karena sikap politiknya yang tidak sejalan dengan sebagian pimpinan Persyarikatan tempat ia berkhidmat. Berbeda pula dengan Dahnil Anzhar yang bisa dengan leluasa menggunakan panggung di Persyarikatan tanpa syarat.

*^^*
Ketiganya memiliki ruang dan waktu yang berbeda, saya tidak bermaksud memberikan penilaian mana yang terbaik. Sebab politik tak butuh raport. Mereka adalah kader dengan perlakuan kita yang kadang tidak sama, diluar ketiganya juga masih banyak kader lain dengan kondisi dan ruang yang berbeda pula. Saya hanya bisa berdoa semoga siapapun, yang berkhidmat di Partai politik manapun tetap diakui sebagai kader bukan musuh yang harus enyah … saatnya MUHAMADIYAH menjadi rumah besar bagi siapapun yang kebetulan punya sikap politik berbeda .. .. pesan politisnya adalah jangan pernah berharap panen bila tidak pernah berinvestasi .. sebab politik adalah soal investasi.
Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here