Komunitas Padhang Makhsyar #182: Ada yang Tidak Rela Negeri Ini Dipimpin Kaum Bersarung

0
57
Foto model bersarung diambil dari Querra

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Rekomendasi Ijtima Ulama jilid I terhadap Ustadz Abdul Shomad atau Habib Salim Segaf Al Jufri sebagai calon Wapres sesunguhnya adalah ikhtiar para ulama agar kaum bersarung bisa kembali berperan, sayangnya Prabowo Subiyanto yang berlatar belakang nasionalis-sekuler itu tak ingin. Maka Sandiaga Salahudin Uno yang juga sama-sama dari nasioanalis sekuler itu pun rela ‘dipacak-i’ ulama sekedar memenuhi persyaratan simbolik bahwa kaum santri juga bisa memimpin.

Kaum santri kembali terpental dari bursa meraih kepemimpinan Nasional. Dan ketika peran itu diberikan Jokowi terhadap Kyai Ma’ruf Amin, isu tentang kyai berpolitik pun menjadi laris manis dan kaum bersarung menjadi sasaran bully dan ledekan. Bukankah Jokowi substansinya sedang melaksanakan amanat ijtima ulama jilid 1, dengan memberi kesempatan kepada kaum santri untuk bersama-sama memimpin negeri ini, sayangnya kita gagal paham hanya karena kebetulan santri yang dipasangkan tak sesuai selera.

Kyai Ma’ruf Amin adalah simbol kaum bersarung itu, saya tak tahu apakah beliau bakal terpilih atau terpuruk. Tapi akibat keduanya bakal dipikul sekaligus, karena beliau mewarisi beban sejarah masa lampau bahwa kaum bersarung tak boleh berkuasa. Bagi Kyai Ma’ruf, ujian berat bukan datang dari kalangan abangan sekuler yang sejak awal sudah jelas tidak mendukung, tapi justru datang dari internal kalangan santri sendiri yang melakukan dekonstruksi dan delegitimasi baik kultural, politis maupun teologis.

*^^*
Siapa bisa bantah bahwa hampir semua pejuang kemerdekan diawali dari pesantren. Mereka adalah para santri dan semuanya bersarung dan berkopyah, sebagian ada yang bergamis dan mengenakan surban.

Christiaan Snouck Hurgrounje dan Van Der Plass dua peneliti dan cendekiawan dari misionari kompeni ditugaskan mencandra mencari titik lemah, bagaimana kaum bersarung seperti tak kenal rasa takut, dengan energi yang tak pernah menyusut melawan kompeni. Kaum bersarung yang identik dengan kaum santri kerap dilecehkan sebagai kumpulan yang kumuh, kolot, tradisional tapi punya api Islam yang tak bisa padam.

Riuh modernisasi dan globalisasi tak membuat pesantren bergeming, mereka tetap istiqamah di jalan Tuhan meski tidak mendapat apresiasi apalagi penghargaan cukup. Eksistensi pesantren berikut seluruh penghuninya: kyai, santri dan masyarakat sekitar sebagai pengikut menjadi kekuatan ampuh untuk melawan segala yang dianggap munkar. Cara efisien berdakwah dan biaya murah dengan hasil maksimal.

*^^*
Bagi kompeni, keberadaan santri sangat mengkhawatirkan maka berbagai cara dilakukan untuk menjinakkan, setidaknya mengurung peran dan pengaruhnya, agar tak mengganggu stabilitas yang dibangun.

Di awal kemerdekan seteru antara kaum bersarung dan nasionalis abangan juga jelas terlihat, terutama dalam perdebatan tentang rumusan Pancasila sebagai falsafah bangsa dan UUD 45.
Piagam Jakarta adalah dokumen sejarah otentik bagaimana kaum bersarung harus menerima kekalahan dengan mengemas tujuh kata pada sila pertama Pancasila.

Meski dengan nada menghibur diri dikatakan sebagai hadiah terbesar umat Islam kepada NKRI agar tetap utuh tidak berpecah. Tapi substansinya adalah sebentuk kekalahan umat Islam atas kaum nasionalis sekuler dan kelompok Kresten Ortodoks. Kata yang lebih tepat adalah kekalahan terbesar umat Islam Indoenesia, bukan hadiah yang di besar-besarkan.

*^^*
Pasca kemerdekaan kaum
bersarung kembali ke barak. Mereka gigih saat merebut kemerdekaan tapi gamang saat mengisi kemerdekan, pelemahan terjadi di berbagai sisi, kaum santri tak cukup mampu bersaing, bahkan ada kecenderungan uzlah. Menjauh dari sibuk membangun negeri.

Pada sisi yang lain ada usaha sistematis untuk membuat stigma negatif terhadap kaum bersarung. Ironis memang. Hampir 73 tahun usia kemerdekaan nyaris tak satupun kaum bersarung bisa berperan siginifikan pada sebuah Negri dimana mereka pernah pertaruhkan nyawa, harta, tenaga dan segenap pikiran. Kaum bersarung selalu mengalami persekusi dan nasib buruk. Peran santri kian dimarjinalkan dan ada kecenderungan untuk dihilangkan dari sejarah perjuangan kemerdekaan. Bahkan sekedar menjadi camat saja tak ada ruang.

*^^*
Jokowi memberi kesempatan dan ruang kepada kaum santri untuk berkompetisi meski dengan berbagai kalkulasi politik yang hanya Jokowi saja yang tahu, tapi itu tak penting. Setidaknya Kyai Ma’ruf Amin telah membawa kembali harapan dan energi baru bagi kaum bersarung bahwa persaingan selalu terbuka untuk bisa memimpin, apakah tak boleh kaum bersarung menjadi calon Wapres di negeri yang diperjuangkan para kakek buyutnya tanpa deskriminasi … ? 🙏🙏🙏
Wallahu a’lam.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here