Komunitas Padhang Makhsyar #183: Surga Buat Pelacur

0
150
Foto bunga mawar diambil dari Youtube

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Kyai Ali Yahya Lasem di kenal tampan. Bila kopyah dan sorbannya di lepas, ia mirip bule. Di suatu malam beliau melakukan perjalanan mengaji ke kota Jepara diantar santrinya sebagai sopir.

*^^*
Pada lampu merah di sebuah pertigaan beliau berhenti, sesaat seorang pelacur perempuan paruh baya berdandar menor dengan pakaian ala kadarnya menghampiri. Lalu berkata : ‘Selamat malam om , apakah boleh saya menemani hingga pagi .. .. apakah om
butuh saya malam ini ? Katanya terus membombardir. ‘Yaa .. saya butuh teman sampai pagi, malam ini .. ‘ jawab Kyai Ali Yahya pelan. Pelacur itupun naik masuk
lewat pintu tengah.

Mobil kencang berjalan, lokasi pengajian hampir dekat, Kyai Ali Yahya Lasem kembali mengenakan surban dan kopyahnya. Pelacur itu kaget bukan main dan sontak bertanya gemetar: ‘Apakah om seorang kyai .. maafkan saya .. saya akan turun disini sekali lagi saya minta maaf .. pelacur terus menyesali telah naik kendaraan yang salah.

‘Aku butuh teman sampai pagi ,, ‘ jawab Kyai Lasem pendek. Pelacur itu makin gemetar dan takut, keringat dingin menggigil di sekujur tubuhnya berebut tempat dengan bau bedak dan gincu. ‘Tapi saya malu ikut pengajian, saya tidak pakai kerudung apalagi gamis .. ” pelacur terus memohon agar dibebaskan dari suasana mencekam itu. ‘Kenapa malu .. jadi pelacur nggak malu kok pengajian malu, sergah Kyai Lasem. Mobil berhenti, ratusan orang menunggu antri bersalaman. Kyai Ali Yahya turun dari mobil dengan cepat dan berkata:’ . .. Ibu-ibu saya pinjam kerudung dan gamis, Bu Nyai lupa tidak pakai karena tergesa tadi .. ‘.

*^^*
Pelacur itu turun dari mobil mengenakan gamis lengkap dengan kerudung .. ibu-ibu antri bersalaman dan mencium tangan pelacur yang mendadak jadi Bu Nyai … pemandangan yang indah mempesona. Pelacur semakin kebingungan telah berada di tempat yang salah. Duduk bersebelahan dengan para istri kyai dan asatidz. Dijamu dan dimuliakan di tempat yang sepadan, malam itu ia kembali mendengar lantunan Al Quran, shalawat dan tausiyah yang sudah lama tak ia dengar berganti dengan musik jazz, rock dan bir.

Saat mau kembali pulang ratusan Ibu duduk ta’dzim berkeliling menunggu doa barakah dari Bu Nyai dadakan itu. Keringat dingin mengucur, tubuhnya menggigil satu-satunya doa yang dia ingat adalah alfatihah yang dibaca sangat lirih karena ada beberapa kalimat yang sudah tak jelas karena lapuk dimakan lupa. Tapi hadirin tidak beringsut, mereka yakin doa Bu Nyai pasti mustajabah.

Saat menuju mobil hendak pulang para ibu berderet berebut mencium
tangan Bu Nyai. Lantunan shalawat badar syahdu mengiringi. Perasaan getir menyelimuti hati Bu Nyai dadakan, tak terasa air matanya menetes, lentik matanya mulai sembab. Wajah ayunya memerah. Tangisnyapun tumpah.

*^^*
Setelah suasana agak tenang, Kiyai Ali menasihati, “Apakah sampean tidak melihat dan berpikir tentang bagaimana orang-orang tadi memperlakukanmu, menghormatimu, mengerumunimu, mengantarkanmu, dan rela juga mereka antri hanya untuk dapat mencium tanganmu satu demi satu, bahkan minta berkah doa darimu, padahal tahu sendiri kamu siapa?”

Kembali sang wanita menangis, merasa hina, miris, dan sedih mengingat perbuatan dosa yang selama ini dilakukannya. Tapi Allah menutup aibnya, Allah sangat menyayanginya.

“Hari ini,” lanjut Kiyai Ali, “Sampean dapat nasihat yang mungkin nasihat berharga selama hidupmu, maka segeralah taubat dan mohon ampun sama Allah. Jangan sampai nyawa merenggut sebelum taubat.” Tangisnya kian deras. Kiyai Ali membiarkannya.

Sambil terisak wanita itu berkata, “Terimakasih Kiyai atas nasihatnya, dan berkah dari kejadian ini. Mulai hari ini saya bertaubat dan berhenti dari pekerjaan bejat ini. Sekali lagi terimakasih Kiyai.”

*^^*
Menyeksamai kisah ini berarti kita belajar bijaksana. Para ulama, pendahulu, dan guru kita para mubaligh berdakwah dengan baik dan bijak, mengajak tanpa menginjak, menasihati tanpa menyakiti, dan menunjukkan kebenaran tanpa merendahkan derajat kemanusiaan.

Pengalaman dakwah yang eksotik dituturkan oleh karibku: Kyai Ali Yahya Lasem .. salam ta’dzim

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here